Sep 30, 2026
Hukum

Turis Inggris Dikecam Usai Keluh Harga Minuman di Kafe Auschwitz

BERITATERCEPAT.COM — Seorang turis asal Inggris menjadi sasaran kecaman luas di media sosial setelah mengunggah video di TikTok yang mengeluhkan mahalnya h

Turis Inggris Dikecam Usai Keluh Harga Minuman di Kafe Auschwitz

BERITATERCEPAT.COM — Seorang turis asal Inggris menjadi sasaran kecaman luas di media sosial setelah mengunggah video di TikTok yang mengeluhkan mahalnya harga minuman, smoothie yang dinilai terlalu encer, hingga tidak tersedianya kopi tanpa kafein di sebuah kafe yang berada di kawasan Museum Memorial Auschwitz-Birkenau, Polandia. Kawasan tersebut merupakan bekas kamp kematian Nazi yang menjadi simbol penderitaan jutaan manusia, sehingga keluhan yang dianggap remeh itu memicu kemarahan publik internasional.

Video yang diunggah pada Rabu tersebut diberi keterangan singkat "Prices at Auschwitz" dan dengan cepat menyebar hingga ditonton jutaan kali. Dalam rekaman itu, seorang perempuan bernama Lynne dan putrinya tampak mengeluhkan menu serta harga minuman di kafe sekitar lokasi memorial, tanpa menunjukkan rasa hormat terhadap konteks sejarah tempat tersebut.

Kronologi Viralnya Video Kontroversial

  1. Unggahan video: Lynne dan putrinya merekam keluhan soal harga minuman, kualitas smoothie, dan absennya pilihan kopi tanpa kafein di kafe dekat museum.
  2. Penyebaran cepat: Video berdurasi singkat itu menembus jutaan penayangan dalam waktu singkat dan masuk ke berbagai platform agregasi berita.
  3. Reaksi publik: Warganet menilai keluhan tersebut tidak peka karena disampaikan di lokasi yang menyimpan memori genosida.
  4. Sikap resmi museum: Pihak Auschwitz-Birkenau Memorial and Museum sebelumnya menegaskan bahwa pengunjung wajib berperilaku dengan "kesungguhan dan rasa hormat yang semestinya".

Auschwitz bukanlah destinasi wisata biasa. Antara tahun 1940 hingga 1945, lebih dari 1,1 juta orang dibunuh oleh rezim Nazi di kompleks kamp tersebut. Korban terbanyak adalah kaum Yahudi, disusul warga Polandia, Roma, serta tawanan perang Soviet. Sebagian besar korban tewas di kamar gas, sementara yang lain meninggal akibat kelaparan, penyakit, kerja paksa yang brutal, dan berbagai bentuk persekusi lainnya.

"Pengunjung diwajibkan berperilaku dengan kesungguhan dan rasa hormat yang semestinya selama berada di kawasan memorial."

Kritik terhadap turis Inggris itu bukan hanya soal nada bicaranya, tetapi juga soal cara menyebut nama tempat. Lynne dalam video tersebut melafalkan "Auschwitz" seperti "Oswitch", yang makin memperkuat kesan kurangnya pengetahuan dan sensitivitas terhadap sejarah kelam lokasi tersebut. Banyak warganet menyebut bahwa mengeluhkan harga minuman di tempat yang menjadi saksi genosida merupakan bentuk ketidakpekaan yang mengkhawatirkan.

Pelajaran soal Etika Berkunjung ke Situs Tragedi

Insiden ini kembali membuka diskusi tentang etika berwisata ke situs-situs bersejarah yang menyimpan trauma kolektif. Sejumlah pengamat pariwisata menilai media sosial mendorong sebagian wisatawan mengejar konten viral tanpa mempertimbangkan konteks lokasi. Mereka menyarankan agar pengunjung memahami latar belakang sejarah sebelum berkunjung, terutama ke tempat seperti Auschwitz, Hiroshima, atau bekas kamp genosida lainnya.

  • Hormati konteks: Situs memorial bukan tempat untuk mengeluh soal harga atau kualitas makanan.
  • Pelajari sejarah: Pemahaman dasar tentang peristiwa di lokasi membantu pengunjung bersikap tepat.
  • Bijak di media sosial: Konten yang diunggah dapat menyakiti keluarga korban dan penyintas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada permintaan maaf resmi dari Lynne maupun keluarganya. Pihak museum juga belum memberikan pernyataan tambahan terkait video tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kepekaan sejarah tidak bisa ditawar, terutama ketika kamera dan media sosial membuat setiap tindakan wisatawan dapat disaksikan dunia dalam hitungan jam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User