London — Pemerintah Inggris mengumumkan akan mengerahkan pesawat tanker udara Royal Air Force (RAF) jenis Voyager ke Arab Saudi menyusul meningkatnya konfrontasi Riyadh dengan kelompok Houthi di Yaman. Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan pada Selasa bahwa pengerahan ini merupakan respons atas permintaan langsung dari Riyadh, dengan alasan meningkatnya risiko terhadap jalur perdagangan regional dan pasokan energi global.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi yang menguasai sebagian besar Yaman utara kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir setelah bertahun-tahun relatif tenang. Kelompok yang juga dikenal sebagai Ansar Allah itu melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi, sementara pasukan pemerintah yang didukung Riyadh bertempur melawan mereka di dalam Yaman. Pesawat tanker RAF Voyager akan memberikan dukungan pengisian bahan bakar udara bagi apa yang disebut London sebagai "aktivitas defensif" Saudi di Yaman.
Menurut laporan, Riyadh telah meminta bantuan militer dari sejumlah negara karena stok rudal pencegatnya mulai tertekan. Presiden AS Donald Trump dikabarkan sempat mempertimbangkan serangan langsung terhadap Houthi akhir pekan lalu, namun akhirnya menahan diri. Washington memilih memberikan intelijen dan data penargetan kepada Riyadh ketimbang terjun langsung.
Red Sea Memanas: Mokha Jatuh, Bab el-Mandeb Terancam
Houthi mencatat kemajuan besar di sepanjang pantai Laut Merah Yaman. Mereka merebut pelabuhan Mokha serta sejumlah pulau strategis di sekitar Bab el-Mandeb, selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kelompok itu juga menargetkan kapal-kapal yang terkait Saudi dan menuntut pencabutan blokade Yaman sebelum negosiasi dibuka.
Signifikansi Bab el-Mandeb melonjak karena lalu lintas melalui Selat Hormuz masih terganggu parah akibat perang AS-Iran. Data pemerintah AS menunjukkan aliran minyak melalui Hormuz anjlok dari 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025 menjadi hanya 4,9 juta barel per hari — penurunan drastis yang memaksa jalur alternatif seperti Laut Merah menanggung beban lebih besar.
| Indikator | Q4 2025 | Terkini |
|---|---|---|
| Aliran minyak Selat Hormuz | 21,6 juta bph | 4,9 juta bph |
| Status Pelabuhan Mokha | Dikuasai Riyadh | Direbut Houthi |
| Aset dikerahkan Inggris | — | 1 tanker RAF Voyager |
Dilema Strategis London dan Riyadh
Langkah Inggris memperkuat kehadiran militernya di kawasan ini menuai sorotan. "Pengerahan tanker terlihat sebagai dukungan logistik yang relatif rendah risiko, tetapi secara politis menegaskan posisi London di sisi Riyadh," ujar seorang analis pertahanan Timur Tengah. Namun, eskalasi ini juga berpotensi menyeret Inggris lebih dalam ke konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Bagi Riyadh, tekanan utamanya bukan hanya serangan Houthi, melainkan keterbatasan persediaan rudal pencegat. Tanpa pasokan intelijen dan logistik dari sekutu, kemampuan pertahanan udara Saudi menghadapi gelombang drone dan rudal balistik bisa terkuras. Sementara itu, Houthi memanfaatkan momentum dengan menguasai titik-titik strategis di Laut Merah, menciptakan ancaman langsung terhadap rute pelayaran global.
Dengan Hormuz yang lumpuh dan Bab el-Mandeb kini dalam jangkauan Houthi, stabilitas pasokan energi dunia berada di titik rawan. Pengerahan tanker RAF Voyager menjadi sinyal bahwa London dan Riyadh bersiap menghadapi fase konflik yang lebih panjang — sekaligus taruhan geopolitik yang bisa memperluas perang Yaman melampaui batas wilayahnya.
Comments (0)