Sep 17, 2026
Nasional

BMKG Catat Suhu Panas Ekstrem Capai 38,6 Derajat Celsius di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis laporan terbaru terkait lonjakan suhu udara ekstrem yang melanda berbagai wilayah di Indonesia

BMKG Catat Suhu Panas Ekstrem Capai 38,6 Derajat Celsius di Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis laporan terbaru terkait lonjakan suhu udara ekstrem yang melanda berbagai wilayah di Indonesia pada awal September. Berdasarkan data pemantauan stasiun meteorologi di seluruh nusantara, suhu maksimum terpantau menembus angka 38,6 derajat Celsius, menandai salah satu periode terpanas sepanjang tahun ini. Kondisi atmosfer kering yang berkepanjangan serta minimnya tutupan awan menjadi pemicu utama intensitas panas terik yang membakar permukaan bumi.

Kenaikan suhu yang signifikan ini memicu kekhawatiran serius di sektor lingkungan dan kebencanaan. Kombinasi antara fenomena iklim global dan puncak musim kemarau telah meningkatkan kerentanan wilayah Indonesia terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kesehatan masyarakat.

Kronologi Lonjakan Suhu dan Catatan Wilayah Terdampak

Peningkatan suhu udara terpantau terjadi secara bertahap sejak akhir Agustus hingga mencapai puncaknya pada pekan pertama September. BMKG mencatat beberapa fase perkembangan cuaca panas ini:

  1. Pekan Terakhir Agustus: Suhu rata-rata harian mulai merangkak naik di kisaran 34°C hingga 36°C di sebagian besar wilayah Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan.
  2. Awal September: Radiasi matahari langsung tanpa penghalang awan mendorong lonjakan termometer hingga menyentuh angka 38,6°C di sejumlah titik pengamatan stasiun klimatologi.
  3. Fase Berkelanjutan: Suhu terik bertahan pada rentang waktu siang hari antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, memicu kelembapan udara turun drastis hingga di bawah level normal.
"Kombinasi gerak semu matahari, minimnya tutupan awan konvektif, serta dominasi massa udara kering dari Benua Australia mengakibatkan penerimaan radiasi surya di permukaan tanah menjadi sangat optimal dan memicu peningkatan suhu ekstrem," tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Pengaruh Dinamika Atmosfer dan Fenomena El Niño

Selain faktor musiman lokal, BMKG menegaskan bahwa fenomena El Niño berperan besar dalam memperpanjang masa kering dan menekan peluang pembentukan awan hujan. Aliran massa udara kering yang stabil menyebabkan evaporasi meningkat drastis, sehingga vegetasi dan tanah kehilangan kelembapan secara cepat. Kondisi ini membuat suhu udara terasa jauh lebih menyengat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun basah sebelumnya.

Beberapa dampak krusial dari fenomena cuaca terik ini mencakup:

  • Tingkat Kerentanan Karhutla Tinggi: Lahan gambut dan semak belukar yang mengering sangat mudah tersulut percikan api.
  • Krisis Ketersediaan Air: Penurunan debit air baku pada waduk dan bendungan utama.
  • Tekanan Panas (Heat Stress): Peningkatan risiko dehidrasi dan heat stroke bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Langkah Antisipasi dan Imbauan Kewaspadaan

Menyikapi eskalasi suhu maksimum ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperketat patroli pencegahan karhutla serta menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di zona-zona rawan. Masyarakat juga dianjurkan menjaga asupan cairan tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung pada jam-jam puncak, dan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan yang berpotensi memicu kobaran api besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User