Wagub Jateng Puji Kolaborasi SGN dan Petani Olah 57 Hektare Lahan Tidur
BANJARNEGARA – Wakil Gubernur Jawa Tengah memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis Santri Gayeng Nusantara (SGN) yang menggandeng petani setempat untuk menyulap hamparan lahan tidak pr...
BANJARNEGARA – Wakil Gubernur Jawa Tengah memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis Santri Gayeng Nusantara (SGN) yang menggandeng petani setempat untuk menyulap hamparan lahan tidak produktif menjadi kawasan pertanian bernilai ekonomi. Sebanyak 57 hektare tanah yang sebelumnya terbengkalai di Desa Bandingan, Kabupaten Banjarnegara, kini mulai menunjukkan geliat produktivitas berkat sinergi multipihak.
Transformasi Lahan Tidur
Lahan seluas 57 hektare tersebut merupakan aset milik Indonesia Power yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh aktivitas produktif. Kondisi ini berubah ketika SGN mengambil inisiatif menjembatani kepentingan korporasi dengan kebutuhan ekonomi warga sekitar. Para santri yang tergabung dalam organisasi ini tidak hanya membawa semangat keagamaan, tetapi juga visi pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Kolaborasi yang terjalin antara SGN dan petani lokal menjadi model pemanfaatan aset korporasi untuk kepentingan masyarakat. Lahan yang semula hanya ditumbuhi semak belukar kini disulap menjadi area pertanian terpadu. Berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura mulai menghijaukan kawasan yang sebelumnya identik dengan ketidakproduktifan.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Wakil Gubernur menilai inisiatif ini sebagai terobosan yang patut direplikasi di daerah lain. Menurutnya, masih banyak lahan tidur di Jawa Tengah yang berpotensi dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan dan menggerakkan roda perekonomian desa. Sinergi antara organisasi kepemudaan berbasis pesantren, petani, dan pihak korporasi dinilai sebagai formula tepat dalam mengatasi problem lahan menganggur.
Orang nomor dua di Jawa Tengah itu menekankan bahwa kunci keberhasilan program semacam ini terletak pada kemauan semua pihak untuk duduk bersama dan merumuskan skema yang saling menguntungkan. Indonesia Power sebagai pemilik lahan memberikan keleluasaan pemanfaatan, SGN menyediakan pendampingan dan jejaring, sementara petani lokal menyumbangkan tenaga serta kearifan agraris yang mereka miliki.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Pengelolaan 57 hektare lahan ini membawa dampak langsung bagi warga Desa Bandingan dan sekitarnya. Puluhan kepala keluarga kini memiliki sumber penghidupan baru dari lahan yang sebelumnya tidak memberikan manfaat ekonomi apa pun. Mereka tidak hanya bekerja sebagai penggarap, tetapi juga mendapatkan pembelajaran tentang teknik pertanian modern yang dibawa oleh para pendamping dari SGN.
Hasil panen dari lahan tersebut diproyeksikan mampu memasok kebutuhan pangan lokal sekaligus membuka peluang distribusi ke pasar yang lebih luas. Diversifikasi tanaman yang diterapkan juga mengurangi risiko gagal panen dan memberikan pendapatan yang lebih stabil bagi para petani sepanjang tahun.
Model Pemberdayaan Berkelanjutan
Skema kemitraan yang dibangun tidak bersifat karitatif, melainkan dirancang sebagai ekosistem bisnis sosial yang berkelanjutan. Petani mendapatkan akses lahan garapan, pendampingan teknis, dan kepastian pasar. SGN memperkuat perannya sebagai organisasi yang tidak hanya fokus pada pembinaan keagamaan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi umat.
Pemerintah provinsi berkomitmen untuk memberikan dukungan berupa pendampingan teknis dari dinas terkait, akses permodalan jika diperlukan, serta fasilitasi pemasaran hasil pertanian. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat scaling-up program serupa ke kabupaten lain yang memiliki persoalan lahan tidur.
Keberhasilan kolaborasi di Desa Bandingan menjadi bukti bahwa lahan terlantar bukanlah masalah tanpa solusi. Dengan pendekatan partisipatif dan semangat gotong royong, hamparan tanah yang selama ini menjadi beban dapat bertransformasi menjadi aset produktif yang menyejahterakan masyarakat.
Comments (0)