Baru Diganjar Penghargaan, Kasat Narkoba Tangsel Malah Ditangkap
BREAKING — Ironi menampar institusi penegak hukum. Seorang kepala satuan narkoba di Tangerang Selatan baru saja ditangkap hanya berselang beberapa hari setelah menerima penghargaan atas kinerja ceme...
BREAKING — Ironi menampar institusi penegak hukum. Seorang kepala satuan narkoba di Tangerang Selatan baru saja ditangkap hanya berselang beberapa hari setelah menerima penghargaan atas kinerja cemerlangnya membongkar jaringan narkotika. Penangkapan ini menguak sisi gelap dari seorang perwira yang semula dipuja.
Kronologi Singkat
Perwira menengah berinisial R itu diamankan oleh tim gabungan dari Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Kamis dini hari. Operasi senyap berlangsung di ruang kerjanya di Mapolres Tangerang Selatan tanpa perlawanan. Barang bukti berupa uang tunai ratusan juta rupiah serta beberapa paket kecil sabu ditemukan di dalam laci meja, diduga terkait transaksi ilegal yang melindungi bandar.
Parahnya, penangkapan ini terjadi hanya empat hari setelah ia menerima pin emas dari Kapolda Metro Jaya dalam sebuah upacara resmi. Penghargaan itu diberikan atas keberhasilan timnya mengungkap pabrik ekstasi rumahan terbesar di wilayah hukumnya awal bulan ini. Prestasi yang kini berubah menjadi bumerang.
Detail Kasus
Informasi awal menyebutkan bahwa Kasat Narkoba tersebut diduga telah lama bermain mata dengan salah satu jaringan pengedar yang seharusnya ia tumpas. Alih-alih memberantas, ia justru menjadi backing dengan imbalan setoran rutin. Hal ini terkuak setelah penyidik BNN menganalisis komunikasi terenkripsi dari ponsel seorang bandar yang tertangkap dua pekan lalu. Pola percakapan mengarah pada seorang petinggi polisi di tingkat kewilayahan.
Fakta Mencengangkan:
Pemeriksaan internal menunjukkan aset pribadi perwira itu tidak wajar. Rumah mewah di kawasan elite dan beberapa mobil sport terdaftar atas nama kerabat, namun pembiayaannya terlacak ke rekening penampungan yang juga menampung dana dari transaksi narkoba. Tim penyidik kini tengah mendalami dugaan keterlibatan lebih dari satu oknum anggota di satuan tersebut.
Reaksi dan Langkah Tegas
Kapolda Metro Jaya merespons cepat dengan memecat tidak hormat terduga dan memerintahkan seluruh jajaran menjalani tes urine massal serta investigasi gaya hidup. "Kami tidak akan menutupi aib. Siapa pun yang mengkhianati seragam ini, apalagi di fungsi yang seharusnya menjadi garda terdepan perang melawan narkoba, akan kami tindak paling keras," tegasnya dalam konferensi pers darurat.
Publik dan pemerhati kepolisian menyambut baik transparansi ini, namun juga menyuarakan kekecewaan mendalam. Ironi terbesar adalah saat foto-foto penyematan penghargaan masih terpajang di laman resmi Polres, sang penerima sudah harus mendekam di sel tahanan khusus. Kasus ini menjadi pukulan telak bagi program bersih-bersih institusi yang sedang digencarkan.
Proses Hukum Berlanjut
Penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 114 dan Pasal 112 Undang-Undang Narkotika, subsider Pasal 12 huruf a dan b Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi atas penerimaan suap. Ancaman hukumannya mencapai hukuman mati atau penjara seumur hidup. Pemeriksaan maraton terhadap tersangka dan para saksi masih berlangsung di gedung BNN. Polisi juga memburu seorang bandar besar yang diduga kuat sebagai penyandang dana utama sindikat ini.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tentang menangkap pengedar di jalanan, tetapi juga memberangus sarang tikus di dalam markas sendiri.
Comments (0)