Bonnie Triyana: Bedah Buku Marhaenisme untuk Kritisasi Digital Gen Z
BARU SAJA — LEBAK: Bonnie Triyana melontarkan ajakan tegas kepada generasi muda: hidupkan kembali ruang diskusi! Lewat bedah buku Marhaenisme, sejarawan ini membakar semangat kritis Gen Z di tengah ...
BARU SAJA — LEBAK: Bonnie Triyana melontarkan ajakan tegas kepada generasi muda: hidupkan kembali ruang diskusi! Lewat bedah buku Marhaenisme, sejarawan ini membakar semangat kritis Gen Z di tengah gempuran kapitalisme digital yang kian mencekik. Acara yang digelar di Lebak, Banten, ini langsung menyedot perhatian puluhan anak muda yang haus akan pemikiran kritis.
Diskusi yang berlangsung intens tersebut membedah relevansi Marhaenisme di era platform digital. Bonnie, yang dikenal sebagai penulis dan sejarawan publik, menekankan bahwa prinsip-prinsip Soekarno tentang rakyat kecil justru sangat relevan untuk membongkar ketimpangan ekonomi digital masa kini. "Buruh klik, kurir daring, dan konten kreator adalah Marhaenis modern yang harus sadar akan eksploitasi algoritma," tegasnya di hadapan peserta.
Fakta Kunci Acara
- Lokasi: Lebak, Banten — pusat gerakan Marhaenisme historis.
- Peserta: 45 orang Gen Z dari berbagai komunitas diskusi.
- Bonnie Triyana: Sejarawan, pemimpin redaksi Historia.id.
- Buku yang dibedah: Marhaenisme (karya klasik) dikaitkan dengan konteks kontemporer.
- Topik utama: Kapitalisme platform, peristiwa Kudatuli 1996, strategi berpikir kritis.
Kapitalisme Digital dalam Kacamata Marhaenis
Bonnie mengkritik keras model ekonomi gig yang dinilainya sebagai bentuk perbudakan modern. "Platform seperti Gojek atau Shopee bukan sekadar aplikasi—mereka adalah alat kontrol yang menghisap nilai lebih dari pekerja informal," ujarnya. Data internal yang ia paparkan menunjukkan bahwa 78% pekerja lepas daring tidak menyadari bahwa algoritma mengatur ritme kerja dan pendapatan mereka. Diskusi ini memantik kesadaran bahwa digitalisasi tanpa literasi kritis hanya akan menciptakan proletar baru.
Kudatuli: Pelajaran Sejarah yang Tak Boleh Pudar
Bagian paling emosional dari acara adalah ketika Bonnie mengaitkan peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996—yang dikenal sebagai Kudatuli—dengan krisis berpikir kritis hari ini. "Rezim menggunakan kekerasan untuk membungkam oposisi; kini, algoritma membungkam pikiran kita secara halus. Itu sebabnya ruang diskusi seperti ini harus dijaga," paparnya. Ia mengajak peserta untuk mempelajari sejarah sebagai cermin, bukan sekadar hafalan.
Merawat Daya Kritis Generasi Muda
Di penghujung acara, Bonnie menawarkan tiga langkah konkret untuk merawat berpikir kritis: pertama, menggelar bedah buku rutin di tingkat komunitas; kedua, membangun literasi digital yang mampu membongkar mitos kapitalisme; ketiga, tidak takut menyuarakan kebenaran. "Jangan biarkan ruang diskusi mati. Ini adalah senjata terakhir kita melawan kebodohan yang diorganisir," tutupnya disambut tepuk tangan meriah.
Acara ini menjadi bukti bahwa generasi Z tidak sekadar generasi rebahan, tetapi bisa menjadi garda terdepan dalam merawat nalar publik jika diberi ruang yang tepat. Bedah buku Marhaenisme di Lebak diperkirakan akan menjadi awal dari gerakan literasi kritis serupa di berbagai daerah.
Baca juga:
Comments (0)