Polri-Jurnalis Adu Padel, Perkuat Sinergi di Hari Bhayangkara ke-80
BARU SAJA: Suara bola padel yang beradu dengan keras memecah keheningan lapangan, namun bukan sebagai ajang permusuhan, melainkan simbol perpaduan dua pilar demokrasi. Kepolisian Negara Republik Indon...
BARU SAJA: Suara bola padel yang beradu dengan keras memecah keheningan lapangan, namun bukan sebagai ajang permusuhan, melainkan simbol perpaduan dua pilar demokrasi. Kepolisian Negara Republik Indonesia bersama puluhan jurnalis dari berbagai media nasional resmi menggelar Padel Bhayangkara Cup 2026, sebuah turnamen olahraga yang dirancang untuk merekatkan kembali jalinan komunikasi dan sinergi di tengah dinamika informasi yang kian deras. Acara yang menjadi puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini langsung menyedot perhatian karena mempertemukan para penegak hukum dengan para pemburu berita dalam format kompetisi yang sportif dan penuh keakraban.
Lapangan Hijau, Jalinan Emas
Bertempat di kawasan olahraga terpadu Jakarta, turnamen ini mempertemukan 16 tim campuran yang masing-masing terdiri dari perwira Polri dan wartawan. Tidak ada sekat institusi di lapangan; seorang Kasat Reskrim bisa satu tim dengan reporter kriminal, begitu pula seorang Kapolres berpasangan dengan jurnalis foto. Format ganda ini sengaja dipilih untuk menumbuhkan kerja sama instingtif di antara dua profesi yang sehari-hari kerap berinteraksi dalam ketegangan peliputan. "Di sini kami tidak bicara kasus atau press release, kami bicara strategi pukulan dan penempatan posisi. Ini cara manusiawi untuk saling memahami," ujar Kombes Pol. Andi Wijaya, salah satu koordinator acara, di sela pertandingan.
Lebih dari Sekadar Skor
Meski papan skor elektronik tetap mencatat angka, euforia kemenangan disambut dengan tawa dan tos alih-alih selebrasi berlebihan. Panitia justru menyiapkan trofi bergilir bertema persatuan yang akan diperebutkan setiap tahun sebagai simbol keberlanjutan program ini. Ketua Aliansi Jurnalis Independen yang turut hadir menegaskan bahwa inisiatif ini membuka jalur komunikasi baru yang lebih cair. "Kritik dan kontrol sosial tetap jalan, tapi di lapangan padel kami belajar bahwa di balik seragam dan kamera, ada manusia yang sama-sama ingin negeri ini baik," katanya. Momen paling berkesan terjadi ketika sebuah tim yang tertinggal justru mendapat tepuk tangan meriah setelah berhasil mengembalikan bola sulit—aksi yang disebut panitia sebagai cerminan kegigihan yang harus dimiliki kedua belah pihak.
Rangkaian Acara dan Warisan Bhayangkara
Turnamen yang berlangsung selama dua hari ini dibungkus dalam rangkaian acara yang lebih luas. Selain pertandingan, digelar diskusi ringan bertema "Pers dan Polri di Era Digital" serta klinik olahraga bagi komunitas sekitar. Kapolri dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia menekankan bahwa Padel Bhayangkara Cup bukanlah acara seremonial semata. "Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun trust. Hari ini kita memukul bola bersama, esok kita memukul isu-isu besar bersama dengan pemahaman yang lebih baik," tegasnya. Antusiasme peserta yang mencapai lebih dari 120 orang dari berbagai kesatuan dan redaksi menunjukkan bahwa pendekatan melalui olahraga mampu mencairkan sekat-sekat formal yang selama ini ada.
Keberhasilan penyelenggaraan ini mendorong rencana untuk menjadikan Padel Bhayangkara Cup sebagai agenda tahunan tetap yang akan digelar bergilir di berbagai kota. Harapannya, bola padel yang ringan itu bisa menjadi jembatan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar memorandum of understanding di atas kertas. Pertandingan persahabatan ini menjadi bukti bahwa detak jantung demokrasi tidak hanya bisa diselaraskan di ruang rapat, tetapi juga diiringi bunyi raket yang seirama.
Comments (0)