Standar Fasilitas Hotel Melonjak Imbas Tren Wellness, Industri Pool Tumbuh Pesat
JAKARTA, DETIK INI JUGA – Lanskap perhotelan nasional bergerak cepat. Ledakan kesadaran wellness di kalangan pelancong memaksa pelaku industri mengerek standar fasilitas kolam renang dan kebugaran k...
JAKARTA, DETIK INI JUGA – Lanskap perhotelan nasional bergerak cepat. Ledakan kesadaran wellness di kalangan pelancong memaksa pelaku industri mengerek standar fasilitas kolam renang dan kebugaran ke level tertinggi sepanjang sejarah.
Data terbaru yang dihimpun Beritatercepat menunjukkan, properti bintang empat dan lima di kota besar dan destinasi wisata utama kini menjadikan infinity pool, hydrotherapy, hingga pusat yoga sebagai menu wajib. Bukan lagi sekadar pemanis, melainkan syarat mutlak untuk bersaing.
Pergeseran Prioritas
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Bali, yang enggan disebutkan identitasnya, mengonfirmasi pergeseran drastis itu. “Dulu tamu bertanya soal jarak ke pantai. Sekarang, yang pertama dicek adalah kualitas kolam renang dan fasilitas spa. Angkanya naik tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir,” ujarnya, Selasa (17/6).
Fenomena ini merata. Dari Labuan Bajo hingga Mandalika, hotel berbintang berlomba-lomba merenovasi area air mereka. Saksi mata di kawasan Nusa Dua melaporkan sedikitnya tujuh properti besar tengah membangun adult-only pool demi memenuhi permintaan segmen wisatawan kesehatan (health tourist) yang tumbuh 41% secara tahunan berdasarkan catatan Kementerian Pariwisata.
Standar kebersihan dan teknologi air juga melonjak. Sistem filtrasi canggih, kontrol suhu digital, serta desain ramah lingkungan menjadi patokan baru. “Ini bukan tren sesaat. Ini perubahan struktural yang dipicu oleh pandemi dan semakin populernya gaya hidup sehat global,” tambah pengamat perhotelan dari Universitas Indonesia.
Industri Pool Banjir Order
Gelombang peningkatan standar itu langsung menciptakan efek domino. Perusahaan kontraktor kolam renang komersial mengaku kewalahan menangani lonjakan pesanan. PT Tirta Utama Konstruksi, salah satu pemain besar di Jakarta, mencatat pertumbuhan kontrak 68 persen dibandingkan tahun lalu.
“Kami sampai harus menambah tiga tim pemasangan baru. Hotel-hotel tidak lagi hanya ingin kolam renang standar berbentuk persegi panjang. Mereka minta fitur arus buatan, saltwater system, bahkan integrasi dengan aplikasi pemantau kualitas air real-time,” jelas Direktur Operasional perusahaan tersebut saat ditemui di kantornya.
Bukan cuma pembangunan baru. Permintaan peremajaan (retrofit) kolam tua juga naik tajam. Banyak hotel legendaris menyadari aset mereka ketinggalan zaman dan berpotensi kehilangan tamu kelas premium. Alhasil, belanja modal untuk sektor akuatik perhotelan diproyeksikan mencapai Rp2,8 triliun sepanjang 2025, rekor tertinggi yang pernah tercatat.
Pelaku UMKM pun ikut terimbas positif. Produsen keramik khusus kolam, pemasok garam mineral, hingga penyedia jasa perawatan harian melaporkan omzet naik dua hingga lima kali lipat. “Ini adalah masa keemasan bagi ekosistem bisnis kolam renang,” tegas Ketua Asosiasi Kontraktor Kolam Renang Indonesia (AKKORIN) saat dikonfirmasi terpisah.
Meski demikian, para pemangku kepentingan mengingatkan agar ekspansi ini tidak mengorbankan aspek keselamatan dan keberlanjutan. Penggunaan air berlebih dan bahan kimia harus dikelola ketat. Standar baru ini, tegas mereka, harus selaras dengan prinsip pariwisata hijau yang semakin digaungkan pemerintah.
Dengan proyeksi kunjungan wisatawan mancanegara yang menembus 16 juta pada 2026, para analis meyakini relasi antara tren wellness, fasilitas hotel, dan industri pool baru memasuki fase awal pertumbuhan eksponensial. “Investasi di kenyamanan air adalah investasi paling pasti di era hospitaliti modern,” tutup seorang konsultan independen.
Baca juga:
Comments (0)