Monday, 24 August 2026 | 13:22 WIB

Nelayan Ternate Selamat Setelah 26 Hari Terombang-ambing di Samudra Pasifik

BARU SAJA — Esau Sidemo, nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, akhirnya bisa kembali tersenyum. Ia berhasil pulang ke kampung halaman pada Minggu...

Aug 24, 2026 - 10:31
0 0
Nelayan Ternate Selamat Setelah 26 Hari Terombang-ambing di Samudra Pasifik

BARU SAJA — Esau Sidemo, nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara, akhirnya bisa kembali tersenyum. Ia berhasil pulang ke kampung halaman pada Minggu (23/8/2026) dan langsung bertemu istri serta keluarganya. Kebahagiaan itu terasa luar biasa setelah pria itu bertahan hidup sendirian di tengah laut selama 26 hari penuh.

Kisah ini bermula pada 7 Juli 2026. Esau berangkat melaut dari Pulau Batang Dua menggunakan perahu sederhananya. Ia tidak menyangka hari itu menjadi awal dari ujian terberat dalam hidupnya. Di tengah perjalanan, mesin perahunya tiba-tiba mati. Tanpa tenaga penggerak, perahu itu kemudian terbawa arus dan angin menjauh semakin jauh dari daratan.

Hingga akhirnya, Esau terombang-ambing sampai sekitar 800 mil dari pulau asalnya. Posisinya berada jauh di Samudra Pasifik, kawasan yang tidak dikenalinya sama sekali. Tidak ada kapal yang lewat dalam waktu lama. Yang ada hanyalah lautan luas, langit, dan rasa takut yang terus menghantuinya.

Bekal Minim, Bertahan dengan Cara Ekstrem

Situasi Esau sungguh memprihatinkan. Saat berangkat, ia sama sekali tidak membawa ponsel. Bekal yang ia miliki hanya sekitar satu liter air mineral dan tanpa makanan apa pun. Dalam kondisi seperti itu, setiap hari adalah perjuangan untuk tetap hidup.

Untuk mengisi perut, Esau mengandalkan apa pun yang bisa ia temukan di laut. Buah kelapa yang hanyut ia ambil dan makan, meski kondisinya sudah busuk. Ikan yang kebetulan berada di dekat perahunya menjadi santapan. Ia bahkan memakan burung untuk bertahan dari rasa lapar yang luar biasa.

Masalah terbesar justru datang dari air minum. Persediaan air mineralnya cepat habis. Dalam keputusasaan, Esau terpaksa meminum air laut. Namun rasa asinnya terlalu menyiksa tenggorokan dan membuat tubuh semakin dehidrasi. Akhirnya, dengan segala keterpaksaan, ia meminum urinenya sendiri untuk melepas dahaga.

Hujan yang turun sesekali menjadi berkah tersendiri. Esau memanfaatkan setiap tetes air hujan untuk diminum. Meski begitu, cuaca di tengah Samudra Pasifik sangat ekstrem. Gelombang besar dan angin kencang kerap mengancam perahu kecilnya. Ia harus berjuang menjaga keseimbangan agar tidak terbalik.

Terlantar, Pertolongan Datang di Hari Ke-26

Selama terombang-ambing, Esau tidak pernah menyerah. Setiap kali melihat kapal melintas, ia berusaha sekuat tenaga meminta pertolongan. Ia melambaikan tangan dan berteriak sekeras mungkin. Namun sayang, beberapa kapal yang lewat tidak menghiraukannya. Harapan sempat berkali-kali menipis.

Peruntungannya berubah pada 1 Agustus 2026. Kapal LNG Endeavour berbendera Prancis yang sedang berlayar dari Australia menuju China melintasi lokasi Esau. Awak kapal akhirnya melihat perahu kecil itu. Mereka mendekat dan bersiap memberikan pertolongan.

Saat kapal mendekat, Esau tanpa ragu melompat ke laut. Awak kapal segera melemparkan pelampung ke arahnya. Esau meraih pelampung itu dengan sisa tenaganya dan berhasil dievakuasi naik ke kapal. Kondisinya kala itu sangat lemah, namun nyawanya terselamatkan.

Perjalanan Pulang yang Panjang

Di atas kapal LNG Endeavour, Esau mendapatkan perawatan dan makanan. Ia menghabiskan waktu 12 hari di kapal tersebut sebelum akhirnya tiba di China. Sesampainya di sana, pihak kepolisian dan imigrasi setempat turun tangan. Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) kemudian menjemput dan mengurus kepulangannya.

Dalam kesaksiannya, Esau menuturkan beratnya perjuangan melawan rasa lapar dan haus. Ia mengaku sempat kehabisan bekal sehingga terpaksa meminum air laut, lalu beralih ke air seni sendiri karena rasa asin yang tak tertahankan. Saat kelaparan, ia menemukan kelapa busuk yang hanyut dan memakannya demi bertahan hidup.

Ia juga menceritakan proses evakuasi dan perjalanan pulangnya. Esau mengaku dirawat di kapal berbendera Prancis itu selama 12 hari sebelum tiba di China. Di sana, kepolisian dan imigrasi setempat menurunkannya, dan perwakilan KBRI menjemputnya untuk dipulangkan ke Indonesia.

Kembali ke Pangkuan Keluarga

Kepulangan Esau ke Ternate disambut haru oleh istri dan keluarganya. Senyumnya yang sempat hilang kini kembali merekah. Pengalaman menegangkan itu akhirnya berujung bahagia setelah perjuangan panjang di tengah samudra.

Kisah Esau Sidemo menjadi pengingat akan kekuatan manusia dalam bertahan hidup. Dengan bekal nyaris kosong, ia melawan rasa lapar, dahaga, dan ketakutan selama 26 hari. Kehadiran kapal LNG Endeavour menjadi titik balik yang menyelamatkan nyawanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User