Skor PISA Indonesia Jalan di Tempat, Papan Interaktif Belum Berbuah Lompatan
JAKARTA – Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru kembali menempatkan Indonesia di papan bawah. Skor kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih ...
JAKARTA – Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru kembali menempatkan Indonesia di papan bawah. Skor kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih jauh dari ambang kecukupan global, meski berbagai program digitalisasi sekolah sudah digulirkan.
Angka yang Tak Banyak Bergerak
Dibandingkan dengan rerata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menjadi acuan, jaraknya begitu lebar. Skor membaca Indonesia masih di kisaran 359, matematika 366, dan sains 383. Angka ini praktis tidak menunjukkan lompatan berarti dari siklus-siklus sebelumnya. Padahal, target peningkatan mutu pembelajaran sudah ditetapkan sejak bertahun-tahun lalu.
"Ini alarm keras. Kita sudah harus jujur bahwa gimmick teknologi di kelas tidak otomatis mengerek kemampuan literasi dan numerasi siswa," ujar seorang pengamat pendidikan yang enggan disebut namanya.
Papan Interaktif Digital yang Belum Optimal
Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir gencar memasang papan interaktif digital serta perangkat teknologi informasi di ruang-ruang kelas. Tujuannya jelas: memicu lompatan belajar melalui konten multimedia dan akses informasi yang lebih kaya. Namun, hasil PISA menunjukkan dampaknya belum merata.
Banyak guru masih kesulitan mengintegrasikan perangkat tersebut ke dalam model pengajaran. Di banyak daerah, papan digital lebih sering menjadi papan tulis biasa yang lebih mahal. Pelatihan yang tidak berkelanjutan dan keterbatasan konten lokal yang relevan turut menyumbang pada masalah ini.
Sejumlah guru melaporkan bahwa infrastruktur listrik dan internet yang tidak stabil masih menjadi hambatan utama. Akibatnya, sesi pembelajaran menggunakan papan interaktif kerap terputus dan kehilangan momentum.
Bukan Soal Perangkat Semata
Perwakilan dari kementerian terkait menyatakan bahwa papan interaktif hanyalah satu alat, bukan solusi tunggal. "Lompatan belajar hanya akan terjadi jika transformasi pedagogi berjalan seiring. Guru harus diberdayakan untuk mendesain pembelajaran berbasis inkuiri, bukan sekadar memindahkan catatan dari buku ke layar," ujar pejabat tersebut dalam jumpa pers kemarin.
Pihak kementerian juga menegaskan akan mempercepat program pelatihan guru berbasis praktik dan pengembangan konten digital buatan lokal yang sesuai dengan kurikulum. Upaya ini diperkirakan akan mulai menunjukkan hasil pada siklus PISA mendatang.
Kesenjangan Semakin Tajam
Data PISA juga menunjukkan kesenjangan yang semakin dalam antara siswa di perkotaan dan di daerah terpencil. Di kota-kota besar, keberadaan papan interaktif mulai terlihat dampaknya pada peningkatan skor secara bertahap. Namun di wilayah dengan akses terbatas, angkanya justru stagnan atau bahkan menurun.
Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Vietnam terus merangsek naik dengan pendekatan yang lebih fundamental: perbaikan kualitas guru, bukan sekadar pengadaan perangkat keras. Evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan teknologi pendidikan pun mendesak dilakukan.
Tanpa perubahan strategi yang radikal, papan interaktif digital hanya akan menjadi perabot mahal tanpa arti. Razia kebijakan yang menitikberatkan substansi belajar ketimbang kilau layar sentuh kini makin disuarakan banyak pihak.
Baca juga:
Comments (0)