Pendaki Remaja Karanganyar Tewas Jatuh ke Jurang Gunung Sumbing
BREAKING – Seorang pendaki remaja asal Karanganyar, Jawa Tengah, ditemukan tak bernyawa di dasar jurang sedalam 150 meter di kawasan Puncak Sejati, Gunung Sumbing, Temanggung.Korban adalah Dude Kurn...
BREAKING – Seorang pendaki remaja asal Karanganyar, Jawa Tengah, ditemukan tak bernyawa di dasar jurang sedalam 150 meter di kawasan Puncak Sejati, Gunung Sumbing, Temanggung.
Korban adalah Dude Kurniawan Pasha (17), pelajar asal Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Ia diduga terjatuh saat menuruni tebing sisi utara puncak setelah memisahkan diri dari rekannya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung, Totok Nursetyanto, mengonfirmasi temuan tersebut. Menurut dia, jasad korban terlihat tim pencari sekitar pukul 07.00 WIB, Minggu (23/8).
Fakta Kunci yang Dikonfirmasi
Lokasi kejadian: jurang kawasan Puncak Sejati, Gunung Sumbing, dengan kedalaman sekitar 150 meter.
Waktu penemuan: pukul 07.00 WIB, Minggu (23/8), dalam kondisi meninggal dunia.
Identitas korban: Dude Kurniawan Pasha, 17 tahun, pelajar dari Desa Gawanan, Colomadu, Karanganyar.
Rute pendakian: masuk lewat Basecamp Banaran pada Jumat (21/8) malam bersama dua rekannya.
Kronologi Pendakian Berakhir Tragis
Totok menjelaskan, korban mendaki bersama dua sahabatnya, Fatahilah (17) dan Rangga Dwi Arianto. Ketiganya tiba di basecamp Banaran pada Jumat (21/8) sekitar pukul 21.30 WIB menggunakan ojek.
Kondisi fisik ketiga remaja itu dilaporkan sehat dan layak mendaki. Setelah beristirahat sejenak, mereka memulai serangan puncak dengan sistem tektok pukul 23.30 WIB.
Perjalanan berjalan lancar hingga rombongan mencapai kawasan sabana. Di titik ini, Rangga memutuskan menghentikan pendakian. Ia lalu turun kembali ke basecamp bersama pendaki lain yang kebetulan satu jalur.
Dua orang sisanya, korban dan Fatahilah, meneruskan perjalanan menuju Puncak Sejati. Keduanya berhasil mencapai titik tertinggi tanpa kendala berarti.
Jalur Terpisah, Kabar Terputus
Masalah mulai tampak saat fase turun. Sekitar pukul 13.00 WIB, korban dan Fatahilah sepakat menempuh jalur yang berbeda.
Fatahilah mengikuti jalur umum para pendaki. Sementara korban memilih mencari jalan sendiri melalui tebing di bawah Puncak Sejati, tepatnya di sisi utara gunung.
Sejak titik itu, korban tidak lagi memberikan kabar. Hingga Sabtu malam, ia tidak kunjung muncul di basecamp Banaran.
Ketidakhadiran korban membuat pihak terkait bertindak cepat. Laporan resmi disampaikan kepada tim SAR gabungan untuk langsung melakukan pencarian.
Pencarian Malam, Penemuan Pagi Harinya
Tim gabungan segera bergerak menyisir jalur pendakian dan area tebing sisi utara. Proses pencarian berlangsung hingga larut malam.
Upaya itu membuahkan hasil pada Minggu pagi. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dasar jurang curam tersebut.
Proses evakuasi jasad kemudian digelar. Tim harus bekerja keras mengangkat jenazah dari kedalaman sekitar 150 meter.
Sekitar pukul 13.40 WIB, jenazah korban akhirnya tiba di basecamp Banaran. Dari sana, jasad dibawa turun menuju RSUD Temanggung untuk penanganan lanjutan.
Ciri Korban Saat Dievakuasi
Totok merinci ciri-ciri korban saat proses evakuasi berlangsung. Korban mengenakan pakaian serba hitam serta topi hitam dengan sedikit coretan warna putih.
Logistik yang dibawa korban juga berhasil diidentifikasi. Petugas menemukan dua roti merek Aoka dalam membawaannya.
Rincian tersebut tercatat dalam berita acara penemuan. Keluarga korban dilaporkan sudah menerima kabar duka ini.
Perkembangan Selanjutnya
Kasus ini kembali menyoroti risiko pendakian lewat jalur sendirian. Memilih rute alternatif tanpa pendamping dinilai sangat berbahaya, terutama di tebing curam.
BPBD Temanggung bersama instansi terkait masih melakukan pendataan lapangan. Kronologi lengkap jatuhnya korban akan dirinci usai pemeriksaan selesai.
UPDATE akan segera mengalir begitu hasil visum dan keterangan keluarga dirilis. Pantau terus Detik Ini Juga untuk info MENIT LALU.
Comments (0)