Alexandre Ramalingom: Mesin Gol Baru Persita Tangerang
Di tengah gegap gempita Liga 1 Indonesia musim 2025/2026, satu nama asing terus mencuri perhatian: Alexandre Ramalingom. Striker asal Madagaskar ini bukan
Di tengah gegap gempita Liga 1 Indonesia musim 2025/2026, satu nama asing terus mencuri perhatian: Alexandre Ramalingom. Striker asal Madagaskar ini bukan sekadar pelengkap kuota pemain asing Persita Tangerang, melainkan telah menjelma menjadi jantung serangan Pendekar Cisadane. Ketika banyak pemain impor kesulitan beradaptasi dengan panas dan kelembapan tropis, Ramalingom justru tampil bak predator haus gol—menggabungkan insting tajam di kotak penalti dengan etos kerja yang membuat pelatih dan suporter jatuh hati. Bagaimana seorang pemuda dari pulau di Samudra Hindia itu bisa menjadi tumpuan harapan Persita? Perjalanannya adalah kisah tentang ketekunan, tekad, dan sepak bola yang melampaui batas geografis.
Akar di Madagaskar, Ditempa di Prancis
Alexandre Ramalingom lahir pada 17 Maret 1993 di Madagaskar, negara kepulauan yang lebih dikenal dengan keanekaragaman hayatinya ketimbang talenta sepak bolanya. Namun, keluarganya pindah ke Prancis saat ia masih belia, dan di sanalah fondasi kariernya dibangun. Tidak seperti pemain lain yang menimba ilmu di akademi-akademi elite, Ramalingom merangkak dari bawah: ia memulai karier seniornya di klub-klub semi-profesional Prancis seperti US Créteil II dan JA Drancy, sebelum akhirnya menembus kompetisi yang lebih tinggi. Mentalitas pekerja keras ini terus melekat pada dirinya—sebuah sifat yang kelak menjadi pembeda ketika ia merantau ke belahan dunia yang berbeda.
Petualangan Panjang di Kompetisi Prancis dan Asia
Karier Ramalingom di Prancis tidak instan. Ia sempat membela FC Fleury 91, lalu pindah ke Le Puy Foot 43 di divisi ketiga Prancis (Championnat National). Di sinilah insting golnya mulai terasah: postur 182 cm yang gagah, pergerakan tanpa bola yang cerdas, dan penyelesaian akhir yang klinis membuatnya dilirik klub-klub Asia. Ketika tawaran dari Indonesia datang, banyak yang mengernyitkan dahi—mengapa meninggalkan Eropa untuk kompetisi yang relatif kurang dikenal? Namun, bagi Ramalingom, ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan diri di panggung yang berbeda. “Saya selalu percaya bahwa karier sepak bola bukan hanya soal nama besar klub, tapi tentang seberapa besar nyali Anda untuk beradaptasi,” kenangnya dalam sebuah sesi wawancara eksklusif.
“Saya selalu percaya bahwa karier sepak bola bukan hanya soal nama besar klub, tapi tentang seberapa besar nyali Anda untuk beradaptasi. Liga Indonesia keras, cepat, dan penuh tekanan—tepat seperti yang saya cari.” — Alexandre Ramalingom, saat ditanya alasannya bergabung dengan Persita Tangerang
Debut yang Bicara Lebih Keras dari Kata-kata
Bergabung dengan Persita Tangerang pada awal musim 2025, Ramalingom langsung menjadi pilihan utama pelatih di lini depan. Debutnya di Stadion Indomilk Arena bukan sekadar formalitas: ia membukukan assist dan nyaris mencetak gol spektakuler melalui tendangan salto yang membentur mistar. Sejak saat itu, kepercayaan diri tim meningkat drastis. Rekan-rekannya mengakui bahwa kehadiran Ramalingom menambah dimensi baru pada skema ofensif—bukan hanya sebagai target man, tetapi juga sebagai pemantul bola yang mampu menciptakan ruang bagi pemain sayap dan gelandang serang.
Gaya Bermain: Kombinasi Fisik dan Insting
Jika harus mendeskripsikan gaya bermain Ramalingom, maka julukan “mesin gol” bukanlah hiperbola. Dengan rata-rata 2,3 tembakan tepat sasaran per laga dan kemampuan duel udara yang unggul (ia memenangi lebih dari 60% duel udara), ia adalah mimpi buruk bagi bek tengah lawan. Namun, yang paling mengejutkan adalah visinya: tidak egois, ia kerap turun menjemput bola untuk kemudian melepaskan through pass akurat ke ruang kosong. “Dia bukan striker yang hanya menunggu umpan; dia ikut membangun serangan,” puji asisten pelatih Persita. Sentuhan lembut dan keseimbangan tubuh yang luar biasa membuatnya sulit dihentikan dalam situasi satu lawan satu.
Lebih dari Sekadar Pemain—Simbol Harapan
Di luar lapangan, Ramalingom juga cepat akrab dengan budaya lokal. Ia terlihat menikmati nasi goreng di warung sederhana dekat mess, dan sering mengunggah momen bersama suporter di media sosial. Bagi para pendukung Persita, ia bukan hanya pahlawan berkat gol-golnya, tetapi juga karena kerendahan hati dan dedikasinya. Ketika tim mengalami periode sulit di tengah musim, ia berdiri paling depan menyemangati rekan-rekan mudanya. “Saya datang ke sini untuk memberikan yang terbaik, bukan hanya untuk karier saya, tetapi untuk orang-orang yang mencintai klub ini,” ujarnya dengan mata berbinar.
Masa Depan dan Ambisi Bersama Persita
Dengan kontrak yang masih berjalan, Ramalingom bertekad membawa Persita Tangerang menembus papan atas klasemen dan mungkin—suatu hari nanti—meraih trofi Liga 1. Usia bukan penghalang; di usia 32 tahun, ia justru merasa berada di puncak performa. Pengalamannya ditempa di berbagai iklim sepak bola membuatnya menjadi aset berharga tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai mentor bagi striker muda Indonesia yang bercita-cita tinggi.
Perjalanan Alexandre Ramalingom adalah bukti bahwa sepak bola adalah bahasa universal: seorang anak Madagaskar yang besar di Prancis dapat menjadi idola di Tangerang, Indonesia. Dan selama bola masih menggelinding di Lapangan Indomilk, namanya akan terus disenandungkan oleh ribuan suara yang percaya bahwa musim ini, sesuatu yang istimewa sedang ditulis di langit Cisadane.
Comments (0)