Tri Tito Berbaju Adat Sulsel Pimpin Syukuran 46 Tahun Dekranas

MAKASSAR — Semarak perayaan empat dekade lebih perjalanan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) berlangsung di Makassar. Syukuran 46 tahun organisasi itu dihadiri langsung Ketua Harian Tri Tito yang t...

Jul 13, 2026 - 16:06
0 0
Tri Tito Berbaju Adat Sulsel Pimpin Syukuran 46 Tahun Dekranas

MAKASSAR — Semarak perayaan empat dekade lebih perjalanan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) berlangsung di Makassar. Syukuran 46 tahun organisasi itu dihadiri langsung Ketua Harian Tri Tito yang tampil mencuri perhatian dengan balutan busana adat khas Sulawesi Selatan, simbol kuat pengakaran budaya dalam gerakan pemberdayaan kerajinan nasional.

Warisan Budaya Jadi Kekuatan Utama

Kehadiran Tri Tito bukan sekadar seremoni. Pakaian adat yang dikenakannya langsung mengirim pesan tegas: warisan leluhur adalah fondasi tak tergantikan bagi produk kerajinan Indonesia. Setiap motif tenun, anyaman, dan ukiran yang lahir dari tangan perajin, tegasnya, memikul cerita yang harus dijaga dan dikembangkan di tengah gempuran produk massal.

Syukuran yang digelar di salah satu pusat kebudayaan Makassar ini dihadiri para pengurus Dekranas, perajin binaan, hingga pemangku kepentingan daerah. Acara dirancang tidak hanya sebagai seremoni, melainkan momentum evaluasi dan konsolidasi gerakan kriya nasional yang telah berusia nyaris setengah abad.

Inovasi dan Kualitas Tak Bisa Ditawar

Dalam kesempatan itu, perhatian publik tertuju pada penekanan yang disampaikan Ibu Negara sekaligus Dewan Pembina Dekranas, Selvi Gibran. Inovasi produk dan peningkatan kualitas menjadi dua pilar yang ditekankannya sebagai kunci menjaga daya saing di pasar yang kian ketat.

“Kerajinan kita punya jiwa, tapi jiwa itu harus dibungkus dengan kemasan yang bisa berbicara di tingkat global. Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, justru memperkuatnya dengan teknik baru, desain segar, dan pemanfaatan teknologi tepat guna,” ujar Selvi Gibran di hadapan hadirin, seperti dikutip dari sesi tanya jawab yang berkembang dalam syukuran.

Sorotan tajam juga diarahkan pada konsistensi kualitas. Pengrajin diminta tidak tergoda memproduksi massal tanpa kontrol mutu. Setiap produk yang meninggalkan bengkel kerja harus menjadi duta budaya Indonesia, bukan sekadar komoditas. Pendekatan itu, sambungnya, akan membuka akses ke pasar ekspor premium serta mendongkrak harga jual yang lebih adil bagi para perajin.

Peran Strategis Dekranas Menuju Pasar Global

Syukuran ini juga menjadi panggung untuk mengingatkan kembali mandat besar Dekranas. Sejak berdiri, lembaga ini menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat lewat kerajinan. Kini, dengan bonus demografi dan akselerasi digital, peran itu harus lebih terukur.

Program pendampingan perajin, pelatihan desain kontemporer, dan fasilitasi akses pemasaran menjadi pekerjaan rumah yang dikebut. Digitalisasi pemasaran disebut-sebut sebagai game changer yang akan segera diperluas ke seluruh sentra kerajinan di Indonesia. Langkah itu diharapkan mampu memangkas rantai distribusi yang selama ini menggerus margin keuntungan perajin kecil.

Tri Tito sendiri menegaskan komitmennya untuk mempercepat hilirisasi produk kerajinan. “Bapak dan ibu perajin tidak boleh hanya jadi penonton di negeri sendiri. Sudah waktunya kita rebut pasar dengan keunikan yang tidak dimiliki negara lain,” tegasnya dalam pidato singkat yang disambut tepuk tangan.

Harapan untuk Setengah Abad Berkarya

Menjelang setengah abad, Dekranas tidak ingin terjebak pada romantisme masa lalu. Syukuran ini ditutup dengan tekad menjadikan kerajinan Indonesia sebagai tuan rumah di kancah dunia. Seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah pusat hingga desa, didorong untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya wirausaha-wirausaha kriya tangguh.

Kolaborasi antardaerah, riset pasar internasional, dan perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi paket kebijakan yang akan terus digaungkan. Dengan semangat yang sama seperti saat didirikan 46 tahun lalu—namun kini diperkuat teknologi dan akses global—Dekranas menatap masa depan dengan optimisme tinggi.

Perayaan malam itu menjadi bukti bahwa ketika tradisi dan inovasi bertemu, Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin pasar kerajinan dunia. Dan semua itu dimulai dari selembar kain tenun yang dikenakan seorang pemimpin di atas panggung syukuran, di tengah kota Makassar yang kaya sejarah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User