NEW DELHI, Beritatercepat.com — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi mendorong negara-negara anggota aliansi BRICS untuk mempererat integrasi ekonomi dan memperkuat kerja sama industrialisasi bersama. Seruan strategis ini disampaikan secara langsung di hadapan para pemimpin dunia saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, pada Minggu (13/9).
Langkah diplomasi ekonomi ini dinilai sangat krusial mengingat lanskap perekonomian global saat ini tengah dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik, inflasi berkepanjangan, serta kerentanan rantai pasok energi dan pangan dunia.
Kronologi dan Momen Kunci Pidato Presiden Prabowo di KTT BRICS
Kehadiran delegasi Indonesia di New Delhi menandai komitmen teguh pemerintah dalam memperluas jangkauan kerja sama ekonomi multilateral di kawasan global south. Rangkaian agenda pokok dalam forum tersebut mencakup beberapa fase penting:
- Sesi Pleno Pemimpin BRICS: Presiden Prabowo menyampaikan pidato utamanya dalam sesi pleno, memaparkan visi kemandirian ekonomi berkembang melalui kemitraan yang setara.
- Pertemuan Bilateral Tingkat Tinggi: Di sela-sela KTT, delegasi Indonesia mengadakan dialog intensif dengan sejumlah kepala negara untuk membahas kerja sama transfer teknologi dan manufaktur hijau.
- Deklarasi Penguatan Rantai Pasok: Forum menyepakati urgensi pembentukan koridor logistik terpadu antarnegara anggota guna memitigasi disrupsi perdagangan internasional.
Fokus Hilirisasi dan Kemandirian Industri Nasional
Dalam pemaparannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa negara-negara berkembang tidak boleh lagi sekadar menjadi eksportir bahan mentah bagi negara maju. Transformasi ekonomi harus bertumpu pada peningkatan nilai tambah di dalam negeri melalui program hilirisasi dan penguasaan teknologi industri manufaktur.
"Dunia sedang menghadapi volatilitas tinggi. Kunci dari ketahanan ekonomi kita adalah kemandirian industri dan kerja sama rantai pasok yang adil. Anggota BRICS memiliki kapasitas sumber daya yang luar biasa untuk menciptakan ekosistem industri bersama yang tangguh terhadap guncangan eksternal," ujar Presiden Prabowo di New Delhi.
Presiden menekankan bahwa ketergantungan sepihak pada jalur pasok konvensional sering kali merugikan negara-negara berkembang ketika krisis global meletus. Oleh karena itu, diversifikasi mitra dagang serta penguatan kapasitas produksi domestik menjadi prioritas utama Indonesia.
Poin Strategis Penguatan Sektor Manufaktur Bersama
Sebagai wujud konkret kerja sama BRICS di masa depan, Indonesia mengusulkan beberapa agenda kerja sama strategis, antara lain:
- Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik dan Baterai: Mengintegrasikan cadangan mineral kritis seperti nikel dan bauksit dengan teknologi manufaktur anggota BRICS lainnya.
- Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan: Kolaborasi riset pertanian presisi serta investasi bersama pada energi baru dan terbarukan (EBT).
- Fasilitasi Perdagangan Menggunakan Mata Uang Lokal (Local Currency Settlement): Mengurangi risiko fluktuasi mata uang asing dalam transaksi perdagangan bilateral antaranggota.
Melalui konsolidasi kekuatan ekonomi ini, Prabowo optimistis bahwa kelompok BRICS mampu menjadi pilar penyeimbang tata kelola ekonomi dunia yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh negara berkembang.
Comments (0)