Pasar Banjir Pesanan, Deodoran Tawas Callum Jaga Standar Mutu

JAKARTA, DETIK INI JUGA — Ledakan permintaan terjadi pada deodoran tawas produksi lokal. Brand Callum melaporkan pesanan masuk tiga kali lipat dalam dua pekan terakhir. Pihak perusahaan menegaskan, ...

Jul 12, 2026 - 17:53
0 0

JAKARTA, DETIK INI JUGA — Ledakan permintaan terjadi pada deodoran tawas produksi lokal. Brand Callum melaporkan pesanan masuk tiga kali lipat dalam dua pekan terakhir. Pihak perusahaan menegaskan, sistem produksi dirancang sangat ketat agar kualitas tetap prima.

Callum tidak mau kecolongan. Setiap tahapan produksi, mulai dari pemilihan bahan baku tawas hingga pengemasan akhir, berjalan di bawah pengawasan berlapis. Ini adalah kunci utama yang membuat produk mereka tetap diminati meski pasar dibanjiri produk serupa.

Kontrol Mutu Tanpa Kompromi

Manajemen Callum mengungkapkan, mereka menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang rigid. Bahan baku tawas dipilih dari tambang lokal berkualitas tinggi. Setiap batch diuji di laboratorium internal sebelum masuk jalur produksi.

“Kami memastikan setiap langkah terdokumentasi. Kalau ada deviasi sekecil apa pun, produksi langsung dihentikan,” ujar Rina Maharani, Kepala Produksi Callum, saat ditemui di pabrik mereka di kawasan industri Cikarang, Senin (14/4).

Proses penggilingan tawas menggunakan mesin berteknologi tinggi untuk menjaga kemurnian. Selanjutnya, serbuk tawas dicampur dengan bahan alami lain tanpa pengawet sintetis. Produk akhir dikemas dalam wadah ramah lingkungan yang didesain anti lembap.

  • Bahan baku: tawas asli tanpa campuran kimia berbahaya
  • Proses produksi: sistem batch terkontrol penuh
  • Uji kelayakan: meliputi pH, kehalusan, dan daya serap
  • Pengemasan: minimalis, bebas plastik, menjaga kualitas

Rina menambahkan, pihaknya juga melibatkan pihak ketiga untuk audit mutu secara berkala. “Kami ingin konsumen yakin bahwa produk yang mereka terima selalu sama, dari waktu ke waktu,” tegasnya.

Respons Pasar Melonjak

Lonjakan permintaan ini didorong oleh pergeseran gaya hidup sehat. Konsumen semakin sadar akan bahaya bahan kimia dalam deodoran konvensional. Tawas, yang bersifat antibakteri alami, menjadi pilihan utama.

Data internal Callum menunjukkan penjualan kuartal pertama 2025 naik 150 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Platform e-commerce mencatat produk ini masuk dalam top 3 deodoran terlaris selama tiga bulan berturut-turut.

Salah satu pembeli setia, Dian (34), mengaku beralih karena kulitnya sensitif. “Setelah pakai Callum, ketiak nggak iritasi lagi. Wanginya juga netral dan tahan lama,” katanya.

Callum tidak hanya mengandalkan pasar domestik. Tercatat, permintaan ekspor mulai mengalir dari Malaysia dan Singapura. Pihak manajemen menyatakan sedang mempersiapkan sertifikasi halal internasional untuk memperluas jangkauan.

Komitmen Jangka Panjang

Meski banjir pesanan, Callum menolak menambah kapasitas secara instan. Mereka memilih ekspansi bertahap sambil tetap menjaga standar. “Kami tidak akan berkompromi pada kualitas hanya demi mengejar volume,” kata Rina.

Investasi pada sumber daya manusia juga menjadi prioritas. Seluruh pekerja di lini produksi wajib mengikuti pelatihan rutin tentang good manufacturing practice (GMP). Setiap bulan, diadakan evaluasi untuk memastikan tidak ada celah yang bisa menurunkan mutu.

Dengan strategi ini, Callum optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar deodoran tawas lokal. Mereka bahkan tengah menyiapkan varian baru dengan tambahan ekstrak herbal untuk menyasar segmen anak muda.

Saat ini, stok di sejumlah marketplace sudah mulai menipis. Konsumen diimbau waspada terhadap produk tiruan yang mulai beredar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User