SELAT SUNDA, Beritatercepat.com — Memasuki hari kelima operasi pencarian dan pertolongan (SAR), tim gabungan terus berpacu dengan waktu untuk menemukan delapan orang yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. Para korban yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut hingga kini belum ditemukan setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami hilang kontak di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Operasi penyisiran skala besar terus digencarkan meski tim di lapangan harus menghadapi tantangan medan maritim yang sangat berbahaya. Cuaca ekstrem serta dinamika vulkanik di sekitar pulau-pulau terluar Selat Sunda menjadi faktor utama penghambat mobilitas armada penyelamat.
Kendala Gelombang Tinggi dan Hujan Abu Vulkanik
Kondisi perairan di sekitar gugusan Kepulauan Krakatau dilaporkan sangat dinamis. Badan SAR Nasional (Basarnas) bersama unsur TNI Angkatan Laut, Polairud, dan relawan maritim memperluas radius pencarian hingga ke sektor selatan dan barat daya pulau terdekat dari kawah aktif.
"Fokus utama kami adalah menyisir perairan terbuka dan garis pantai pulau-pulau tak berpenghuni di depan Anak Krakatau. Namun, tinggi gelombang laut mencapai 2 hingga 2,5 meter serta jarak pandang yang sangat terbatas akibat guyuran abu vulkanik menjadi tantangan berat bagi personel penyelamat," ujar Koordinator Misi SAR Gabungan di posko taktis.
Hujan abu vulkanik yang pekat tidak hanya memperpendek jarak pandang visual nakhoda kapal patroli hingga di bawah 500 meter, tetapi juga berisiko mengganggu kinerja mesin serta sistem navigasi armada pencari yang beroperasi di zona terdekat.
Kronologi dan Tahapan Penyisiran Hari Ke-5
Berikut adalah urutan agenda dan langkah taktis yang ditempuh tim SAR gabungan sepanjang operasi pencarian hari kelima:
- Pukul 06.00 WIB: Pembagian sektor SAR menjadi empat zona utama mencakup area pesisir pulau penyangga, perairan lepas Selat Sunda, hingga jalur lintas penyeberangan kapal niaga.
- Pukul 09.30 WIB: Armada kapal patroli menemukan beberapa serpihan kayu dan perlengkapan kapal yang terdampar di pesisir pulau tak berpenghuni di depan kompleks Krakatau, yang segera diamankan untuk proses identifikasi forensik.
- Pukul 13.00 WIB: Penghentian sementara manuver kapal kecil di zona terdalam akibat peningkatan intensitas hembusan abu vulkanik dan turbulensi laut.
- Pukul 15.30 WIB: Pengerahan wahana udara nirawak (drone termal) untuk memindai vegetasi pantai berbatu yang sulit dijangkau melalui jalur pendaratan laut.
Pengerahan Armada Tambahan dan Evaluasi Taktis
Guna mempercepat proses evakuasi dan pencarian, posko SAR telah mengajukan penambahan kapal berdaya jelajah tinggi serta peralatan pendeteksi bawah air (sonar). Pihak keluarga korban yang terus memantau di posko pelabuhan berharap operasi dapat segera membuahkan hasil pasti.
- Area Fokus: Gugusan pulau karang di sektor barat laut dan pesisir selatan Selat Sunda.
- Kekuatan Personel: Lebih dari 120 personel gabungan lintas instansi diterjunkan.
- Peralatan Utama: Kapal SAR kelas 1, Rigid Inflatable Boat (RIB), drone pemantau udara, dan perangkat komunikasi satelit darurat.
Operasi pencarian direncanakan akan terus dimaksimalkan sesuai standar operasional prosedur penyelamatan maritim, sembari terus memantau peringatan dini cuaca dari BMKG dan aktivitas vulkanik dari PVMBG.
Comments (0)