Ahli Toksinologi Ungkap Kondisi Psikis dr Icha Sebelum Meninggal: Panik dan Ketakutan
Beritatercepat.com, Jakarta – Dunia kedokteran Indonesia berduka. Seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni yang akrab disapa dr. Icha (27), ditemukan men
Beritatercepat.com, Jakarta – Dunia kedokteran Indonesia berduka. Seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur (NTT), dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni yang akrab disapa dr. Icha (27), ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di kediamannya. Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena terungkap bahwa menjelang akhir hayatnya, dr. Icha sempat mencurahkan isi hatinya kepada seorang tokoh terkemuka di bidang toksinologi, Dr. dr. Tri Maharani.
Dr. Tri Maharani, yang dikenal luas sebagai spesialis bisa ular dan racun di Indonesia, mengonfirmasi bahwa dirinya menjadi tempat berkonsultasi dr. Icha sesaat sebelum tragedi terjadi. Keduanya terlibat dalam diskusi intens terkait penanganan seorang pasien yang menjadi korban gigitan ular.
Telepon Penuh Kepanikan
Dalam keterangan yang diperoleh media kami, Dr. Maharani menceritakan detik-detik komunikasi terakhirnya dengan almarhumah. Suasana percakapan digambarkan sangat mencekam. Dr. Icha menelepon berkali-kali dalam kondisi psikologis yang sangat tertekan.
“Saya yang konsultasi dengan dokter Icha saat kejadian 13 Juni. Dokter telepon saya dalam kondisi takut dan kepanikan. Telepon saya tiga dan empat kali,”
Pengakuan ini memperkuat dugaan bahwa dr. Icha berada di bawah tekanan luar biasa saat bertugas. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang yang mengaitkan langsung kematiannya dengan beban kerja, curahan hati melalui sambungan telepon itu menjadi potret terakhir kondisi batin sang dokter.
Dinamika Psikologis Tenaga Medis
Kasus ini membuka kembali diskusi mengenai kesehatan mental tenaga kesehatan, khususnya mereka yang bertugas di daerah dengan fasilitas terbatas. Menangani pasien gigitan ular berbisa memerlukan keputusan cepat dan tepat, sebuah tanggung jawab yang dapat memicu stres akut. Dr. Tri Maharani dikenal aktif memberi pendampingan pada kasus-kasus darurat toksinologi di pelosok negeri, dan curahan dr. Icha menunjukkan bahwa kebutuhan akan dukungan psikologis bagi para dokter di garda terdepan begitu mendesak.
Percakapan pada 13 Juni itu menjadi saksi bisu betapa seorang dokter muda yang seharusnya fokus menyelamatkan nyawa justru bergulat dengan rasa paniknya sendiri. Telepon yang berulang kali masuk itu bukan sekadar permintaan nasihat medis, melainkan juga jeritan minta tolong yang sayangnya tak sempat tertangkap sepenuhnya oleh sistem pendukung di sekelilingnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih sangat terpukul. Publik pun menyampaikan duka mendalam seraya berharap ada investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada lagi nyawa melayang karena tekanan psikologis yang tak tertangani. Media kami akan terus memantau perkembangan kasus ini.
Comments (0)