Ingin Marah-marah karena Banyak Pikiran? Coba Redam dengan Olahraga Relaksasi Otot Ini
Jakarta - Stres dan kecemasan yang menumpuk seringkali mencari pelampiasan dalam bentuk ledakan emosi, seperti marah-marah tanpa alasan jelas. Banyak orang tidak menyadari bahwa ketegangan psikologis ini sebenarnya bisa dikendalikan dengan pendekatan fisik yang sederhana. Psikolog klinis Sriana Sihombing, S.Psi, M.M, M.Psi, menyarankan satu metode praktis yang dapat dilakukan siapa saja tanpa peralatan khusus: Progressive Muscle Relaxation (PMR) atau relaksasi otot progresif.
Teknik ini, menurut Anna—panggilan akrabnya—bekerja dengan menargetkan kelompok otot tempat tubuh menyimpan tekanan. “Itu untuk merilis tension, makanya tadi dia harus mengepalkan tangan, angkat bahu. Karena semua tension itu biasanya di bagian tubuh itu tadi,” jelas Anna dalam wawancara dengan Beritatercepat.com di Siloam Heart Hospital, Cinere, Depok, Sabtu (4/7/2026).
"Stres yang terpendam sering termanifestasi di fisik, dan jika dilepaskan dengan cara yang benar, pikiran pun ikut tenang. Progressive Muscle Relaxation bukan sekadar olahraga, tapi juga terapi psikologis yang meredam agresivitas," tegasnya.
Apa Itu Progressive Muscle Relaxation?
Progressive Muscle Relaxation adalah teknik relaksasi yang dikembangkan dengan mengencangkan lalu melepaskan ketegangan pada berbagai kelompok otot secara berurutan. Mulai dari tangan yang dikepalkan erat, bahu diangkat setinggi telinga, otot perut dikontraksikan, hingga dahi dikerutkan. Setelah ditahan beberapa detik, otot lalu dilepaskan perlahan. Perbedaan antara kontraksi dan relaksasi ini menciptakan sensasi lega yang langsung terasa, sekaligus mengalihkan perhatian otak dari pemicu stres yang semula.
Menurut Anna, PMR sangat efektif karena memutus siklus tubuh-tegak-pikiran-tegang. Saat seseorang dilanda kecemasan atau kemarahan, otot tanpa sadar menegang. Dengan sadar mengendalikan kontraksi dan pelepasan otot, sistem saraf parasimpatik teraktivasi sehingga respons fight-or-flight mereda. Inilah yang membuat teknik ini direkomendasikan tidak hanya untuk meredakan amarah sesaat, tetapi juga untuk mengelola gangguan kecemasan jangka panjang.
Stres di Tempat Kerja dan Risiko Jantung
Dalam penjelasannya, Anna juga menyinggung temuan bahwa tekanan psikologis yang berkepanjangan, terutama di lingkungan kerja, dapat melipatgandakan risiko penyakit jantung hingga dua kali lipat. Hubungan antara pikiran dan kesehatan fisik semakin menegaskan pentingnya menemukan cara cepat untuk menurunkan tensi sebelum berdampak sistemik. PMR bisa menjadi rutinitas harian yang hanya memakan waktu lima hingga sepuluh menit, namun berdampak besar pada keseimbangan emosional.
Praktik ini tidak memerlukan tempat khusus; bisa dilakukan di kursi kantor saat istirahat siang, di rumah sebelum tidur, atau kapan pun gejolak emosi mulai membuncah. Dengan latihan rutin, kesadaran tubuh akan meningkat sehingga seseorang lebih cepat mengenali tanda-tanda awal stres dan mencegah ledakan yang merugikan diri sendiri maupun orang sekitar.
Bagi masyarakat urban yang kerap diburu waktu dan tekanan hidup, PMR menawarkan solusi murah dan berbasis bukti. Anna berharap semakin banyak orang meluangkan waktu untuk “berolahraga” otot demi kesehatan mental. “Banyak pikiran itu wajar, tapi jangan biarkan berubah menjadi amarah yang tak terkendali. Tubuh kita punya mekanisme sendiri untuk menenangkan diri, kita hanya perlu belajar mengaktifkannya,” pungkasnya.
Comments (0)