Khofifah Dorong Muslimat NU Kuasai Dakwah Digital
SURABAYA — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan kepada seluruh jajaran Muslimat Nahdlatul Ulama untuk segera mengadopsi teknologi digital sebagai pilar utama dakwah kontemporer. S...
SURABAYA — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan kepada seluruh jajaran Muslimat Nahdlatul Ulama untuk segera mengadopsi teknologi digital sebagai pilar utama dakwah kontemporer. Seruan tersebut disampaikan langsung dalam sebuah forum strategis di Surabaya, menandai langkah agresif organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia itu memasuki era baru.
Transformasi ini, menurut Khofifah, bukan sekadar opsi, melainkan keniscayaan di tengah derasnya arus informasi. “Dakwah digital memungkinkan pesan keislaman yang rahmatan lil alamin menjangkau generasi muda yang kini menghabiskan enam hingga delapan jam sehari di depan layar,” ujarnya dikutip dari paparan tertulis.
Peta Jalan Digitalisasi Dakwah
Khofifah memaparkan tiga pilar utama yang harus dikerjakan Muslimat NU: penguasaan platform media sosial, produksi konten keagamaan berbasis video pendek dan infografis, serta literasi digital untuk menangkal hoaks dan ujaran kebencian. Setiap pimpinan cabang dan ranting diminta membentuk tim kreatif digital dalam waktu enam bulan ke depan.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya pendekatan storytelling yang relevan dengan budaya pop generasi Z. Konten dakwah harus dikemas dengan estetika visual yang menarik, tanpa mengurangi esensi aqidah. “Jika generasi muda tidak kita sapa dengan bahasa mereka, maka ruang kosong itu akan diisi oleh paham radikal atau budaya hedonis,” ungkap Khofifah dengan nada serius.
Data Kementerian Komunikasi menunjukkan 79,5 persen penduduk Indonesia telah terhubung internet. Namun, konten dakwah berkualitas masih tertinggal dari banjir informasi destruktif. “Inilah momentum untuk membalikkan keadaan. Muslimat NU memiliki jaringan hingga tingkat desa; tinggal melengkapinya dengan amunisi digital,” tegasnya.
Respon Cepat Organisasi
Ketua Umum PP Muslimat NU langsung merespon dengan menyatakan kesiapan menggelar pelatihan intensif bagi 500 kader digital di tingkat provinsi pada triwulan mendatang. Pelatihan mencakup videografi mobile, penulisan naskah dakwah singkat, optimasi algoritma media sosial, serta etika bermedia.
“Para kader akan dibekali skill copywriting, desain grafis sederhana, dan teknik live streaming yang interaktif,” sebut dia. Tidak hanya itu, kerjasama dengan pondok pesantren digital juga akan diperkuat untuk menciptakan ekosistem dakwah berbasis komunitas.
Program unggulan “Daiyah Digital” akan melibatkan kolaborasi dengan influencer muslim dan platform teknologi. Target awalnya mencetak 1.000 konten edukasi per bulan yang disebar melalui TikTok, Instagram, dan YouTube. “Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas dan kredibilitas. Setiap konten harus melalui kurasi syariah dan bahasa,” jelas tim perumus program.
Tantangan dan Antisipasi
Sejumlah tantangan diidentifikasi: keterbatasan akses perangkat di wilayah terpencil, kesenjangan literasi digital di kalangan anggota senior, serta potensi peretasan akun dakwah. Untuk itu, Muslimat NU menggandeng Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur serta komunitas teknologi startup lokal untuk menyediakan perangkat subsidi dan pendampingan teknis.
Khofifah menekankan bahwa transformasi ini harus berjalan selaras dengan nilai tradisi. “Dakwah digital bukan berarti meninggalkan pengajian tatap muka atau yasinan. Ini adalah ekstensi perjuangan, bukan pengganti,” ujarnya mengakhiri paparan.
Langkah ini dipandang krusial menjelang peringatan Hari Santri dan berbagai agenda strategis NU ke depan. Pengamat mencatat jika berhasil, model digitalisasi Muslimat NU dapat menjadi cetak biru bagi organisasi kemasyarakatan lain di Indonesia.
Comments (0)