Wamensos Bekali 191 Kepala Sekolah Rakyat Jadi Agen Perubahan

Jakarta — Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara resmi menutup Rapat Konsolidasi dan Pembekalan Kepala Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, meneg

Jul 08, 2026 - 13:48
0 0
Wamensos Bekali 191 Kepala Sekolah Rakyat Jadi Agen Perubahan

Jakarta — Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara resmi menutup Rapat Konsolidasi dan Pembekalan Kepala Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, menegaskan peran strategis para kepala sekolah sebagai ujung tombak pemutusan rantai kemiskinan. Kegiatan yang dipusatkan di Kulon Progo, DIY, ini diikuti 191 Kepala Sekolah Rakyat dari seluruh Indonesia — terdiri atas 166 kepala sekolah titik eksisting dan 25 kepala sekolah titik baru — serta 12 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah. Agus Jabo menekankan bahwa jabatan ini bukan sekadar posisi administratif, melainkan mandat perubahan sosial. "Kepala Sekolah Rakyat adalah pemimpin perubahan yang mengemban misi memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan," tegasnya dalam sesi daring dari kantor Kemensos. Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk menyediakan akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat prasejahtera, dengan pendekatan holistik mencakup gizi, karakter, dan keterampilan abad ke-21. Rapat konsolidasi ini menjadi penanda kesiapan jelang tahun ajaran baru yang menargetkan perluasan jangkauan ke 25 titik baru di wilayah prioritas kemiskinan ekstrem.

Analisis: Cetak Biru Pendidikan Inklusif atau Beban Birokrasi Baru?

Ekspansi Sekolah Rakyat ke 25 titik baru pada 2026/2027 layak dibaca sebagai respons terhadap stagnasi angka putus sekolah di kantong-kantong kemiskinan. Data BPS triwulan I-2026 mencatat 1,2 juta anak usia sekolah tidak bersekolah, mayoritas terkonsentrasi di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal). Penambahan titik Sekolah Rakyat secara geografis bisa menjadi katalis jika dibarengi tiga syarat: pertama, kualitas rekrutmen kepala sekolah yang punya rekam jejak di pendidikan inklusif — bukan sekadar loyalis birokratis; kedua, mekanisme monitoring berbasis outcome (tingkat literasi, angka melanjutkan ke jenjang berikutnya), bukan sekadar output (jumlah siswa terdaftar); ketiga, fleksibilitas kurikulum yang mengakomodasi kebutuhan lokal tanpa kehilangan standar nasional. Dr. Sri Wahyuni, pengamat kebijakan pendidikan dari LP3M, mengingatkan: "Kita perlu waspada pada jebakan ekspansi tanpa evaluasi. Sekolah Rakyat harus diuji bukan dari berapa banyak titik, tapi berapa banyak anak miskin yang benar-benar lepas dari kemiskinan dalam satu generasi." Perbandingan cakupan sebelum dan sesudah ekspansi memberi gambaran awal:

Indikator Sebelum (2025/2026) Sesudah (2026/2027)
Titik Sekolah 166 191
PPK Wilayah 12 12
Estimasi Siswa Tercakup ~83.000 ~95.500 (proyeksi)
Fokus Wilayah Eksisting Eksisting + 25 titik prioritas kemiskinan ekstrem

Dengan tambahan 25 titik, proyeksi siswa tercakup naik sekitar 15%. Angka ini signifikan, namun rentan menjadi kosmetik jika tidak ada standar mutu ketat. Ketiadaan penambahan PPK wilayah (tetap 12) juga perlu dicermati — beban pengawasan dan administrasi per PPK otomatis meningkat, berpotensi menurunkan kualitas tata kelola. Agus Jabo menutup kegiatan dengan optimisme, tetapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai saat bel tanda masuk pertama berbunyi di 25 titik baru itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User