Surabaya — Sebanyak ratusan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi makanan yang disediakan selama rangkaian kegiatan akademik di lingkungan kampus. Peristiwa ini membuat sejumlah peserta didik harus mendapat penanganan medis dan mengganggu jadwal perkuliahan serta rotasi di rumah sakit pendidikan.
Insiden tersebut mulai terjadi ketika puluhan mahasiswa mengeluhkan keluhan pencernaan secara bersamaan. Mereka mengalami mual, muntah, diare, serta sakit perut melilit beberapa jam setelah menyantap makanan yang sama. Keluhan awal muncul pada sekelompok kecil peserta didik, lalu bertambah cepat sehingga petugas kesehatan kampus menyiapkan ruang observasi sementara.
Gejala yang Dialami Peserta Didik
Tim medis kampus mencatat bahwa gejala yang paling dominan berupa mual dan nyeri perut, diikuti demam ringan pada sebagian korban. Sebagian besar mahasiswa dilaporkan mengalami dehidrasi karena muntah berulang, sehingga sejumlah di antaranya perlu mendapatkan infus di klinik fakultas maupun instalasi gawat darurat rumah sakit pendidikan.
| Gejala | Perkiraan Keluhan |
|---|---|
| Mual dan muntah | Paling dominan |
| Nyeri perut dan diare | Menyusul beberapa jam kemudian |
| Demam ringan dan lemas | Dialami sebagian kecil korban |
Menurut keterangan salah seorang peserta didik yang menjadi korban, awalnya mereka tidak menyangka makanan tersebut bermasalah karena tidak ada aroma maupun tampilan yang janggal. "Kami makan hampir bersamaan, lalu tidak lama kemudian teman-teman berdatangan ke klinik dengan keluhan yang sama," ujarnya.
"Begitu jumlah pengunjung meningkat dalam waktu singkat, kami langsung menduga ada faktor makanan yang menjadi penyebabnya. Tim kemudian mengambil sampel sisa makanan untuk diperiksa lebih lanjut."
Pihak Kampus dan Penyedia Katering Merespons
Pihak Fakultas Kedokteran Unair menyatakan bahwa pihaknya segera berkoordinasi dengan unit kesehatan kampus dan penyedia katering untuk memastikan sumber kontaminasi. Seluruh sisa makanan dari penyedia yang sama dikarantina, sementara kegiatan konsumsi di area terdampak dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan.
Penyedia katering menyebut seluruh proses penyajian makanan telah mengikuti prosedur standar, namun pihaknya mengaku siap bekerja sama dalam pemeriksaan. Sampel makanan, air, serta alat penyajian diambil untuk diuji di laboratorium guna memastikan apakah terjadi kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli.
Langkah Penanganan dan Investigasi
Pihak kampus mengimbau seluruh peserta didik yang mengalami gejala untuk segera melapor ke klinik fakultas tanpa menunda-nunda. Dukungan psikologis juga disiapkan bagi mahasiswa yang merasa cemas, mengingat sebagian besar korban adalah tenaga medis yang sedang menjalani pendidikan spesialis dan memiliki jadwal pelayanan padat.
Sementara itu, Dinas Kesehatan setempat dikabarkan akan melakukan peninjauan langsung ke unit penyedia makanan guna memastikan kebersihan dapur, penyimpanan bahan, serta higiene petugas. Investigasi ini menjadi penting karena keracunan massal berpotensi menimbulkan dampak lebih luas jika sumbernya tidak segera diidentifikasi.
Hingga berita ini ditulis, sebagian besar mahasiswa telah dinyatakan stabil setelah menjalani perawatan dan istirahat. Pihak kampus berjanji akan mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium secepatnya dan menegakkan sanksi bagi pihak yang terbukti lalai menjaga keamanan pangan bagi warga akademik.
Comments (0)