Monday, 24 August 2026 | 11:56 WIB

Kronologi Baru Perusakan Rumah Kiai NU di Bandung Terungkap

BARU SAJA terungkap rangkaian peristiwa di balik perusakan rumah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Uye Waryo di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Insiden terjadi Selasa (18/8/2026)...

Aug 22, 2026 - 01:57
0 0
Kronologi Baru Perusakan Rumah Kiai NU di Bandung Terungkap

BARU SAJA terungkap rangkaian peristiwa di balik perusakan rumah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Uye Waryo di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Insiden terjadi Selasa (18/8/2026) malam, namun akar masalahnya justru bermula dari keributan antarwarga sehari sebelumnya.

KH Uye Waryo membeberkan kronologi lengkap saat ditemui di kediamannya, Jumat (21/8). Ia menegaskan persoalan yang berujung pada perusakan rumahnya sebenarnya sempat dinyatakan tuntas lewat jalur musyawarah. Namun, proses damai itu tidak berjalan mulus karena salah satu pihak tidak hadir dalam pertemuan.

Awal Mula: Keributan Futsal Antar RW

Peristiwa bermula pada Senin, 17 Agustus 2026. Keributan pecah dalam pertandingan futsal antar RW di Desa Mekar Manik. Dua kubu terlibat: Roni bersama kelompoknya berhadapan dengan Asep dan kawan-kawannya.

Sebagai tokoh yang dituakan di desa, KH Uye Waryo diminta tampil sebagai mediator. Ia menerima tugas itu demi menjaga ketenteraman warga. Mediasi pun digelar di rumah KH Uye Waryo dengan dihadiri aparat kepolisian dari Polsek setempat, perwakilan kedua belah pihak, korban, maupun pelaku.

Musyawarah tersebut dinyatakan selesai dan menghasilkan kesepakatan damai. Namun, ada satu catatan penting: Asep, salah satu pihak yang terlibat, tidak hadir dalam pertemuan itu meskipun sudah diundang. Saat mediasi berlangsung, Asep diketahui sedang berada di luar desa.

Kesepakatan Dianggap Batal

Ketegangan justru muncul kembali pada malam harinya. Asep menyatakan tidak menerima hasil kesepakatan yang diambil dalam musyawarah. Alasannya sederhana: ia tidak ikut dalam pertemuan sehingga merasa tidak terikat dengan butir-butir kesepakatan.

Kondisi itu membuat suasana desa kembali memanas. Uye mengungkapkan, pengurus RT dan RW mulai menerima informasi yang meresahkan pada Selasa pagi. Roni dan sejumlah rekannya dikabarkan berencana mencari Asep untuk menuntaskan masalah dengan cara mereka sendiri.

Sweeping Massa di Tengah Musyawarah

Menghadapi situasi yang berpotensi meledak, KH Uye Waryo kembali diminta mencari solusi. Ia mengumpulkan keluarga Roni, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan pengurus lingkungan. Tujuannya satu: membuka kembali jalur damai sebelum keadaan bertambah runyam.

Namun, proses musyawarah itu berlangsung di tengah tekanan. Sejumlah warga dari RW 6 dilaporkan turun secara bergerombol melakukan sweeping untuk mencari Asep. Mereka bahkan sempat mendatangi rumah orang tua Asep di desa tersebut.

KH Uye Waryo berusaha menenangkan suasana. Ia meminta Asep dipanggil untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur musyawarah, bukan dengan tindakan main hakim sendiri. Asep sendiri diketahui tinggal di kawasan Ujung Berung, sekitar 40 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Desa Mekar Manik.

Rumah Kiai Jadi Sasaran

Upaya damai tersebut tidak berjalan mulus. Pada Selasa (18/8/2026) malam, rumah KH Uye Waryo justru menjadi sasaran aksi penyerangan dan perusakan oleh warga. Kejadian itu menambah panjang daftar eskalasi yang berawal dari persoalan sederhana antarwarga.

Peristiwa perusakan ini tentu memicu keprihatinan luas. Rumah seorang tokoh agama yang justru berperan aktif mendamaikan warganya menjadi korban amuk massa. Ironisnya, seluruh upaya mediasi yang dipimpinnya justru berakhir dengan kerusakan di rumahnya sendiri.

Peran Kiai dalam Konflik Warga

KH Uye Waryo bukan sosok asing dalam penyelesaian masalah di Desa Mekar Manik. Sebagai ulama yang dituakan, ia kerap menjadi rujukan warga ketika terjadi perselisihan. Kedudukannya sebagai mediator membuat warga menaruh harapan besar agar setiap konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan.

Namun, peristiwa Selasa malam menunjukkan bahwa upaya kiai sekalipun bisa gagal ketika emosi massa sudah memuncak. Aksi sweeping dan pengrusakan yang terjadi mencoreng semangat kekeluargaan yang selama ini dijaga warga desa.

Perkembangan dan Pelajaran

Hingga berita ini diturunkan, perkembangan lanjutan dari kasus tersebut masih terus dipantau. Aparat kepolisian yang sejak awal dilibatkan dalam mediasi diharapkan dapat menindaklanjuti perusakan ini sesuai hukum yang berlaku.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan sepele di tengah masyarakat bisa meledak menjadi kerusuhan jika tidak dikelola dengan baik. Mediasi yang dihadiri semua pihak menjadi kunci penyelesaian yang sesungguhnya. Ketidakhadiran salah satu pihak dalam musyawarah terbukti menjadi celah yang memicu konflik kembali.

Para tokoh masyarakat dan aparat desa kini menghadapi tugas berat: memulihkan kerukunan warga yang sempat terganggu. Kepercayaan terhadap jalur musyawarah perlu dibangun kembali agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.

Banyak pihak kini berharap aparat bergerak cepat. Penanganan yang tegas dan transparan diperlukan agar keadilan ditegakkan sekaligus menjadi efek jera bagi siapa pun yang bertindak di luar hukum. Publik menantikan langkah nyata penegak hukum dalam menuntaskan kasus ini. Korban, keluarga, maupun warga yang merasa dirugikan berhak mendapatkan keadilan dan rasa aman. Perusakan rumah tokoh agama adalah peristiwa serius yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan hukum.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User