Kapolri Ungkap Antisipasi Berkembangnya Fenomena Nihilistic Violent Extremism
Bogor - Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen kuat institusinya dalam menjaga stabilitas keamanan nasional dari ancaman terorisme. Sa
Bogor - Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen kuat institusinya dalam menjaga stabilitas keamanan nasional dari ancaman terorisme. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah langkah antisipatif terhadap potensi berkembangnya fenomena nihilistic violent extremism di tanah air.
Penegasan tersebut disampaikan Jenderal Sigit dalam pidato kenegaraan pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di Pusat Latihan (Satlat) Korps Brimob, Cikeas, Jawa Barat. Pantauan media kami di lokasi, acara khidmat ini turut dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pejabat tinggi negara lainnya.
Dalam paparannya, Kapolri menjelaskan bahwa penanggulangan terorisme saat ini tidak hanya bertumpu pada penindakan fisik semata. Strategi yang dijalankan merupakan perpaduan berkelanjutan antara hard approach dan soft approach. Strategi keras tentunya menyasar pada penegakan hukum dan operasi penindakan yang terukur, sementara strategi lunak difokuskan pada deradikalisasi, kontranarasi, serta pembinaan terhadap mantan narapidana terorisme dan keluarganya.
Mempertahankan Rekor Zero Attack
Hasil dari strategi dua jalur tersebut, menurut Kapolri, telah membuahkan capaian yang sangat signifikan. Indonesia berhasil mempertahankan status zero terrorist attack atau nihil serangan teroris terbuka sejak tahun 2023. Capaian ini menjadi rekor positif yang menunjukkan efektivitas deteksi dini dan pembinaan di lapangan.
Kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras seluruh personel yang terlibat. Namun kita tidak boleh lengah, khususnya dalam menghadapi perubahan pola ideologi yang mengarah pada nihilistic violent extremism, sebuah paham destruktif yang melihat kekerasan sebagai tujuan akhir tanpa motif politik struktural yang jelas,
Fenomena nihilistic violent extremism sendiri menjadi perhatian global karena pelakunya kerap bertindak di luar sel-sel organisasi teroris tradisional. Mereka biasanya termotivasi oleh kebencian eksistensial dan keputusasaan, sehingga lebih sulit dideteksi karena bergerak secara lone wolf atau serigala sendirian. Jenderal Sigit menekankan bahwa Polri terus memperkuat kapasitas intelijen dan literasi digital masyarakat untuk menangkal penyebaran paham radikal jenis baru ini.
Selain itu, sinergi dengan TNI, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta kementerian terkait diklaim semakin solid dalam membangun ketahanan masyarakat dari level akar rumput. Laporan kami mengonfirmasi bahwa kewaspadaan terhadap ancaman hibrida, baik dari sel tidur maupun individu terpapar konten negatif di dunia maya, menjadi prioritas dalam peta keamanan nasional menuju Indonesia Emas.
Comments (0)