Sep 17, 2026
Jawa Tengah

MAGELANG — Ribuan Anggota Lindu Aji Gelar 1.000 Jatilan di Borobudur

Gemuruh suara gamelan dan derak langkah kaki ribuan penari berpadu harmonis di pelataran megah Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Suasana magis meling

MAGELANG — Ribuan Anggota Lindu Aji Gelar 1.000 Jatilan di Borobudur

Gemuruh suara gamelan dan derak langkah kaki ribuan penari berpadu harmonis di pelataran megah Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Suasana magis melingkupi kawasan warisan dunia tersebut ketika 1.000 penari Jatilan tampil serentak dalam gelaran bertajuk Culture Fest 2026. Ribuan anggota organisasi masyarakat Lindu Aji memadati area acara, memberikan dukungan penuh pada pertunjukan seni tradisional berskala kolosal ini. Kehadiran ribuan pasang mata dari berbagai penjuru daerah makin menegaskan vitalnya seni pertunjukan lokal dalam mempererat tali persaudaraan dan kebanggaan nasional.

Festival budaya ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan visual, melainkan sebuah pernyataan sikap akan pentingnya merawat identitas Nusantara di tengah derasnya arus modernisasi. Lewat entakan kendang dan atraksi energik para seniman Kuda Lumping, kawasan Candi Borobudur seolah bergetar menyambut kebangkitan seni kerakyatan yang dikemas secara inklusif, tertib, dan profesional.

Arah Baru Lindu Aji dan Pelestarian Budaya

Di balik kemegahan panggung kebudayaan ini, ada pesan mendalam yang ingin disampaikan oleh kepemimpinan anyar Lindu Aji. Ketum Lindu Aji, Fauka Noor Farid, menegaskan bahwa pergelaran ini menjadi tonggak sejarah penting untuk menunjukkan transformasi positif organisasi. Lindu Aji bertekad menanggalkan stigma lama dan melangkah mantap menuju arah baru yang berfokus pada kegiatan sosial, pelestarian seni warisan leluhur, serta penguatan ekonomi masyarakat.

"Lindu Aji kini hadir dengan wajah baru. Kami ingin membuktikan bahwa kekuatan organisasi ini disalurkan untuk hal-hal yang konstruktif, merawat kebudayaan bangsa, dan membantu kesejahteraan rakyat lewat pemberdayaan nyata," tegas Fauka Noor Farid di sela-sela kegiatan.

Pendekatan humanis dan berorientasi pada kebudayaan ini menjadi fondasi utama dalam pembinaan seluruh anggota di berbagai daerah. Langkah ini mendapat apresiasi luas dari tokoh masyarakat dan penggiat seni lokal yang merindukan kolaborasi erat antara organisasi kemasyarakatan dan elemen kebudayaan nasional.

Guncangan 1.000 Jatilan dan Pemberdayaan UMKM

Seni Jatilan—atau yang dikenal pula sebagai Kuda Lumping—merupakan tarian tradisional Jawa yang menggambarkan ketangkasan para prajurit berkuda. Menghadirkan 1.000 penari secara bersamaan memerlukan koordinasi tingkat tinggi dan komitmen yang kuat dari seluruh komunitas seni yang terlibat. Tak hanya menyajikan atraksi tari, Culture Fest 2026 juga mengintegrasikan puluhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk mendongkrak roda perekonomian masyarakat sekitar.

Berikut adalah rincian fokus dampak pelaksanaan Culture Fest 2026 di kawasan Candi Borobudur:

Indikator Kegiatan Capaian & Jumlah Dampak Sosial-Ekonomi
Penari Jatilan 1.000 Penari Kolosal Pelestarian seni tradisi & wadah panggung seniman lokal
Pelaku UMKM Puluhan Lapak Kuliner & Kriya Peningkatan pendapatan pedagang kecil di sekitar Borobudur
Massa Pendukung Ribuan Anggota & Wisatawan Geliat sektor pariwisata lokal dan industri jasa

Kehadiran para pelaku UMKM memberikan warna tersendiri dalam festival ini. Mulai dari jajanan tradisional, kerajinan tangan khas Magelang, hingga suvenir budaya laris manis diserbu pengunjung yang memadati area luar pelataran candi.

Borobudur Sebagai Pusat Panggung Kebudayaan Dunia

Pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi puncak acara dinilai sangat strategis. Sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas dan pusat spiritualitas dunia, Borobudur menyediakan panggung yang megah bagi seni kerakyatan seperti Jatilan untuk naik kelas. Inisiatif ini membuktikan bahwa situs sejarah dunia mampu menyatu secara harmonis dengan ekspresi budaya lokal yang dinamis.

Melalui komitmen berkelanjutan ini, Lindu Aji berharap Culture Fest dapat menjadi agenda tahunan yang dinantikan, sekaligus membentengi generasi muda dari lunturnya nilai-nilai kearifan lokal. Pelaksanaan festival yang tertib dan semarak ini membuktikan bahwa sinergi antara organisasi masyarakat, seniman tradisional, dan pelaku ekonomi kreatif mampu melahirkan gelombang perubahan yang positif bagi bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User