Prabowo Kecam Pemimpin Anjurkan Perusakan, Sebut Pengkhianat Bangsa

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap figur pemimpin yang disebutnya sebagai pengkhianat bangsa. Dalam sebuah acara peringatan Hari Koperasi, ia menegaskan bahwa pemi...

Jul 13, 2026 - 13:20
0 0
Prabowo Kecam Pemimpin Anjurkan Perusakan, Sebut Pengkhianat Bangsa

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap figur pemimpin yang disebutnya sebagai pengkhianat bangsa. Dalam sebuah acara peringatan Hari Koperasi, ia menegaskan bahwa pemimpin yang menganjurkan aksi perusakan ketika menghadapi kekalahan tak hanya mencederai demokrasi, tetapi juga mengundang balasan setimpal dari semesta.

Peringatan di Puncak Hari Koperasi

Di hadapan ribuan pelaku koperasi yang memadati arena peringatan, Prabowo menyampaikan pesan moral tentang integritas kekuasaan. Ia tidak menyebut nama, tetapi sindiran itu terasa begitu terang. Menurutnya, seorang pemimpin sejati seharusnya menjadi teladan dalam menerima hasil, bukan justru menjadi provokator yang merobek persatuan hanya karena ambisi pribadi.

"Ketika kalah, mengajak merusak, itu bukan pemimpin. Itu pengkhianat," ujar Prabowo dengan nada tinggi, mengundang tepuk tangan panjang dari hadirin. Ia menekankan bahwa hukum karma, atau dalam istilah yang ia gunakan sebagai hukum alam, akan bekerja dengan sendirinya terhadap mereka yang mengkhianati rakyat.

Karma yang Tak Terelakkan

Prabowo menjelaskan bahwa tindakan menghasut masyarakat untuk bertindak anarkis bukan hanya pelanggaran hukum positif, melainkan juga pelanggaran terhadap tatanan kemanusiaan. Setiap perbuatan, katanya, akan kembali kepada pelakunya dalam waktu yang tak terduga. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terjebak dalam lingkaran balas dendam, melainkan memperkuat pondasi gotong royong yang diwariskan oleh para pendiri negeri.

Pernyataan ini muncul di tengah situasi politik yang masih hangat pasca-pemilu. Meski tidak merujuk langsung ke peristiwa tertentu, sinyalemen Prabowo seolah menjadi respons atas masih adanya riak-riak ketidakpuasan yang dikhawatirkan bisa memecah belah masyarakat. Hari Koperasi sendiri, yang diperingati setiap 12 Juli, menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi bangsa justru terletak pada kebersamaan dan saling percaya, bukan pada perpecahan.

Ajakan Bersatu di Atas Perbedaan

Di bagian lain pidatonya, Prabowo mengajak seluruh komponen bangsa untuk menanggalkan ego sektoral dan fokus pada pembangunan. Ia menegaskan bahwa persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan pengakuan bahwa keberagaman adalah kekuatan. "Kita boleh berbeda pilihan, tapi jangan pernah menghancurkan rumah sendiri," tegasnya.

Sikap ini diamini oleh Menteri Koperasi dan UKM yang turut hadir. Ia menyebut bahwa koperasi adalah wujud nyata dari ekonomi kerakyatan yang anti-egoisme, sejalan dengan pesan antianarkisme yang disampaikan Presiden. Para pelaku koperasi dari berbagai daerah pun menyatakan dukungannya terhadap seruan persatuan, khawatir bahwa stabilitas politik adalah prasyarat utama bagi iklim usaha yang sehat.

Sejumlah pengamat politik menilai pidato ini sebagai langkah simbolis untuk meredam potensi konflik horizontal. Mereka mencatat bahwa penggunaan istilah 'pengkhianat' dan 'hukum karma' sengaja dipilih untuk menyentuh kesadaran moral masyarakat, bukan sekadar retorika politik. Hal itu terlihat dari respons publik yang cenderung menerima peringatan tersebut sebagai refleksi bersama.

Konteks dan Relevansi

Di era digital, hasutan untuk merusak dan menyebar kebencian bisa meluas dengan cepat, sehingga peringatan Prabowo menjadi relevan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kematangan jiwa, bukan justru dimanfaatkan untuk memecah belah. Koperasi, sebagai organisasi yang lahir dari semangat solidaritas, diharapkan bisa menjadi benteng melawan budaya destruktif tersebut.

Dengan tegas, Presiden menutup pidatonya dengan kalimat yang bergema: "Siapa pun yang mengkhianati persaudaraan bangsa, alam akan mencatatnya."

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari tokoh-tokoh politik yang disindir. Namun, pengamat memperkirakan pernyataan tersebut akan menjadi diskursus hangat dalam beberapa hari ke depan, baik di ruang publik maupun dunia maya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User