Pramono Minta Dishub Tertibkan Pak Ogah, Demi Jakarta Rapi
JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengeluarkan instruksi tegas yang langsung menyentil biang kemacetan Ibu Kota. Ia memerintahkan Dinas Perhubun
JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengeluarkan instruksi tegas yang langsung menyentil biang kemacetan Ibu Kota. Ia memerintahkan Dinas Perhubungan untuk segera membersihkan jalan protokol dari "Pak Ogah" — oknum pengatur lalu lintas ilegal yang selama ini menjadikan persimpangan macet sebagai ladang pendapatan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar menata kembali wajah Jakarta yang kerap dicap semrawut.
Perintah Tegas: Tak Ada Ampun untuk Pungli di Jalan
Dalam arahannya, Pramono tidak hanya menyasar satu sisi. Ia meminta Dishub menggandeng kepolisian untuk melakukan patroli rutin dan penindakan di titik-titik kritis. "Jalan protokol harus steril. Jangan sampai warga berpikir kemacetan sengaja dipelihara oleh segelintir orang," ujarnya dalam rapat koordinasi yang berlangsung di Balai Kota. Kombinasi petugas resmi dan aparat penegak hukum diyakini akan lebih efektif membongkar praktik informal ini. Poin penting yang disorot: pengamanan lalu lintas bukanlah bisnis dadakan, melainkan tanggung jawab negara.
Kenapa "Pak Ogah" Harus Hilang dari Jakarta?
Keberadaan pengatur jalan sukarela ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka membantu mengurai kendaraan di persimpangan yang lampu merahnya padam; di sisi lain, kehadiran mereka justru kerap menambah masalah. Banyak di antara "Pak Ogah" yang menahan arus kendaraan terlalu lama untuk memeras pengguna jalan. Alhasil, kemacetan ciptaan sendiri itu mengundang emosi dan kekacauan. Keputusan Pramono menertibkan mereka adalah langkah mengembalikan hak warga untuk melintas dengan aman dan tertib tanpa dipalak.
"Saya minta Dishub segera bertindak. Pak Ogah harus ditertibkan agar Jakarta lebih rapi. Kita tidak bisa mentolerir praktik yang merusak ketertiban umum," ucap Pramono dengan nada serius.
Senjata Tambahan: Shelter Ojol Diperbanyak
Namun penertiban "Pak Ogah" hanyalah satu potongan puzzle. Masalah lalu lintas Jakarta juga dipicu oleh kebiasaan ojek online (ojol) yang berhenti sembarangan menunggu penumpang. Menyadari hal ini, Pramono menginstruksikan penambahan shelter atau tempat singgah khusus ojol di berbagai titik strategis. Shelter ini akan beroperasi 24 jam dan dilengkapi fasilitas penunjang sehingga pengemudi ojol tak lagi memakan bahu jalan. Dengan tempat pangkalan yang jelas, arus lalu lintas diharapkan jauh lebih lancar.
Data sementara menyebutkan beberapa shelter baru sudah diidentifikasi di kawasan Sudirman, Thamrin, dan protokol lain yang padat mobilitas. "Ini bukan hanya soal penertiban, tapi juga solusi sistematis. Ojol perlu tempat yang manusiawi, dan ruang publik harus kita kembalikan ke fungsinya," tambah Pramono menutup arahan. Kolaborasi penertiban, penegakan hukum, serta penyediaan infrastruktur pendukung menjadi resep tiga lapis yang diharapkan langsung terasa dampaknya oleh warga Jakarta.
Sementara itu, warga menyambut positif instruksi gubernur. Mereka berharap penertiban ini tidak berhenti pada level imbauan, melainkan benar-benar berujung pada penindakan nyata. Jika berhasil, Jakarta akan mencatat sejarah baru: sebuah kota yang berhasil mendisiplinkan dirinya sendiri dari akar rumput paling liar.
Comments (0)