Susah Ya Susah, Kaya Ya Kaya: Pesan Pramono untuk Warga

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara tegas meminta seluruh warga Ibu Kota untuk menjawab setiap pertanyaan dalam Sensus Ekonomi 2026 dengan penuh kejujuran. Ia menekankan, tidak ada g...

Jul 14, 2026 - 18:03
0 0
Susah Ya Susah, Kaya Ya Kaya: Pesan Pramono untuk Warga

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara tegas meminta seluruh warga Ibu Kota untuk menjawab setiap pertanyaan dalam Sensus Ekonomi 2026 dengan penuh kejujuran. Ia menekankan, tidak ada gunanya menutupi kondisi ekonomi sebenarnya karena data yang akurat akan langsung berdampak pada kualitas kebijakan pemerintah.

"Susah ya susah, kaya ya kaya. Sampaikan apa adanya. Kalau data kita ngawur, bantuan sosial bisa salah sasaran, perencanaan infrastruktur juga meleset," ujar Pramono saat memberikan keterangan di Balai Kota, belum lama ini. Pernyataan bernada lugas itu menjadi penekanan utama jelang pelaksanaan sensus yang akan dimulai pekan depan.

Landasan Kebijakan yang Tepat Sasaran

Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar pendataan rutin. Hasilnya akan menjadi dasar penghitungan produk domestik regional bruto (PDRB), penyusunan anggaran, hingga formula penyaluran subsidi dan bantuan langsung tunai. Pramono menjelaskan, jika warga dengan ekonomi menengah ke atas melaporkan pendapatan lebih rendah, maka kelompok yang benar-benar membutuhkan justru bisa kehilangan haknya.

"Kami tidak ingin subsidi BBM atau KJP plus diterima oleh mereka yang sebenarnya tidak berhak hanya karena data dilaporkan tidak jujur," tegasnya. Sebaliknya, laporan yang lebih tinggi dari kenyataan juga akan merugikan warga itu sendiri karena bisa mengeluarkan mereka dari daftar penerima program perlindungan sosial.

Sensus Beda dengan Pajak

Kekhawatiran warga bahwa data ekonomi akan dipakai untuk mengejar pajak dibantah langsung oleh Pramono. Ia memastikan, Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai pelaksana sensus dijamin oleh undang-undang untuk menjaga kerahasiaan data individu. Informasi yang dikumpulkan hanya akan diolah menjadi agregat statistik, bukan diserahkan ke otoritas perpajakan.

"Petugas sensus itu datang hanya untuk memotret kondisi ekonomi. Bukan untuk menagih pajak. Jadi, ceritakan sejelas-jelasnya bagaimana usaha atau pekerjaan Anda saat ini," imbaunya.

Sasaran Rumah Tangga dan Pelaku Usaha

Sensus kali ini menyasar dua kelompok besar: rumah tangga dan pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima, UMKM, hingga perusahaan besar. Petugas akan mendatangi 1,2 juta bangunan sensus di seluruh Jakarta, menanyakan omzet, jumlah tenaga kerja, jenis komoditas, serta pola konsumsi rumah tangga.

Pramono menekankan pentingnya validasi data dari pelaku usaha mikro yang kerap enggan melaporkan omzet sebenarnya. "Kalau omzet sehari-hari Rp500 ribu, ya bilang Rp500 ribu. Jangan dikecilkan jadi Rp100 ribu karena takut dianggap sukses. Data itu penting untuk memetakan potensi ekonomi Jakarta secara riil," tuturnya.

Partisipasi Kunci Akurasi

Pemerintah Provinsi DKI telah mengerahkan 25 ribu petugas sensus yang dibekali tablet dan aplikasi pemutakhiran data. Mereka akan bekerja selama tiga bulan. Pramono meminta warga untuk menerima petugas dengan baik dan memberikan jawaban yang benar. "Kejujuran Anda adalah investasi bagi masa depan Jakarta," kata Pramono menutup keterangannya.

Dengan sensus yang jujur, Pemprov DKI menargetkan basis data tunggal kesejahteraan yang lebih akurat. Data itu akan menjadi kompas bagi setiap keputusan strategis, dari pembangunan rumah susun hingga penempatan pasar rakyat. Pramono percaya, partisipasi warga tanpa manipulasi akan menjadikan Sensus Ekonomi 2026 sebagai pijakan kuat transformasi Jakarta.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User