Sep 17, 2026
Hukum

Ludovico Di Santo Kenang Pengalaman Dirundung Akibat Nama Semasa Kecil

BUENOS AIRES — Aktor kenamaan asal Argentina, Ludovico Di Santo, membuat pengakuan emosional mengenai pengalaman masa kecilnya yang kerap menjadi sasaran p

Ludovico Di Santo Kenang Pengalaman Dirundung Akibat Nama Semasa Kecil

BUENOS AIRES — Aktor kenamaan asal Argentina, Ludovico Di Santo, membuat pengakuan emosional mengenai pengalaman masa kecilnya yang kerap menjadi sasaran perundungan di lingkungan sekolah. Dalam wawancara terbaru di program televisi Otro día perdido yang ditayangkan oleh saluran eltrece, aktor yang dikenal luas melalui perannya di berbagai serial populer ini membagikan kisah perjuangannya menghadapi ejekan teman sebaya hanya karena nama depan yang disandangnya sejak lahir.

Di Santo mengungkapkan bahwa nama pemberian orang tuanya tersebut menjadi beban sosial yang cukup berat selama masa tumbuh kembang, terutama pada dekade pertama kehidupannya.

Pengakuan Terbuka di Panggung Televisi

Sesi dialog interaktif yang dipandu oleh Mario Pergolini dan Agustín "Rada" Aristarán tersebut membuka memori lama sang aktor. Pergolini menyinggung betapa tidak mudahnya seorang anak menjalani masa sekolah dengan nama yang tidak umum di lingkungannya.

“Ketika namamu Ludovico, sejak usia lima tahun di taman kanak-kanak situasinya sudah mulai rumit. Sepuluh tahun pertama pasti sangat menantang,” ujar Mario Pergolini dalam acara tersebut.

Menanggapi pernyataan pembawa acara, Di Santo membenarkan bahwa masa-masa tersebut penuh dengan tantangan sosial. Ia menjelaskan bagaimana tekanan psikologis dari lingkungan pertemanan memaksanya untuk menemukan cara bertahan.

Kronologi dan Ragam Julukan yang Diterima

Dalam tayangan reportase tersebut, Di Santo merinci dinamika ejekan yang dialaminya secara kronologis:

  1. Fase Usia Dini (5–7 Tahun): Ejekan awal mulai bermunculan saat sang aktor memasuki bangku taman kanak-kanak dan sekolah dasar, di mana namanya sering dipelesetkan secara berlebihan oleh teman-temannya.
  2. Pemberian Julukan Acak (Fase Sekolah Dasar): Anak-anak lain mulai memberikan berbagai julukan aneh dan merendahkan yang sama sekali tidak berkaitan langsung, seperti sebutan ‘gorda’, ‘pitufica’, hingga ‘gelatina’.
  3. Adaptasi Karakter dan Mekanisme Pertahanan: Di Santo terpaksa mengembangkan kepribadian yang ramah, humoris, dan komunikatif agar tidak terus-menerus menjadi korban intimidasi atau terdorong ke dalam konflik fisik.
“Dengan nama seperti itu, mereka memberimu julukan setiap saat. Kamu akhirnya memilih untuk melawan, melatih kelucuan, atau mulai banyak bicara untuk mengimbangi keadaan,” ungkap Di Santo secara terbuka.

Membentuk Karakter Pribadi dan Keputusan Menjadi Ayah

Meskipun masa lalunya diwarnai ejekan, Di Santo mengakui bahwa pengalaman tersebut secara tidak langsung ikut membentuk mentalitas dan ketangguhannya saat ini. Berada di bawah sorotan akibat nama yang unik membuatnya belajar untuk tidak luput dari perhatian publik dan memanfaatkan keunikan tersebut dalam dunia seni peran.

Pengalaman pahit masa kecil tersebut juga menjadi landasan utama bagi Di Santo dalam mengambil keputusan penting ketika dirinya resmi menjadi seorang ayah, terutama dalam melindungi dan membimbing anaknya agar memiliki kepercayaan diri yang kokoh sejak dini.

Saat ini, Ludovico Di Santo tengah memfokuskan energinya pada dunia teater dengan membintangi pementasan drama legendaris La Ratonera, karya adaptasi dari novel misteri Agatha Christie yang dipentaskan di Teatro Liceo, Buenos Aires.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User