Festival Teknologi Satukan Edukasi dan Esports dalam Satu Panggung
JAKARTA — Sebuah perhelatan akbar yang memadukan pendidikan dan hiburan digital sukses menyedot perhatian ribuan orang pada Sabtu (12/7). Acara bertajuk TechEduFest 2025 ini dirancang untuk membukti...
JAKARTA — Sebuah perhelatan akbar yang memadukan pendidikan dan hiburan digital sukses menyedot perhatian ribuan orang pada Sabtu (12/7). Acara bertajuk TechEduFest 2025 ini dirancang untuk membuktikan bahwa dunia teknologi, edukasi, dan kompetisi game bisa berjalan beriringan tanpa sekat.
Mengambil tempat di Jakarta Convention Center, festival selama dua hari ini menghadirkan puluhan stan pameran, lokakarya interaktif, serta turnamen esports berskala nasional. Panitia menargetkan total kunjungan mencapai 20.000 orang sepanjang acara.
Panggung Edukasi dan Kompetisi
Salah satu daya tarik utama adalah arena coding battle untuk pelajar SMA sederajat. Peserta ditantang merancang aplikasi sederhana berbasis kecerdasan buatan dalam waktu 120 menit. Sementara di seberang aula, sebuah panggung besar menjadi saksi pertarungan sengit tim-tim esports profesional pada babak final Mobile Legends: Bang Bang. Hadiah total Rp250 juta memperebutkan gelar juara.
Selain itu, pengunjung dapat mengikuti sesi talkshow bersama founder startup unicorn, praktisi keamanan siber, dan influencer game edukatif. Topik seperti \"Membangun Karir dari Hobi Gaming\" dan \"Pemanfaatan AI untuk Pembelajaran\" mendapat sambutan meriah.
Ragam Aktivitas yang Merangkul Semua Kalangan
Festival ini tidak hanya menyasar kaum muda. Area khusus disediakan bagi orang tua dan anak-anak untuk mencoba wahana Virtual Reality (VR) yang mensimulasikan eksperimen sains. Komunitas robotika juga membuka kelas merakit robot sederhana secara gratis.
Berikut beberapa fakta kunci dari TechEduFest 2025:
- 20.000 pengunjung ditargetkan selama dua hari penyelenggaraan.
- 50+ booth pameran dari startup teknologi, institusi pendidikan, dan pengembang game lokal.
- 32 tim esports bertanding di babak utama setelah melalui kualifikasi regional.
- 15 sesi lokakarya dan diskusi panel dengan total pembicara dari 6 negara.
- Pertama kalinya zona immersive learning menggunakan teknologi augmented reality untuk materi sejarah.
Membangun Ekosistem Digital Inklusif
Ketua penyelenggara, Andini Mahesa, mengatakan bahwa festival ini lahir dari keresahan akan stigma negatif terhadap game. \"Banyak orang tua masih melihat game hanya sebagai sumber kecanduan. Melalui acara ini, kami ingin menunjukkan sisi positifnya: melatih strategi, kerja tim, bahkan pemikiran kritis. Apalagi ketika dipadukan dengan sesi edukasi formal,\" ujarnya kepada awak media.
Dukungan juga datang dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang membuka stan konsultasi literasi digital. Salah satu pengunjung, Rizky (17), mengaku terinspirasi untuk mendalami coding setelah melihat langsung hasil karya teman sebayanya. \"Saya pikir bikin aplikasi itu susah, ternyata bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Games-nya juga seru, saya bisa lihat pro player main langsung,\" katanya.
Puncak acara akan ditutup dengan pengumuman pemenang kompetisi inovasi digital dan pertandingan eksibisi antara tim juara melawan public figure squad yang diisi oleh selebritas dan streamer ternama.
Dengan konsep yang menyatukan empat pilar—teknologi, hiburan, edukasi, dan gaya hidup—TechEduFest 2025 diharapkan menjadi agenda tahunan yang mempercepat tumbuhnya ekosistem digital inklusif di Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)