Fadli Zon Desak Lindungi Lukisan Tertua di Goa Liangkobori

JAKARTA — BARU SAJA: Menteri Kebudayaan Fadli Zon melontarkan seruan darurat untuk menyelamatkan cagar budaya Goa Liangkobori yang menyimpan lukisan tertua dunia. Desakan ini muncul di tengah mening...

Jul 12, 2026 - 02:31
0 0
Fadli Zon Desak Lindungi Lukisan Tertua di Goa Liangkobori

JAKARTA — BARU SAJA: Menteri Kebudayaan Fadli Zon melontarkan seruan darurat untuk menyelamatkan cagar budaya Goa Liangkobori yang menyimpan lukisan tertua dunia. Desakan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman kerusakan situs prasejarah tersebut.

Fakta Kunci Lukisan Liangkobori

  • Usia: 44.000 tahun, mengalahkan rekor lukisan gua di Eropa.
  • Lokasi: Goa Liangkobori, Sulawesi Selatan, terpencil dan rawan vandalisme.
  • Motif: Figur manusia-binatang (therianthrope) dan stensil tangan purba.
  • Status: Telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 2022.

Lukisan ini menjadi bukti peradaban manusia modern awal di Wallacea. Gambar pemburu dengan kepala binatang menunjukkan narasi spiritual tertua yang pernah ditemukan. Tim peneliti dari Australia dan Indonesia mengonfirmasi usia lukisan melalui analisis uranium-thorium pada lapisan kalsit.

Pernyataan Tegas Menbud

“Saya minta seluruh elemen, dari masyarakat adat hingga pemerintah daerah, bergandengan tangan menjaga situs ini. Jangan sampai warisan dunia ini hancur karena ulah segelintir orang,” tegas Fadli Zon dalam keterangannya, Selasa sore. Ia menekankan perlunya patroli rutin dan pemasangan kamera pengawas di sekitar goa.

Menbud juga mendorong penerapan sanksi tegas bagi perusak cagar budaya. “Kami tak akan berkompromi. Siapa pun yang mencoret atau mengambil sampel batu akan dijerat Undang-Undang Cagar Budaya dengan ancaman pidana,” tambahnya. Rencana aksi pengamanan sudah dikordinasikan dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya setempat.

Ancaman yang Mengintai

Situs ini menghadapi tiga ancaman utama: erosi alami akibat perubahan iklim, vandalisme oleh pengunjung tak bertanggung jawab, dan aktivitas tambang liar di sekitar kawasan. Pada 2017, sebuah panel lukisan dilaporkan memudar setelah tersentuh tangan manusia. Hingga kini, akses ke goa belum memiliki sistem ticketing atau pengawasan penuh waktu.

“Evakuasi tidak mungkin, yang bisa dilakukan hanya konservasi in-situ. Kami siagakan tim pemantau dan tengah mengkaji struktur buffer zone,” ujar Kepala Bidang Pelestarian. Ia mengonfirmasi, perkembangan terbaru menunjukkan adanya retakan mikro pada dinding goa yang membutuhkan penanganan segera.

Langkah Darurat

Kementerian Kebudayaan telah merancang tiga langkah darurat: penutupan sementara untuk publik, pemasangan sensor getar, serta pelatihan masyarakat desa sebagai juru pelihara. “BREAKING: program adopsi situs akan diluncurkan bulan depan untuk melibatkan swasta dalam pendanaan konservasi,” ujar Fadli Zon. Ia memastikan anggaran perbaikan sudah dialokasikan dari APBN.

Saksi mata, seorang pemandu lokal bernama Ambo, melaporkan lonjakan pengunjung ilegal selama musim libur. “Hampir setiap minggu ada yang mencoba masuk tanpa izin, bahkan ada yang berusaha menjual fragmen batu ke kolektor,” ungkapnya. Data terbaru menunjukkan 12 kasus pelanggaran dalam enam bulan terakhir.

“Kita hanya menitipkan warisan ini untuk anak cucu. Satu goresan bisa menghapus ribuan tahun peradaban,” kata Fadli Zon menutup pernyataan. Masyarakat diimbau melapor melalui hotline 24 jam jika menemukan aktivitas mencurigakan. UPDATE: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional akan mengirim tim forensik untuk mengkaji kerusakan mikro.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User