JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga terus mempercepat kesiapan sarana dan prasarana logistik guna mendukung implementasi kebijakan bahan bakar nabati (BBN) jenis bioetanol di Indonesia. Langkah strategis ini menjadi bagian krusial dalam mempercepat transisi energi bersih sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi nasional.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur dari hulu ke hilir menjadi prioritas utama perseroan agar pasokan produk bahan bakar ramah lingkungan dapat tersalurkan secara berkelanjutan dan merata kepada masyarakat.
"Kami berkomitmen penuh menyediakan infrastruktur rantai pasok yang andal, mulai dari penerimaan bahan baku etanol, tangki penyimpanan khusus, fasilitas pencampuran (blending), hingga kesiapan dispenser di SPBU ritel," ujar Eko Ricky Susanto di Jakarta.
Tahap Awal: Penguatan Fasilitas Terminal dan Blending
Pengembangan bioetanol menuntut penanganan teknis yang spesifik mengingat karakteristik kimiawi etanol yang berbeda dengan bahan bakar minyak konvensional. Untuk itu, Pertamina memetakan sejumlah tahapan kesiapan infrastruktur logistik secara bertahap:
- Modifikasi Tangki Terminal BBM: Menyiapkan tangki penyimpanan khusus berkapasitas besar yang dilengkapi sistem pencegah kelembapan guna menjaga stabilitas mutu bioetanol murni (Fuel Grade Ethanol/FGE).
- Pembangunan Sistem In-line Blending: Mengintegrasikan teknologi pencampuran presisi tinggi di terminal bahan bakar utama untuk memastikan konsistensi rasio bauran antara bensin fosil dan bioetanol.
- Standarisasi Distribusi Logistik: Menyiapkan armada mobil tangki yang terkalibrasi khusus guna mendistribusikan bahan bakar terbaurkan menuju jaringan stasiun pengisian.
Ekspansi Jaringan SPBU dan Penetrasi Pasar
Setelah sukses memperkenalkan varian Pertamax Green 95 di sejumlah kota perintis seperti Jakarta dan Surabaya, Pertamina kini bersiap memperluas cakupan titik penyaluran. Modernisasi infrastruktur SPBU dilakukan melalui kalibrasi ulang tangki pendam, pipa penyalur, serta nosel pompa pengisian bahan bakar.
Hingga saat ini, Pertamina Patra Niaga menargetkan penambahan puluhan titik SPBU yang melayani bahan bakar bioetanol secara bertahap, menyesuaikan dengan ketersediaan pasokan bahan baku bioetanol domestik yang berbasis tebu dan singkong.
- Peningkatan Kualitas Layanan: Pelatihan teknis intensif bagi operator SPBU mengenai standar penanganan bahan bakar berbasis bioetanol.
- Keandalan Pasokan: Sinergi lintas sektor bersama produsen etanol domestik untuk menjamin kepastian pasokan jangka panjang.
- Edukasi Konsumen: Sosialisasi berkelanjutan mengenai performa mesin dan manfaat lingkungan dari penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dengan campuran bioenergi.
Mendukung Target Net Zero Emission 2060
Penerapan bauran bioetanol bukan sekadar diversifikasi energi, melainkan pilar penting dalam roadmap dekarbonisasi nasional. Melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, ketergantungan terhadap impor minyak mentah dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional serta memberdayakan sektor pertanian lokal.
Pertamina Patra Niaga optimistis, integrasi ekosistem bioetanol yang matang akan mempercepat pencapaian target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mereduksi emisi gas rumah kaca di sektor transportasi.
Comments (0)