SIP 2026 UMN Sambut 140 Peserta dari 13 Negara
TANGERANG — BARU SAJA, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengonfirmasi dimulainya Sustainability Immersion Program (SIP) 2026. Sebanyak 140 mahasiswa dari 13 negara siap menjalani program aksi ...
TANGERANG — BARU SAJA, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengonfirmasi dimulainya Sustainability Immersion Program (SIP) 2026. Sebanyak 140 mahasiswa dari 13 negara siap menjalani program aksi lingkungan paling intensif di kampus tersebut.
Program ini bukan sekadar lokakarya. Selama 14 hari ke depan, peserta akan terjun langsung menangani proyek keberlanjutan. "Ini perpaduan antara pengetahuan dan gerakan nyata," ujar Rektor UMN, Dr. Andi Prasetyo, beberapa menit lalu.
Dilaporkan, peserta tiba secara bertahap sejak kemarin. Hari ini, mereka resmi dibagi ke dalam 20 tim. Setiap tim akan menggali solusi untuk isu-isu kritis seperti sampah plastik, polusi udara, dan krisis air bersih.
Fakta Kunci Program
- 140 mahasiswa terlibat, meningkat 40% dari tahun lalu
- Berasal dari 13 negara, termasuk Australia, Jerman, India, dan Brasil
- Program berlangsung selama 14 hari penuh
- Lokasi proyek tersebar di Tangerang, Bogor, dan Kepulauan Seribu
- Fokus: daur ulang, energi terbarukan, dan konservasi mangrove
Setiap lokasi sudah disiagakan mentor ahli. Mereka mendampingi mahasiswa merancang dan mengeksekusi proyek. Di Kepulauan Seribu, misalnya, peserta akan membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air tawar menggunakan tenaga surya.
Aksi Darurat Iklim
"Darurat iklim bukan wacana. Kami ingin mahasiswa pulang dengan pengalaman memimpin perubahan," tegas Dr. Maya Rahayu, koordinator program. Tahun lalu, program serupa berhasil memproses lebih dari 1,5 ton sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Tahun ini, target meningkat dua kali lipat.
Para peserta juga akan berinteraksi dengan komunitas lokal. Mereka diajak mendirikan bank sampah digital yang terhubung dengan aplikasi seluler. Dengan begitu, warga dapat menukar sampah dengan poin sembako.
Saksi mata di lokasi pendaftaran melihat antusiasme tinggi. Seorang peserta asal Kenya, Aisha, menyatakan, "Saya ingin belajar langsung, bukan hanya teori. Indonesia adalah laboratorium keberlanjutan yang sempurna."
Pihak UMN sendiri menyatakan program ini bagian dari komitmen jangka panjang untuk mencetak pemimpin lingkungan global. Setelah program, setiap tim akan mendapat dana awal hingga Rp10 juta untuk melanjutkan proyek di negara asal.
UPDATE terbaru: hingga siang ini, seluruh peserta sudah mengikuti orientasi lapangan. Mereka kini bersiap menuju lokasi proyek masing-masing. Tim darurat medis juga disiagakan mengantisipasi cuaca panas ekstrem.
Program ini diperkirakan akan menghasilkan 20 prototipe solusi hijau. Semuanya akan dipamerkan pada hari terakhir di hadapan investor dan pejabat pemerintah. "Kami ingin ide-ide ini tidak berhenti di kampus," tutup Dr. Andi.
Comments (0)