Polusi Asap TPA Jatiwaringin Ancam Kesehatan Warga
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang telah menghasilkan kepulan asap tebal beracun yang kini mengancam kesehatan ribuan warga di sekitarnya. Berdas
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang telah menghasilkan kepulan asap tebal beracun yang kini mengancam kesehatan ribuan warga di sekitarnya. Berdasarkan pantauan tim di lapangan, kualitas udara di radius dua kilometer dari titik api telah masuk kategori berbahaya dengan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) melampaui ambang batas aman hingga lima kali lipat.
Asap hitam pekat yang mengandung gas metana, karbon monoksida, dan senyawa organik volatil terus menyebar mengikuti arah angin, menyebabkan keluhan gangguan pernapasan akut di kalangan masyarakat. Puskesmas dan klinik terdekat mencatat lonjakan pasien dengan gejala sesak napas, batuk kronis, iritasi mata, serta mual-mual. Anak-anak, lansia, dan penderita asma menjadi kelompok paling rentan terdampak paparan polutan ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang menyatakan pemadaman api di gunungan sampah setinggi 15 meter tersebut terkendala oleh sulitnya akses, minimnya sumber air, dan material sampah yang terus menyuplai gas mudah terbakar. Tim pemadam telah mengerahkan puluhan unit mobil tangki dan alat berat untuk membongkar tumpukan sampah guna memutus jalur oksigen yang menghidupkan bara di dalam timbunan.
"Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Asap mengandung dioksin dan furan dari pembakaran plastik yang bisa memicu kanker dalam jangka panjang. Kami meminta warga, terutama ibu hamil dan balita, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam keterangan resminya.
Sejumlah sekolah di Kecamatan Sepatan dan sekitarnya telah meliburkan kegiatan belajar mengajar selama tiga hari ke depan. Sementara itu, posko kesehatan darurat didirikan di balai desa untuk memberikan oksigen tambahan dan obat-obatan bagi warga yang mengalami gejala akut. Relawan dari berbagai lembaga kemanusiaan juga mulai mendistribusikan masker N95 dan alat pelindung diri kepada warga yang bertahan di rumah.
Data dari sensor kualitas udara yang terpasang di beberapa titik menunjukkan indeks standar pencemar udara (ISPU) menyentuh angka 350-400, jauh di atas ambang "sangat tidak sehat" yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Jika kondisi ini berlanjut tanpa penanganan yang tuntas, bukan hanya risiko penyakit pernapasan yang meningkat, tetapi juga potensi gangguan tumbuh kembang anak serta penurunan produktivitas masyarakat secara luas.
Hingga saat ini, tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup, TNI, Polri, dan masyarakat setempat masih berjibaku melakukan water bombing dan penyekatan lahan untuk mencegah api merambat ke pemukiman. Pemerintah daerah pun tengah menyiapkan skenario jangka pendek berupa relokasi sementara warga ke tempat pengungsian yang dilengkapi sirkulasi udara bersih. Berdasarkan laporan tim Beritatercepat.com, situasi di lapangan masih dinamis dan seluruh pihak diimbau untuk terus memantau perkembangan resmi dari otoritas terkait.
Comments (0)