Petugas Publik Wajib Kuasai Bahasa Isyarat untuk Layanan Inklusif

Jakarta — Pemerintah daerah semakin serius mendorong inklusivitas di sektor pelayanan publik, dengan menekankan pentingnya kemampuan bahasa isyarat bagi se

Jul 12, 2026 - 16:51
0 0
Petugas Publik Wajib Kuasai Bahasa Isyarat untuk Layanan Inklusif

Jakarta — Pemerintah daerah semakin serius mendorong inklusivitas di sektor pelayanan publik, dengan menekankan pentingnya kemampuan bahasa isyarat bagi seluruh petugas garis depan. Langkah ini diyakini mampu memangkas kesenjangan komunikasi antara penyedia layanan dan masyarakat disabilitas, khususnya penyandang tuli. Setiap warga negara, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan layanan yang setara dan bermartabat, menjadi semangat utama di balik kebijakan tersebut.

Potret Kesenjangan yang Masih Lebar

Data menunjukkan jumlah penyandang disabilitas rungu di Indonesia mencapai lebih dari 2,5 juta jiwa. Namun realitas di lapangan, sebagian besar petugas layanan publik masih gagap saat berhadapan dengan warga tuli. Situasi itu kerap memunculkan ketergantungan pada komunikasi tulis yang acap kali terhambat perbedaan struktur tata bahasa Indonesia dan bahasa isyarat.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya papan informasi visual serta ketiadaan juru bahasa isyarat di kantor-kantor pelayanan. Akibatnya, warga tuli sering mengalami ketidaknyamanan, bahkan ada yang memilih tidak mengakses layanan publik sama sekali karena khawatir akan kesalahpahaman yang bisa berdampak fatal, terutama pada layanan kesehatan dan kepolisian.

Pelatihan sebagai Jawaban Konkret

Menjawab kebutuhan itu, sejumlah pemerintah kota dan kabupaten mulai menjalankan program pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk para petugas. Pelatihan ini tidak hanya mencakup pengenalan alfabet jari, melainkan juga gestur bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta pemahaman kultural komunitas tuli. Peserta diajak mempraktikkan langsung dialog-dialog sederhana seperti penyambutan, pertanyaan dasar identitas, hingga penanganan keluhan ringan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika setempat, dalam wawancaranya selepas membuka sesi pelatihan, menyampaikan harapannya:

"Kami ingin memutus rantai ketidaknyamanan. Setiap kali seorang warga tuli datang ke layanan publik, mereka harus disambut dengan senyuman ramah dan bahasa yang mereka pahami. Itu adalah hak dasar, bukan sekadar kemewahan."

Dampak Berantai Pelayanan Inklusif

Tak hanya soal administrasi kependudukan, kemampuan bahasa isyarat pada petugas juga mempengaruhi sektor pariwisata dan transportasi. Bayangkan seorang wisatawan tuli yang membutuhkan informasi rute angkutan umum; bila petugas mampu memberikan arahan secara visual dan gestural, pengalaman warga itu akan berubah total dari rasa frustrasi menjadi apresiasi mendalam. Efek domino inilah yang diyakini akan memperkuat citra kota ramah disabilitas, menarik lebih banyak kunjungan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.

Kolaborasi Komunitas Tuli dan Pemerintah

Kunci keberhasilan program ini terletak pada keterlibatan aktif komunitas tuli. Banyak lembaga swadaya masyarakat, seperti Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (GERKATIN), turut menyediakan pelatih berpengalaman. Mereka bukan hanya mengajarkan kosa kata, tetapi juga menjembatani perbedaan variasi isyarat antardaerah. Beberapa daerah bahkan telah menyusun kamus isyarat daerah sebagai panduan resmi petugas publik.

Di sisi regulasi, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas telah mengamanatkan kemudahan akses terhadap layanan publik. Namun implementasi di tingkat akar rumput sering kali terbentur anggaran dan prioritas daerah. Maka, advokasi yang terus-menerus—dari media, komunitas, hingga perguruan tinggi—sangat diperlukan untuk menjaga nyala isu ini di ruang kebijakan.

Cerita Sukses dari Lapangan

Di salah satu kelurahan di Kota Tangerang, langkah konkret sudah membuahkan hasil. Setelah tiga bulan mengikuti pelatihan intensif, petugas layanan administrasi kini mampu menangani permohonan KTP elektronik dan Kartu Keluarga milik warga tuli secara mandiri. Seorang warga tuli, sebut saja Bunga, mengaku tak lagi waswas saat harus mengurus dokumen kependudukan. "Sekarang saya datang sendiri, tidak perlu membawa keluarga sebagai penerjemah. Petugas langsung paham dan membantu dengan sabar," tuturnya dengan mata berbinar.

Cerita semacam itu tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi bukti bahwa investasi pada kemampuan nonteknis petugas publik menghasilkan dividen sosial yang tak ternilai. Dari sisi psikologis, kepercayaan diri warga tuli meningkat; dari sisi efisiensi, proses pelayanan menjadi lebih cepat dan minim miskomunikasi.

Urgensi di Era Digital

Transformasi digital yang kian deras seharusnya menjadi peluang, bukan hambatan baru. Sayangnya, banyak aplikasi layanan publik berbasis teks yang masih abai terhadap kebutuhan pengguna tuli. Fitur video call dengan bahasa isyarat atau tombol darurat berbasis gestur visual masih sangat langka. Padahal, teknologi bisa menutup celah bila dirancang secara inklusif. Para pengembang perlu menggandeng komunitas tuli sejak tahap desain, sehingga produk akhir benar-benar solutif.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sendiri tengah menggodok pedoman standar pelayanan inklusif nasional. Rancangan tersebut mewajibkan setiap unit pelayanan publik memiliki setidaknya dua orang petugas bersertifikat bahasa isyarat. Bila aturan ini terbit, maka permintaan pelatihan akan melonjak dan ekosistem layanan akan berubah wajah dalam beberapa tahun mendatang.

Langkah Kecil Menuju Masyarakat Setara

Menguasai bahasa isyarat bukan semata agenda birokratis, melainkan cerminan penghormatan terhadap martabat manusia. Setiap sapaan "Halo" dalam isyarat, setiap jari yang merangkai kata "terima kasih," adalah jembatan emas menuju masyarakat yang lebih adil. Bagi petugas publik, ini adalah keharusan moral yang tak bisa ditawar-tawar. Masyarakat yang benar-benar maju adalah masyarakat yang tidak menyisakan satu pun warganya dalam diam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User