Kawanan Hiu Tutul Migrasi di Pasuruan; Warga Diperingatkan Hindari Bakar Sampah

Dua peristiwa lingkungan mencuat dalam beberapa hari terakhir di Jawa Timur: kemunculan kawanan hiu tutul di perairan Pasuruan yang memukau warga dan nelay

Jul 12, 2026 - 05:03
0 0
Kawanan Hiu Tutul Migrasi di Pasuruan; Warga Diperingatkan Hindari Bakar Sampah

Dua peristiwa lingkungan mencuat dalam beberapa hari terakhir di Jawa Timur: kemunculan kawanan hiu tutul di perairan Pasuruan yang memukau warga dan nelayan, serta peringatan keras dari otoritas setempat agar masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan di tengah musim kemarau yang mengintai dengan ancaman kebakaran lahan. Kedua fenomena ini mengingatkan betapa dinamika alam dan perilaku manusia saling terkait, sekaligus menguji kesiapsiagaan dan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Migrasi Akbar Hiu Tutul di Pasuruan: Tontonan Langka yang Ramah

Sejak awal pekan ini, nelayan dan warga pesisir Pasuruan, Jawa Timur, dikejutkan oleh pemandangan tak biasa: puluhan hiu tutul (Rhincodon typus) berenang perlahan di perairan dangkal Selat Madura. Kawanan ikan raksasa yang bisa mencapai panjang 12 hingga 18 meter ini terpantau di beberapa titik, seperti perairan Lekok dan Nguling, menarik perhatian para peselancar lokal, fotografer bawah laut, hingga tim peneliti dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL).

Menurut Kepala BPSPL Denpasar wilayah kerja Jawa Timur, fenomena ini termasuk peristiwa migrasi tahunan yang dipicu oleh melimpahnya plankton dan larva ikan kecil sebagai makanan utama hiu tutul. “Suhu permukaan laut di sekitar Selat Madura saat ini lebih hangat sekitar 1–1,5 derajat Celsius dari rata-rata, diduga karena anomali musim dan arus lintas Indonesia yang membawa massa air kaya nutrisi. Ini menciptakan ledakan populasi plankton yang menjadi daya tarik bagi hiu tutul untuk mencari makan,” ujar Dr. Andi Hermawan, ahli kelautan dari Universitas Brawijaya, melalui sambungan telepon. Ia menambahkan bahwa pola migrasi ini penting untuk memetakan jalur jelajah spesies yang dilindungi penuh berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2013.

“Kami mengimbau warga dan wisatawan untuk menikmati kehadiran mereka dengan bijak. Jangan mendekat terlalu dekat, jangan menyentuh, dan hindari penggunaan lampu kilat atau drone rendah yang bisa mengganggu. Hiu tutul sama sekali tidak berbahaya bagi manusia karena hanya memakan plankton, tapi kita harus menjaga agar mereka tetap merasa aman di habitatnya,” tegas Dr. Andi.

Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama Dinas Pariwisata setempat segera membentuk posko pengamatan sementara dan menyebarkan pamflet panduan interaksi aman. Beberapa operator wisata bahari pun mulai menawarkan paket tur edukasi terbatas dengan pengawasan ketat. Sementara itu, media sosial dibanjiri video amatir hiu tutul berenang dengan mulut terbuka menyaring air, yang telah ditonton lebih dari 2 juta kali dalam tiga hari terakhir, menunjukkan antusiasme publik yang tinggi.

Ancaman Kebakaran Lahan: Jangan Bakar Sampah Sembarangan

Di sisi lain, memasuki puncak musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengeluarkan peringatan serius menyusul meningkatnya titik panas dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah. Data Satelit Terra/Aqua per tanggal 10 Agustus 2025 mencatat ada 23 titik api di kawasan hutan dan lahan kering di sekitar Pasuruan, Mojokerto, dan Probolinggo, dengan sebagian besar dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dan pembakaran sampah rumah tangga oleh warga.

