Warga Ibu Kota Ubah Kebiasaan: Pilah Sampah Jadi Kompos dan Cuan

Jakarta - Tumpukan sampah rumah tangga tidak lagi melulu berakhir sia-sia di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sebuah perubahan pola pikir mulai mengakar di berbagai permukiman padat di Jakarta. Warga k

Jul 08, 2026 - 04:46
0 0
Warga Ibu Kota Ubah Kebiasaan: Pilah Sampah Jadi Kompos dan Cuan

Jakarta - Tumpukan sampah rumah tangga tidak lagi melulu berakhir sia-sia di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sebuah perubahan pola pikir mulai mengakar di berbagai permukiman padat di Jakarta. Warga kini lebih cermat memilah botol plastik untuk disetor ke bank sampah, sementara limbah dapur berupa sisa makanan dan dedaunan kering tidak lagi dibuang begitu saja. Material organik tersebut diolah secara mandiri menjadi kompos berkualitas tinggi dan cairan serbaguna eco enzyme.

Berdasarkan laporan media kami, gerakan berbasis komunitas ini kian masif di tingkat Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Inisiatif ini lahir dari tangan-tangan warga yang sadar bahwa solusi persoalan sampah harus dimulai dari dapur mereka sendiri. Dengan peralatan sederhana seperti ember bertumpuk, komposter, serta drum plastik bekas, mereka menyulap limbah basah yang biasanya berbau busuk menjadi pupuk padat dan pupuk cair yang bernilai ekonomi.

Langkah akar rumput ini sejalan dengan strategi besar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam merevolusi tata kelola sampah. Warga secara aktif didorong untuk tidak lagi mencampur seluruh jenis sampah dalam satu wadah. Sebaliknya, pemilahan dan pengolahan wajib dilakukan sejak dari sumbernya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan bahwa transisi ini bukan sekadar proyek seremonial, melainkan transformasi budaya yang memerlukan konsistensi tinggi.

"Perubahan fundamental seperti ini membutuhkan kebiasaan kolektif yang dilakukan terus-menerus serta dukungan dari berbagai pihak. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata," ujar Pramono Anung.

Pemerintah Provinsi menilai kolaborasi multi-pihak antara jajaran birokrasi, masyarakat, pegiat komunitas lingkungan, serta para pelaku usaha menjadi kunci vital. Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan dampak yang signifikan dan nyata, tidak hanya pada pengurangan volume kiriman sampah ke Bantargebang, tetapi juga pada perputaran ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Salah satu warga di kawasan Jakarta Selatan menceritakan pengalamannya. Semula ia pesimis mengolah sampah organik karena khawatir bau dan kendala teknis. Namun, setelah mendapatkan pelatihan singkat dari kader lingkungan setempat, ia berhasil memproduksi kompos yang cukup untuk tanaman hias di pekarangan rumahnya. Bahkan, kelebihan produksi eco enzyme-nya kini rutin dijual ke sesama warga untuk pembersih lantai alami.

Fenomena ini membuktikan bahwa edukasi dan pendampingan intensif mampu mengubah limbah yang awalnya dianggap sebagai beban, menjadi aset yang berkontribusi pada penghijauan kota serta pendapatan tambahan bagi keluarga. Model pengelolaan sampah berbasis rumah tangga seperti ini diyakini akan menjadi benteng utama dalam mewujudkan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Lapangan. Reporter lapangan peristiwa terkini.

Comments (0)

User