Soekarno Pencetus Pancasila Ditahan hingga Depresi di Masa Tua

Nasib tragis menimpa penggali dan pencetus Pancasila, Soekarno, di penghujung hayatnya. Sang proklamator yang mengguncang dunia dengan pidato 1 Juni 1945 i

Jul 11, 2026 - 12:00
0 0
Soekarno Pencetus Pancasila Ditahan hingga Depresi di Masa Tua

Nasib tragis menimpa penggali dan pencetus Pancasila, Soekarno, di penghujung hayatnya. Sang proklamator yang mengguncang dunia dengan pidato 1 Juni 1945 itu justru menghabiskan masa tua sebagai tahanan politik yang sakit-sakitan dan depresi. Ironisnya, negara yang fondasinya ia letakkan sendiri melalui lima sila sakti malah mengisolasi dirinya dalam sunyi.

Lahirnya Pancasila dari Pikiran Brilian

Tanggal 1 Juni 1945 menjadi tonggak sejarah ketika Soekarno, di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), mengusulkan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Dengan penuh semangat, Bung Karno merumuskan lima prinsip: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pidato itu menjadi cetak biru ideologi bangsa yang menyatukan keragaman Nusantara. Tanpa sumbangsih pemikiran brilian itu, Indonesia mungkin tak akan memiliki landasan filosofis sekuat sekarang.

Puncak Kekuasaan dan Awal Kejatuhan

Sebagai presiden pertama, Soekarno memimpin Indonesia dengan gaya revolusioner. Ia mendirikan berbagai monument nasional dan menjadi ikon gerakan Non-Blok global. Namun, situasi politik memanas setelah Gerakan 30 September 1965. Soekarno mulai kehilangan dukungan militer dan parlemen, yang akhirnya memuluskan jalan bagi Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan.

Melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Soekarno terpaksa menyerahkan mandat kepada Soeharto. Sejak saat itu, kekuasaannya tergerus hingga akhirnya ia diberhentikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 1967. Bung Karno yang dulu disanjung sebagai pemimpin besar revolusi kini hanya menjadi tahanan tanpa proses hukum yang adil.

Masa Tahanan yang Menyiksa

Setelah Supersemar, Soekarno ditahan di Wisma Yaso, Jakarta, yang kini menjadi Museum Pengkhianatan PKI. Di rumah mewah yang sunyi itu, ia hidup terisolasi dari dunia luar. Komunikasi dengan keluarga dan sahabat dibatasi. Para pengawal ketat menjaga setiap geraknya. Mantan presiden ini tak lagi bisa menikmati deburan pantai atau keriuhan rakyat yang dulu selalu menyambutnya.

Kondisi fisiknya terus menurun. Soekarno menderita penyakit ginjal kronis, tekanan darah tinggi, dan gangguan jantung. Dalam catatan para dokter, ia juga menunjukkan gejala depresi berat. Rasa terasing, kehilangan kekuasaan, serta rasa dikhianati oleh orang-orang terdekatnya membuat kesehatan mentalnya jebol. Beberapa kali ia mengungkapkan kesedihan mendalam karena diabaikan oleh rezim baru yang justru diberi legitimasi oleh Supersemar.

Salah satu sumber dekat menuturkan,

"Bung Karno sering menangis sendiri di kamarnya. Dia merasa dibuang oleh bangsanya sendiri, padahal dia yang membuat bangsanya merdeka."
Selama masa tahanan, ia beberapa kali mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Namun, kondisi mentalnya tidak pernah benar-benar pulih karena tekanan politik dan pengasingan yang berlarut-larut.

Pemerintah Orde Baru bahkan melarang kunjungan bebas, termasuk dari istri dan anak-anaknya. Soekarno hanya bisa ditemui oleh segelintir keluarga dengan pengawalan ketat. Hal ini menambah penderitaan batin seorang tokoh yang pernah begitu dicintai rakyat.

Akhir Hayat yang Sepi

Pada 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhir di RSPAD. Kematiannya mengguncang bangsa yang sempat terpecah. Rakyat berduka, namun rezim memberlakukan pemakaman dengan protokol militer ketat di Blitar, Jawa Timur, bukan di Istana Negara sesuai permintaannya. Hingga akhir, Bung Karno tidak pernah mendapatkan pemulihan nama baik secara penuh semasa Orde Baru. Kini, pengakuan sebagai Bapak Bangsa dan Pencetus Pancasila terus diupayakan oleh generasi penerus melalui pendidikan sejarah dan penetapan hari lahir Pancasila setiap 1 Juni.

Sejarah mencatat, ironi terbesar Soekarno adalah ia menciptakan Pancasila untuk mempersatukan, namun di masa tuanya ia justru disingkirkan oleh sistem yang dibangun di atas fondasi yang ia letakkan sendiri.

[SOCIAL_TWEET]: Tragis! Soekarno, penggali Pancasila yang menyatukan Indonesia, justru wafat sebagai tahanan politik yang depresi dan sakit-sakitan. Bagaimana perjalanan hidupnya berakhir sepi? #SejarahIndonesia #Soekarno #Pancasila[SOCIAL_TG]: 😢 Soekarno, penggali Pancasila, ditahan hingga depresi dan wafat dalam kesunyian. Benarkah pendiri bangsa ini diabaikan oleh sistem buatannya sendiri? Simak kisah kelam masa tuanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User