Respati Ardi Gagas Revolusi Sampah Solo, Edukasi dan Anggaran Jadi Kunci
SOLO — Wali Kota Solo Respati Ardi menyerukan sebuah transformasi fundamental dalam tata kelola persampahan kota. Ia menyebutnya sebagai 'revolusi sampah', sebuah langkah berani yang menuntut keterl...
SOLO — Wali Kota Solo Respati Ardi menyerukan sebuah transformasi fundamental dalam tata kelola persampahan kota. Ia menyebutnya sebagai 'revolusi sampah', sebuah langkah berani yang menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan cara-cara lama yang sudah tidak relevan.
Dalam pernyataannya, Respati menekankan bahwa permasalahan sampah bukan sekadar urusan teknis pengangkutan dan pembuangan. Lebih dari itu, terdapat dimensi kultural yang mengakar dan membutuhkan intervensi serius lewat jalur pendidikan serta keberpihakan anggaran yang memadai.
Edukasi Sebagai Fondasi Perubahan
Respati menyoroti bahwa titik lemah penanganan sampah selama ini terletak pada minimnya kesadaran publik sejak level rumah tangga. Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan dan enggan memilah merupakan persoalan perilaku yang harus diurai melalui edukasi masif dan berkelanjutan.
"Revolusi sampah tidak bisa setengah hati. Harus dimulai dari keberanian kita mengubah kebiasaan yang sudah puluhan tahun salah," ujar Respati dengan nada tegas.
Pemerintah kota, lanjutnya, akan merancang program penyuluhan yang menyasar sekolah-sekolah, perkampungan, dan komunitas warga. Targetnya bukan hanya sekadar memberi informasi, melainkan membentuk budaya baru dalam memandang sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Anggaran sebagai Wujud Komitmen
Di sisi lain, Respati mengakui bahwa revolusi ini membutuhkan dukungan finansial yang kuat. Ia memberi sinyal bahwa alokasi dana untuk sektor persampahan akan menjadi prioritas dalam postur anggaran ke depan. Langkah ini mencakup modernisasi infrastruktur pengolahan, penambahan armada pengangkut, serta pengembangan fasilitas daur ulang di tingkat kelurahan.
"Tanpa keberpihakan anggaran, semua wacana ini hanya akan menjadi retorika," tegasnya. "Kita harus berani menggeser pos-pos belanja yang kurang produktif untuk mendanai sektor vital ini."
Data dari Dinas Lingkungan Hidup setempat menunjukkan bahwa volume sampah harian Kota Solo terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir sudah mendekati batas maksimal. Hal ini kian menegaskan urgensi langkah revolusioner yang diusung oleh wali kota.
Kolaborasi dan Partisipasi Publik
Respati juga menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bergerak sendirian. Ia mengajak sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Kemitraan strategis akan dibangun guna mempercepat transfer teknologi pengolahan sampah dan membuka akses pendanaan alternatif di luar APBD.
Di tingkat warga, pemerintah berencana memperkuat peran bank sampah dan kader lingkungan yang sudah ada. Insentif akan diberikan kepada komunitas yang berhasil mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA secara signifikan.
"Revolusi ini adalah proyek bersama. Kalau warganya tidak bergerak, secanggih apa pun teknologi yang kita beli, hasilnya akan nihil," pungkas Respati.
Dengan deklarasi ini, Solo bergabung dengan sejumlah kota lain yang tengah berlomba mentransformasi sistem persampahan menuju model ekonomi sirkular. Publik kini menanti langkah konkret yang akan segera dituangkan dalam kebijakan dan program nyata di lapangan.
Baca juga:
Comments (0)