Kepala BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengungkapkan bahwa pola kebakaran tahun ini menunjukkan tren mengkhawatirkan: “Biasanya titik api mulai bermunculan di Agustus akhir, tapi tahun ini sudah muncul sejak Juli lalu. Cuaca lebih kering dan angin kencang membuat api cepat merambat ke permukiman. Kami sudah menangani tiga kasus kebakaran lahan mendekati permukiman dalam seminggu terakhir yang berawal dari warga yang membakar sampah daun kering tanpa pengawasan.”

Pemkab Pasuruan menerbitkan Surat Edaran Bupati yang melarang segala bentuk pembakaran terbuka di lahan pertanian, pekarangan, hingga tempat pembuangan sampah sementara. Sanksi tegas berupa denda Rp50 juta atau pidana kurungan sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pun disosialisasikan ke desa-desa. Tim gabungan TNI, Polri, dan relawan melakukan patroli rutin serta membagikan tempat sampah terpilah dan komposter kepada warga sebagai alternatif mengolah sampah organik.

Berikut langkah-langkah pencegahan yang disosialisasikan BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup:

  • Kelola sampah organik dengan membuat kompos atau lubang biopori, bukan dibakar.
  • Pisahkan sampah anorganik untuk disalurkan ke bank sampah atau pengepul daur ulang.
  • Laporkan segera jika melihat titik api atau asap ke nomor darurat BPBD 112 atau aplikasi Siaga Bencana.
  • Buat sekat bakar di lahan kosong dekat permukiman dengan membersihkan semak belukar dan membuat parit kecil.
  • Jangan tinggalkan api unggun atau puntung rokok di area kering.

“Masyarakat harus paham, kebakaran lahan bukan hanya merusak lingkungan dan mengancam rumah, tapi juga menimbulkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan pernapasan. Tahun lalu kita mencatat peningkatan kasus ISPA sebesar 35 persen saat kebakaran lahan terjadi. Jadi, langkah pencegahan ini harus kita lakukan bersama,” lanjut Gatot.

Koneksi Tidak Langsung: Iklim Mikro dan Kesadaran Kolektif

Meski tampak tidak berkaitan, kemunculan hiu tutul dan peringatan kebakaran lahan sesungguhnya diikat oleh benang merah perubahan iklim mikro. Suhu permukaan laut yang lebih hangat yang menarik hiu tutul adalah bagian dari fenomena yang sama dengan musim kemarau lebih kering dan panjang. Dr. Andi menjelaskan, “Pemanasan global mengintensifkan siklus El Nino, membuat laut sekitar Jawa lebih hangat dan daratan lebih kering secara bersamaan. Ini menciptakan dua muka ekstrem: kelimpahan hayati laut yang memukau tapi juga kerentanan bencana kebakaran di darat.”

Kesadaran kolektif menjadi kunci. Saat warga Pasuruan ramai-ramai menjaga hiu tutul agar tetap nyaman di perairannya, tindakan sederhana mengelola sampah tanpa membakar bisa menyelamatkan rumah dan paru-paru mereka sendiri. Relawan lingkungan setempat berinisiatif mengadakan “Festival Hiu Tutul” mini dengan lomba mewarnai dan edukasi lingkungan, sekaligus kampanye “No Open Burning” yang dilombakan antar-RW. Sinergi unik ini diharapkan mampu membangun ketahanan lingkungan dari dua arah: laut dan darat.

[SOCIAL_TWEET]: Kawanan hiu tutul muncul di Pasuruan, memukau warga. Sementara itu, BPBD Jatim peringatkan bahaya kebakaran lahan dari bakar sampah sembarangan. Dua sisi lingkungan yang perlu kita jaga bersama. #HiuTutul #Pasuruan #CegahKebakaran[SOCIAL_TG]: 🦈 Hiu tutul migrasi besar di Pasuruan! 🚫 Tapi jangan lengah, musim kemarau bikin kebakaran mengintai. Warga diminta stop bakar sampah sembarangan. Selengkapnya baca di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User