Hamengkubuwono X: Profil dan Kinerja Gubernur DI Yogyakarta

Hamengkubuwono X: Profil dan Kinerja Gubernur DI Yogyakarta

Jul 12, 2026 - 05:34
Updated: 4 hours ago
0 0
Hamengkubuwono X: Profil dan Kinerja Gubernur DI Yogyakarta

Profil Singkat

Sri Sultan Hamengkubuwono X lahir dengan nama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito pada 2 April 1946 di Yogyakarta. Putra Sultan Hamengkubuwono IX ini menempuh pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada dan dinobatkan sebagai Sultan Keraton Yogyakarta pada 7 Maret 1989. Sejak pengesahan Undang-Undang Keistimewaan Nomor 13 Tahun 2012, Sultan secara otomatis menjabat Gubernur DIY seumur hidup — menjadikannya satu-satunya kepala daerah di Indonesia dengan mekanisme suksesi monarki konstitusional. Masa jabatan terkininya berlangsung 2022–2027, menandai lebih dari dua dekade kepemimpinannya sejak pelantikan pertama pada 3 Oktober 1998.

Karier dan Riwayat Jabatan

  • 1989–sekarang: Sultan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • 1998–2003: Gubernur DIY periode pertama
  • 2003–2008: Gubernur DIY periode kedua
  • 2008–2012: Gubernur DIY periode ketiga — terpilih melalui mekanisme pemilihan DPRD
  • 2012–2017: Gubernur DIY berdasarkan UU Keistimewaan — penetapan langsung tanpa pemilihan
  • 2017–2022: Periode kelima — fokus pada pemulihan ekonomi pascagempa dan pandemi
  • 2022–2027: Periode keenam — akselerasi transformasi digital dan infrastruktur konektivitas

Kinerja dan Program Unggulan

Periode 2025 menandai fase konsolidasi pembangunan strategis DIY. Beberapa capaian kunci:

  • Konektivitas Jalur Selatan: Pengembangan kawasan Aerotropolis Yogyakarta International Airport di Kulon Progo memasuki tahap integrasi transportasi multimoda. Jalan Lintas Selatan (JJLS) segmen selatan terus dipercepat untuk membuka akses ekonomi wilayah pesisir.
  • Digitalisasi Tata Kelola: Implementasi Jogja Smart Province tahap ketiga mencakup integrasi layanan publik berbasis AI di 438 kalurahan. Sistem administrasi kependudukan terpadu berhasil memangkas waktu pelayanan hingga 60 persen.
  • Reformasi Agraria Sultan Ground: Program sertifikasi tanah kasultanan mencapai 78 persen dari total 18.700 hektare per akhir 2025. Skema magersari baru memberikan kepastian hukum bagi 42.000 kepala keluarga penghuni tanah keraton.
  • Ketahanan Bencana: Pemasangan 127 sensor early warning system Merapi generasi baru. Pembangunan 34 shelter permanen di Kawasan Rawan Bencana III selesai Februari 2026.
  • Pariwisata Berkelanjutan: Kunjungan wisatawan mancanegara 2025 tercatat 1,6 juta — melampaui level pra-pandemi. Penerapan sistem kuota harian di 12 destinasi unggulan untuk menjaga daya dukung lingkungan.
  • Pendidikan Inklusif: Program Beasiswa Sultan bergulir untuk 15.000 mahasiswa dari keluarga prasejahtera. Pembangunan lima SMK kejuruan baru diselaraskan dengan kebutuhan industri kreatif dan manufaktur.
"Keistimewaan Yogyakarta bukan sekadar hak waris — ia adalah amanah untuk menyejahterakan rakyat dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan."

Tantangan dan Harapan

DIY menghadapi tekanan urbanisasi yang memicu kenaikan harga lahan perumahan hingga 35 persen dalam tiga tahun terakhir. Alih fungsi lahan pertanian mencapai 200 hektare per tahun, mengancam ketahanan pangan lokal. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi periode 2025–2026 masih fluktuatif dengan rata-rata 45 kali guguran lava per pekan. Pengembangan kawasan sekitar bandara menimbulkan gesekan sosial dengan komunitas agraris setempat. Sultan menekankan pentingnya revisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah 2025–2045 sebagai solusi jangka menengah. Fokus tahun 2026 diarahkan pada hilirisasi produk UMKM, penguatan ekosistem startup lokal melalui inkubator Jogja Digital Hub, serta percepatan realisasi Kereta Api Lintas Selatan rute Bandung—Yogyakarta—Surabaya. Masyarakat berharap keteladanan Sultan dalam memadukan nilai tradisi dan modernitas tetap menjadi pijakan pembangunan DIY yang inklusif dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User