JAKARTA — Memasuki hari kedelapan, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima orang jurnalis serta tiga awak speedboat Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda masih belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan terus berjibaku mengerahkan seluruh armada untuk menyisir kawasan perairan terbuka di tengah tantangan alam yang berat.
Operasi kemanusiaan skala besar ini melibatkan ratusan personel lintas instansi demi menemukan keberadaan para korban yang hilang kontak sejak pekan lalu saat menjalankan tugas peliputan.
Penyisiran Meluas hingga 3.962 Mil Laut Persegi
Sekretaris Jenderal Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat, Galih Pradipta, mengonfirmasi bahwa tim gabungan telah memperluas radius operasi dengan membagi kawasan perairan menjadi lima sektor pencarian utama. Langkah ini diambil guna memaksimalkan cakupan pemantauan dari berbagai penjuru mata angin.
“Pencarian ke-8, hari ini tim SAR gabungan sudah melakukan penyisiran ke lima sektor pencarian laut. Total luas area itu sekitar 3.962 mil laut persegi,” ujar Galih dalam keterangannya.
Kekuatan personel yang dikerahkan terus bertambah seiring urgensi waktu operasi penyelamatan. Lebih dari 400 personel gabungan kini beroperasi secara terkoordinasi di lapangan, yang terdiri atas berbagai unsur kemaritiman dan relawan:
- Basarnas selaku koordinator komando operasi pencarian laut.
- TNI Angkatan Laut (TNI AL) dengan pengerahan kapal perang dan armada patroli.
- Ditpolairud Polri untuk penyisiran zona pesisir dan laut dangkal.
- Potensi Relawan SAR dan Nelayan Lokal yang mengenali karakteristik arus Selat Sunda.
Cuaca Buruk dan Kabut Tebal Menghambat Operasi Visual
Proses pencarian di lapangan menghadapi rintangan berat akibat dinamika cuaca ekstrem di kawasan Selat Sunda. Berdasarkan pemantauan langsung dari armada KN SAR Antasena, tingginya gelombang laut dan embusan angin kencang menjadi faktor penghambat paling krusial bagi tim penyelamat.
Selain turbulensi gelombang, keberadaan kabut tebal di atas permukaan laut secara drastis menurunkan jarak pandang (visibility) regu penyisir.
“Kondisi laut menjadi salah satu kendala utama. Ombak cukup kuat, angin kencang, dan kabut membuat jarak pandang terbatas sehingga pencarian visual sangat sulit dilakukan,” tutur Galih menambahkan.
Kronologi dan Langkah Strategis Operasi SAR
- Hari ke-1 hingga ke-3: Tim SAR memfokuskan penyisiran di titik koordinat terakhir kontak radio (last known position) speedboat Arupadhatu 1.
- Hari ke-4 hingga ke-6: Perluasan area pencarian menyusul pergerakan arus laut yang mengarah ke bagian selatan dan barat perairan Selat Sunda.
- Hari ke-7 dan ke-8: Pembagian lima sektor strategis seluas 3.962 mil laut persegi serta penguatan dukungan transmisi sinyal komunikasi laut dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi).
Hingga laporan ini diturunkan, seluruh elemen tim SAR gabungan masih bersiaga dan terus memantau setiap perkembangan informasi dari armada kapal laut maupun patroli udara. Komunitas jurnalis tanah air bersama keluarga korban terus menggelar doa bersama, berharap adanya titik terang terkait keberadaan delapan orang yang berada di kapal tersebut.
Comments (0)