Dominggus Mandacan: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat
Dominggus Mandacan: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat
Profil Singkat
Dominggus Mandacan lahir di Manokwari, 30 Desember 1959. Ia berasal dari Suku Arfak, salah satu suku besar di Pegunungan Arfak. Mandacan menyelesaikan pendidikan sarjananya di bidang pemerintahan dan sejak muda aktif di birokrasi serta politik lokal. Sebelum menjabat gubernur, ia dikenal sebagai bupati yang membangun fondasi Manokwari sebagai ibu kota provinsi. Pada Pilkada Serentak 2024, Mandacan kembali terpilih untuk periode keduanya, dilantik pada Februari 2025, dan akan memimpin hingga 2030.
Karier dan Riwayat Jabatan
- Bupati Manokwari (2005–2015): Dua periode memimpin kabupaten induk Papua Barat. Periode ini ditandai pemekaran Manokwari Selatan dan Pengunungan Arfak.
- Gubernur Papua Barat Periode I (2017–2022): Fokus pada pembangunan infrastruktur dasar dan pengentasan kemiskinan ekstrem.
- Penjabat Sementara (2022–2024): Masa transisi sebelum pelantikan definitif periode kedua.
- Gubernur Papua Barat Periode II (2025–2030): Dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025 dengan mandat percepatan pembangunan wilayah pasca-pemekaran Papua Barat Daya.
Kinerja dan Program Unggulan 2025–2026
Di bawah kepemimpinan periode kedua, Mandacan memprioritaskan keberlanjutan program yang dinilai berhasil dan akselerasi di sektor unggulan. Data APBD 2025 mencatat total belanja daerah mencapai Rp5,7 triliun, dengan alokasi signifikan pada:
- Pendidikan Gratis & Beasiswa: Melanjutkan program beasiswa bagi 5.000 mahasiswa asli Papua Barat, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Realisasi tahap I 2025 menjangkau 2.300 penerima baru.
- Kesehatan: Implementasi Universal Health Coverage (UHC) dengan cakupan 98% penduduk pada semester I 2025, didukung pembangunan RSUD tipe C di tiga kabupaten pegunungan.
- Infrastruktur Perhubungan: Pembangunan Jalan Trans-Papua Barat segmen Pegunungan Arfak–Manokwari Selatan ditargetkan tembus 85% akhir 2026. Proyek ini memangkas waktu tempuh dari 8 jam menjadi 3 jam.
- Deklarasi "Tanah Kasih": Pada 17 Agustus 2025, Mandacan meresmikan brand Papua Barat sebagai provinsi toleransi tertinggi, mengacu pada indeks kerukunan Kemenag. Program ini mempromosikan wisata religi dan dialog lintas iman.
"Kami ingin Papua Barat menjadi contoh bahwa pembangunan berjalan seiring dengan kedamaian. Tanah ini milik semua suku dan agama. Tugas saya memastikan tidak ada yang tertinggal di lorong-lorong gunung maupun di pinggir pantai," ucap Mandacan dalam pidato HUT Ke-80 RI.
Di sektor ekonomi kerakyatan, Mandacan mendorong hilirisasi perikanan dan pertanian. Ia meresmikan pabrik pengolahan ikan skala menengah di Teluk Wondama pada April 2025, menyerap 400 tenaga kerja lokal. Program "Satu Desa Satu Produk" juga diperluas dengan menyasar komoditas kopi Arfak dan pala Fakfak. Ekspor perdana kopi Arfak ke Jepang tercatat pada kuartal I 2026.
Tantangan dan Harapan
Mandacan masih menghadapi beban berat berupa:
- Kemiskinan Ekstrem: Meski turun dari 21% ke 17,8% pada 2025, Papua Barat masih termasuk lima provinsi termiskin di Indonesia.
- Konektivitas Digital: Proyek Palapa Ring Timur belum menjangkau 46 desa di pedalaman Pegunungan Arfak. Mandacan meneken MoU dengan penyedia satelit orbit rendah pada Maret 2026 untuk akses internet desa terpencil.
- Perlindungan Masyarakat Adat: Penerbitan Perdasus Nomor 8 Tahun 2025 tentang Hutan Adat menjadi payung hukum pengelolaan hutan berbasis komunitas. Namun, sosialisasi dan konflik lahan perkebunan masih memicu ketegangan sporadis.
Dengan sisa masa jabatan hingga 2030, Mandacan berkomitmen mewujudkan visi "Papua Barat Mandiri dan Sejahtera" melalui tata kelola anggaran yang transparan serta pengarusutamaan putra-putri asli Papua dalam jabatan strategis. Publik kini menanti realisasi janji pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Comments (0)