Jakarta — Tren liburan baru tengah melanda wisatawan Tiongkok. Alih-alih membawa pulang oleh-oleh berupa kerajinan atau makanan khas, banyak turis China kini justru mengemas koper mereka dengan tumpukan pakaian murah yang hanya dipakai sekali selama perjalanan. Setelah puas berfoto, busana tersebut dibuang, ditinggalkan di kamar hotel, bahkan dijual kembali ke pasar loak sebelum pemiliknya pulang ke rumah.
Fenomena ini mulai menarik perhatian setelah sejumlah foto dan video beredar di media sosial. Dalam unggahan yang viral, terlihat turis berlalu-lalang di kawasan belanja mengenakan pakaian baru dengan label harga masih terpasang. Tak sedikit yang bahkan mengakui terang-terangan membeli busana hanya untuk keperluan pemotretan, bukan untuk dikenakan dalam jangka panjang.
Alasan di Balik Kebiasaan Baru
Sejumlah pengamat menyebut tren ini berakar dari gaya hidup konsumtif yang dipicu platform media sosial. Bagi banyak wisatawan muda, penampilan dalam foto liburan sama pentingnya dengan destinasi yang dikunjungi. Akibatnya, mereka rela mengeluarkan uang tambahan hanya untuk mengoleksi beberapa setelan baru yang cocok dengan latar belakang lokasi wisata.
Harga pakaian yang tergolong murah menjadi faktor pendorong utama. Di sejumlah pusat perbelanjaan dan pasar tradisional Asia, satu unit gaun atau kemeja bisa didapat dengan harga puluhan ribu rupiah saja. Angka tersebut dianggap kecil dibanding manfaat sosial yang diperoleh, yakni unggahan foto yang menarik dan mendapat banyak respons dari pengikut daring.
"Kami memang sengaja membeli baju baru di setiap kota yang dikunjungi. Harganya murah, dan setelah difoto, pakaian itu tidak perlu lagi dibawa pulang," ujar seorang wisatawan asal Shanghai kepada pemandu wisata setempat.
Di sisi lain, koper yang sudah penuh sering menjadi alasan praktis. Wisatawan tidak ingin repot membawa barang bawaan berlebihan, terutama jika mereka menempuh penerbangan dengan batas bagasi ketat. Membuang atau menjual pakaian bekas di lokasi tujuan dianggap cara paling efisien untuk menyiasati masalah tersebut.
Dampak bagi Industri dan Lingkungan
Kebiasaan ini ternyata membawa konsekuensi yang lebih luas. Industri ritel lokal di sejumlah destinasi wisata merasakan lonjakan penjualan, khususnya untuk segmen pakaian bermotif dan busana musiman. Pedagang bahkan mulai menyiapkan stok khusus yang ramah kamera, lengkap dengan warna terang dan potongan unik.
Namun dari sisi lingkungan, gambarannya berbeda. Sampah tekstil menjadi masalah serius yang kini semakin membesar. Secara global, jutaan ton pakaian berakhir di pembuangan setiap tahun, dan kontribusi dari aktivitas wisata seperti ini diproyeksikan terus bertambah.
- Pemborosan bahan baku karena pakaian hanya digunakan sekali.
- Penumpukan sampah tekstil di kota-kota tujuan wisata.
- Tingkat konsumsi meningkat tanpa diimbangi kesadaran daur ulang.
- Persaingan harga antar pedagang yang berujung pada penurunan kualitas barang.
Perubahan Pola Perilaku Wisatawan
Para ahli perjalanan menilai tren ini mencerminkan pergeseran pola konsumsi yang perlu diwaspadai. Konsumen modern cenderung mengutamakan pengalaman visual daripada nilai fungsional sebuah barang. Selama pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada publik, pengeluaran dianggap sepadan.
Sejumlah komunitas pelestari lingkungan mulai mengimbau wisatawan untuk memilih alternatif yang lebih bertanggung jawab, seperti menyewa pakaian, membeli produk bekas berkualitas, atau memanfaatkan busana yang sudah dimiliki dari rumah. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan laju sampah tekstil tanpa mengurangi keseruan berlibur.
Sementara itu, sebagian pelaku industri pariwisata justru melihat peluang besar dari tren ini. Mereka mulai menawarkan paket tur belanja, layanan foto profesional, hingga titik pengumpulan pakaian bekas untuk didaur ulang. Dengan begitu, kebiasaan sekali pakai tersebut setidaknya dapat diarahkan ke jalur yang lebih berkelanjutan.
Bagaimanapun, keputusan ada di tangan wisatawan sendiri. Apakah tren ini sekadar gaya sesaat yang akan pudar, atau justru menjadi kebiasaan baru yang terus direproduksi dari generasi ke generasi, masih menunggu jawaban dari waktu ke waktu.
Comments (0)