Suasana Wisuda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2026 berlangsung berbeda dari biasanya. Di tengah ribuan wisudawan yang mayoritas merupakan putra-putri daerah, seorang pria berkulit gelap berdiri di podium utama dan menyapa hadirin dengan bahasa Jawa yang lancar. Ia adalah Mustapha Abolore Abdulwahab, wisudawan asal Nigeria yang terpilih sebagai perwakilan wisudawan dalam prosesi sakral tersebut.
Kefasihan Mustapha saat menyampaikan sambutan dalam bahasa Jawa sontak memecah keheningan ruangan. Ia tidak hanya menyapa dengan "Sugeng enjing", tetapi juga mengulas perjalanan akademiknya selama menempuh studi di Solo menggunakan unggah-ungguh bahasa Jawa yang tepat. Momen tersebut langsung menjadi sorotan publik dan viral di berbagai platform media sosial, menjadikannya simbol keberagaman di kampus kebanggaan Jawa Tengah itu.
Perjalanan Akademik di Kota Bengawan
Kisah Mustapha bukan cerita instan. Pria yang akrab disapa Mustapha ini menempuh perjalanan panjang sejak pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Berikut kronologi perjalanan pendidikannya hingga mampu menguasai bahasa Jawa:
- Tahun Pertama: Mustapha datang ke Indonesia sebagai mahasiswa internasional. Ia mengaku hanya bisa berbahasa Inggris dan sedikit bahasa Indonesia formal.
- Proses Adaptasi: Tinggal di lingkungan kampus dan kos membuatnya setiap hari berinteraksi dengan warga lokal yang berbicara dengan dialek Jawa kental.
- Belajar Otodidak: Ia aktif bertanya kepada teman sekelas mengenai arti kosakata Jawa yang ia dengar di pasar, angkringan, maupun dalam perkuliahan.
- Puncak Pidato: Dalam Wisuda UNS 2026, ia berani tampil sebagai perwakilan wisudawan dan menyampaikan sambutan sepenuhnya dalam bahasa Jawa.
Dalam pidatonya, Mustapha menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para dosen dan warga Solo yang telah menerimanya dengan tangan terbuka. "Kula matur nuwun sanget dumateng sedaya pihak ingkang sampun paring pituduh lan pitedah," ujarnya, yang berarti "Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan petunjuk."
Antara Kemampuan Bahasa dan Tantangan Pendidikan Global
Kisah sukses Mustapha menjadi cerminan menarik tentang dinamika pendidikan tinggi di Indonesia. Di satu sisi, kemampuan berbahasa asing—termasuk bahasa lokal—menjadi bukti bahwa mahasiswa internasional mampu beradaptasi. Namun, fenomena ini juga membuka diskusi lebih luas terkait pengelolaan mahasiswa asing di kampus dalam negeri.
| Aspek | Sebelum Kuliah | Setelah Lulus |
|---|---|---|
| Kemampuan Bahasa Indonesia | Dasar (formal) | Mahir |
| Kemampuan Bahasa Jawa | Tidak bisa | Fasih (Ngoko & Krama) |
| Interaksi Sosial | Terbatas pada komunitas internasional | Melebur dengan warga lokal |
Pengamat pendidikan internasional, Dr. Ratna Dewi, menilai bahwa capaian Mustapha merupakan bukti nyata dari keberhasilan program internasionalisasi kampus. "Keberanian Mustapha menunjukkan bahwa bahasa bukanlah penghalang utama dalam menuntut ilmu, melainkan jembatan untuk memahami budaya lokal," ujarnya saat dihubungi secara terpisah.
Meski demikian, ia mencatat bahwa masih banyak mahasiswa asing lain yang mengalami kesulitan serupa. Diperlukan pendampingan bahasa yang lebih terstruktur agar setiap mahasiswa internasional dapat meraih pengalaman belajar yang optimal, tidak hanya dalam akademik tetapi juga dalam sosial-budaya.
Kisah Mustapha menjadi pengingat bahwa semangat belajar tidak mengenal batas negara. Dari Nigeria ke Solo, ia membuktikan bahwa menguasai bahasa Jawa bukan hanya soal linguistik, tetapi juga soal ketulusan untuk menjadi bagian dari masyarakat setempat.
"Bahasa Jawa mengajarkan saya tentang kesopanan dan penghormatan. Ini bukan sekadar alat komunikasi, tapi filosofi hidup." — Mustapha Abolore Abdulwahab
Comments (0)