Dari Pinjaman Rp2 Juta, Kini Berdayakan Perempuan dan Difabel

BARU SAJA — Sugeng Paijo, yang akrab disapa Jojo, mendadak jadi perbincangan setelah mengungkapkan bahwa usaha kerajinan rumahan yang ia rintis dengan modal Rp2 juta kini berhasil memberdayakan pulu...

Jul 13, 2026 - 18:03
0 0

BARU SAJA — Sugeng Paijo, yang akrab disapa Jojo, mendadak jadi perbincangan setelah mengungkapkan bahwa usaha kerajinan rumahan yang ia rintis dengan modal Rp2 juta kini berhasil memberdayakan puluhan perempuan dan penyandang difabel. Pengakuan ini disampaikan dalam sebuah sesi wawancara eksklusif, Selasa (15/4/2025).

Jojo, 32 tahun, mengawali segalanya dari nol. Tepat setelah menikah dengan Khania Kendarsyah, pasangan muda itu hanya mampu menyewa rumah petak berukuran 4x5 meter di pinggiran kota. Kondisi itu justru menjadi titik balik yang memicu tekad Jojo untuk bangkit.

Pinjaman Rp2 Juta dan Mimpi di Ruang Sempit

Tanpa modal besar, Jojo memutuskan meminjam uang Rp2 juta dari seorang kerabat. Uang itu ia gunakan untuk membeli bahan baku kerajinan tangan, seperti kain perca dan manik-manik, yang kemudian diolah istrinya menjadi tas dan aksesori. Produk awal dijual dari pintu ke pintu dan melalui media sosial.

"Saya tidak menyangka dari ruangan 4x5 meter itu kami bisa bertahan dan akhirnya berkembang," ujar Jojo. Dalam waktu tiga bulan, pesanan mulai berdatangan. Jojo kemudian merekrut tetangga sekitar untuk membantu produksi. Kebanyakan dari mereka adalah ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan tanpa meninggalkan rumah.

Dari Rumah Petak ke Sentra Pemberdayaan

Perlahan, usaha Jojo berkembang. Tahun 2023, ia meresmikan sebuah bengkel kerja kecil yang dikelola secara kolektif. Kini, bengkel itu tidak hanya memproduksi kerajinan, tetapi juga menjadi tempat pelatihan gratis bagi perempuan dan penyandang difabel. Data terbaru menunjukkan, lebih dari 60 orang telah terlibat dalam rantai produksi, mulai dari penjahitan, pengemasan, hingga pemasaran digital.

  • 60+ penerima manfaat: mayoritas perempuan dan difabel yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.
  • Omset bulanan: dilaporkan menembus Rp80 juta, naik 400% dari tahun pertama.
  • Program pelatihan: sudah meluluskan 120 peserta dalam dua tahun terakhir.

Yang menarik, seluruh keuntungan diinvestasikan kembali untuk membuka lapangan kerja baru. Jojo menyebut ini sebagai model bisnis sosial tanpa investor luar.

Dampak Nyata bagi Difabel dan Perempuan

Salah satu penerima manfaat, Rina (29), penyandang tuna daksa, mengaku hidupnya berubah total setelah bergabung. "Saya bisa bekerja dari rumah tanpa harus berhadapan dengan stigma. Jojo memberikan modul khusus dan alat bantu," katanya. Sementara itu, kelompok ibu-ibu yang dulu hanya sebagai buruh cuci kini memiliki penghasilan tetap Rp3-5 juta per bulan.

Keberhasilan ini menarik perhatian pemerintah daerah. Dinas Sosial setempat berencana mengadopsi model pemberdayaan Jojo untuk program padat karya. KONFIRMASI dari pihak terkait diharapkan dalam pekan ini.

Masa Depan: Target 500 Penerima Manfaat

Jojo tidak berpuas diri. Ia menargetkan pada 2026 bisa memberdayakan 500 perempuan dan difabel di tiga wilayah baru. Rencana ekspansi ini akan didukung platform e-commerce yang lebih luas dan sistem manajemen inventori yang sedang dikembangkan bersama tim sukarelawan teknologi.

Kisah Jojo membuktikan, modal pas-pasan bukan halangan untuk menciptakan dampak besar. Dari rumah petak 4x5 meter, ia kini menjelma menjadi penggerak ekonomi inklusif yang patut ditiru.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User