Sep 17, 2026
Nasional

Pemerintah Berencana Ambil Alih Utang Whoosh dengan Tenor 80 Tahun

Pemerintah tengah menyusun skema strategis guna menyelesaikan beban finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Salah satu opsi restrukturisasi

Pemerintah Berencana Ambil Alih Utang Whoosh dengan Tenor 80 Tahun

Pemerintah tengah menyusun skema strategis guna menyelesaikan beban finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Salah satu opsi restrukturisasi yang kini mencuat adalah perpanjangan masa pembayaran utang hingga mencapai 80 tahun atau delapan dekade, dengan nilai cicilan tahunan yang ditekan agar tidak membebani kas negara secara mendadak.

Langkah restrukturisasi ini dipandang sebagai jalan tengah untuk memastikan keberlanjutan operasional transportasi modern pertama di Asia Tenggara tersebut, sembari menjaga stabilitas fiskal dan arus kas badan usaha milik negara (BUMN) yang terlibat dalam konsorsium proyek.

Skema Restrukturisasi dan Beban Cicilan Jangka Panjang

Dalam perhitungan yang dipaparkan oleh Purbaya, setelah proses restrukturisasi disepakati, tenor kewajiban pinjaman Whoosh akan ditarik sangat panjang. Penyesuaian jangka waktu pembayaran hingga 80 tahun bertujuan untuk memperkecil nilai pembayaran tahunan menjadi angka yang jauh lebih dapat dikelola oleh anggaran pemerintah maupun konsorsium.

"Setelah direstrukturisasi, utang Whoosh memiliki tenor pembayaran 80 tahun. Cicilan per tahunnya berjumlah Rp 1 triliun atau sedikit di bawahnya," tutur Purbaya dalam penjelasannya terkait skema penyelamatan keuangan proyek tersebut.

Dengan cicilan berkisar di angka Rp 1 triliun per tahun, pemerintah berharap tekanan likuiditas jangka pendek dapat teratasi. Proyek infrastruktur berskala mega seperti kereta cepat umumnya memiliki karakteristik payback period yang sangat panjang, sehingga penyesuaian tenor utang dipandang rasional dalam manajemen portofolio aset publik.

Sejumlah poin penting dalam rencana restrukturisasi utang Whoosh ini meliputi:

  • Perpanjangan Tenor: Durasi pelunasan utang ditetapkan hingga 80 tahun.
  • Besaran Angsuran: Nilai cicilan diperkirakan berada pada kisaran Rp 1 triliun atau sedikit di bawahnya per tahun.
  • Mitigasi Risiko Fiskal: Mengurangi beban langsung terhadap ekuitas PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan konsorsium PT KCIC.
  • Kelangsungan Operasional: Memastikan layanan harian Whoosh tetap berjalan optimal tanpa terganggu masalah restrukturisasi kewajiban keuangan.

Pengawasan Tata Kelola dan Akuntabilitas Finansial

Meskipun pemerintah berupaya mengambil alih dan meringankan beban pinjaman, aspek akuntabilitas serta tata kelola proyek tetap menjadi sorotan utama. Pembengkakan biaya (cost overrun) yang terjadi selama masa konstruksi sebelumnya menuntut pengawasan ketat dari berbagai lembaga pengawas, termasuk Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hingga aparat penegak hukum.

Lembaga antirasuah seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap memantau potensi penyimpangan demi memastikan bahwa pengalihan dan penjaminan kewajiban ini murni didasarkan pada kalkulasi ekonomi yang transparan, bukan untuk menutupi kelalaian manajemen proyek masa lalu.

Pemerintah menegaskan bahwa komitmen menjaga konektivitas massal berkecepatan tinggi harus berjalan seiring dengan kehati-hatian fiskal. Dengan proyeksi cicilan jangka panjang hingga lintas generasi ini, Whoosh diharapkan mampu secara bertahap meningkatkan volume penumpang, mendongkrak penerimaan non-tiket, serta menumbuhkan kawasan ekonomi baru di sepanjang koridor Jakarta-Bandung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User