Danantara Ungkap Investasi USD1 Juta pada Proyek Sampah Jadi Listrik
Di tengah hiruk pikuk upaya transisi energi bersih nasional, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dengan mantap melangkah ke depan publik. Bukan untuk me
Di tengah hiruk pikuk upaya transisi energi bersih nasional, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dengan mantap melangkah ke depan publik. Bukan untuk meresmikan gedung baru atau meneken kontrak raksasa, melainkan untuk membocorkan satu angka yang selama ini diselimuti spekulasi: nilai investasi proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang digarap oleh perusahaan pelat merah tersebut. Angka itu mencapai USD1 juta atau setara Rp 17,3 miliar—sebuah nominal yang langsung memantik diskusi di kalangan pengamat energi dan pengelolaan sampah perkotaan.
Bocoran ini bukan tanpa maksud. Di balik senyum khas Rosan, tersirat pesan tegas bahwa Danantara serius memasuki arena yang selama ini dipandang sebelah mata: mengubah tumpukan sampah menjadi kilowatt listrik. Proyek PSEL menjelma sebagai simbol baru ambisi perusahaan, menjembatani problem limbah urban yang kian menggunung dengan kebutuhan energi bersih yang tak kunjung terpuaskan.
Kilas Balik: Dari Sampah Menuju Terang
Konsep waste-to-energy bukanlah wacana anyar di Indonesia. Sejumlah kota besar seperti Surabaya dan Jakarta sudah lama mendambakan solusi konkret atas krisis kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, implementasinya kerap tersandung biaya tinggi dan teknologi yang rumit. Danantara hadir sebagai katalis dengan pendekatan yang terukur: merancang fasilitas modular yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Proyek PSEL yang dibocorkan Rosan ini rencananya akan dibangun di kawasan yang belum diungkapkan secara rinci, namun dipastikan berada di salah satu kota metropolitan dengan produksi sampah lebih dari 1.500 ton per hari. Teknologi yang diadopsi adalah insinerasi terkontrol dengan sistem penyaringan emisi ketat, sehingga klaim ramah lingkungan bisa dipertanggungjawabkan.
Di Balik Angka USD1 Juta: Bukan Sekadar Uang
Ketika publik mendengar angka USD1 juta, mungkin ada yang mencibir: “Hanya segitu?” Namun, menurut Rosan, nilai tersebut merupakan initial investment yang mencakup studi kelayakan, perizinan, dan pengadaan prototipe skala kecil. Tahap awal ini krusial untuk meyakinkan investor besar bahwa teknologi yang dipilih memang cocok dengan karakteristik sampah lokal—yang didominasi oleh sampah organik basah dengan kadar air tinggi.
“USD1 juta adalah trigger. Setelah prototipe berjalan dan menghasilkan listrik yang stabil, kami siap mengerek investasi hingga 20 kali lipat untuk pembangunan fasilitas komersial berkapasitas 500–1.000 ton per hari,” ujar Rosan dalam wawancara eksklusif, Rabu (17/07/2024).
Pernyataan Rosan menyiratkan strategi bertahap yang hati-hati. Danantara tampaknya belajar dari kegagalan proyek sejenis di masa lalu yang langsung melompat ke skala besar tanpa menguji variabel kunci: komposisi sampah, suplai konstan, dan kesiapan operator lokal.
Mengurai Dampak Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi
Proyek PSEL ini bukan hanya tentang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ia menawarkan efek domino yang menyentuh hajat hidup masyarakat terbawah, terutama para pemulung dan pelaku ekonomi informal di sekitar TPA. Danantara berkomitmen untuk melibatkan mereka dalam rantai pasok, mulai dari pemilahan awal hingga perawatan fasilitas.
“Kami tidak akan menggusur pemulung. Mereka adalah mitra strategis yang memahami sampah lebih dari siapa pun. Dengan pelatihan dan standar keselamatan, kami ingin mereka naik kelas menjadi tenaga profesional,” tambah Rosan dengan nada optimistis.
Sementara itu, dari sisi pengurangan emisi gas rumah kaca, proyek ini diproyeksikan mampu memotong metana—gas yang 25 kali lebih kuat dari CO₂ dalam memerangkap panas—yang biasanya lepas begitu saja dari tumpukan sampah terbuka. Jika berhasil, Danantara akan mencatatkan karbon kredit yang bisa diperdagangkan di pasar global, menciptakan pendapatan tambahan sekaligus mengerek citra hijau perusahaan.
Tantangan yang Mengintai di Tikungan
Meskipun narasi yang dibangun terkesan mulus, Rosan tidak menutup mata terhadap rintangan. Yang paling menonjol adalah resistensi masyarakat yang kerap muncul akibat trauma insinerator tua yang mengeluarkan asap hitam pekat. Untuk itu, Danantara menggandeng konsultan lingkungan independen dan merancang program kunjungan warga ke fasilitas percontohan di luar negeri.
Ada pula tantangan regulasi yang tak kalah pelik. Hingga kini, status hukum listrik dari sampah masih berada di wilayah abu-abu antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM, dan PLN. Rosan optimistis, dengan dukungan penuh dari kementerian koordinator, persoalan ini akan segera terurai.
Peta Jalan Menuju 2030
Danantara mematok target ambisius: pada 2030, setidaknya lima kota di Pulau Jawa dan Sumatera akan memiliki fasilitas PSEL yang terhubung ke jaringan PLN. Total kapasitas yang diincar adalah 50 megawatt, cukup untuk menerangi 100 ribu rumah tangga dengan asumsi konsumsi 500 watt per rumah. Target ini sejalan dengan peta jalan transisi energi nasional yang menetapkan bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada 2025.
Bocoran investasi awal ini boleh jadi hanya setitik air di lautan kebutuhan energi negeri. Namun bagi Rosan, ia adalah percikan yang akan membakar semangat perubahan. Dalam setiap langkahnya, CEO Danantara itu seperti ingin membuktikan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, melainkan keputusan untuk bergerak walau bukit rintangan mengadang.
[SOCIAL_TWEET]: CEO Danantara @RosanRoeslani membocorkan investasi awal proyek pengolahan sampah jadi listrik (PSEL) mencapai USD1 juta. Strategi bertahap untuk yakinkan investor besar? Simak cerita lengkapnya di BeritaTercepat.com 🌱⚡ #EnergiBersih #Danantara[SOCIAL_TG]: 🔌 DANANTARA UNGKAP BIAYA PROYEK SAMPAH JADI LISTRIK CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut investasi awal proyek PSEL sebesar USD1 juta (Rp17,3 miliar). Itu baru tahap studi dan prototipe. Jika berhasil, dana akan digelembungkan 20 kali lipat untuk skala komersial. Proyek ini diklaim ramah lingkungan dan akan melibatkan pemulung sebagai tenaga terampil. Berita lengkap: [link]
Comments (0)