DENPASAR — Musisi sekaligus pegiat budaya, Agung Wirasutha, resmi merilis karya musik terbarunya yang bertajuk ‘Nanem Karma Luwih’. Lagu ini menjadi istimewa karena lahir dari perpaduan antara refleksi spiritual dan pengalaman pribadinya saat menjalani proses sertifikasi antikorupsi di Jakarta. Dalam penggarapannya, Agung Wirasutha bertindak sebagai pencipta lagu sekaligus vokalis, berkolaborasi perdana dengan penata musik kenamaan, Ngurah Adi CK.
Karya ini bukan sekadar hiburan musikal biasa, melainkan media penyampaian pesan moral tentang hukum kausalitas atau sebab-akibat dalam kehidupan nyata. Melalui lirik yang kontemplatif, pendengar diajak menyadari dampak dari setiap keputusan yang diambil sehari-hari.
Kronologi dan Proses Kreatif di Balik Lagu
Proses terciptanya ‘Nanem Karma Luwih’ memiliki linimasa yang unik dan terhubung langsung dengan momen penting penguatan integritas sang musisi:
- Inspirasi Spontan di Jakarta: Gagasan awal lagu muncul secara tiba-tiba saat Agung Wirasutha terbangun dari tidur menjelang persiapan ujian sertifikasi Ahli Pembangun Integritas (API) di Lembaga Sertifikasi Profesi Komisi Pemberantasan Korupsi (LSP KPK) Jakarta.
- Kelulusan Uji Kompetensi: Setelah fokus menyelesaikan seluruh rangkaian penilaian dan dinyatakan kompeten oleh tim asesor KPK, Agung kembali membuka draf ide yang sempat tercatat.
- Penyempurnaan Lirik: Terinspirasi dari nilai-nilai integritas yang baru saja diujikan, ia mematangkan bait demi bait lirik hingga memiliki bobot filosofis yang utuh.
- Produksi dan Kolaborasi Perdana: Agung menggandeng Ngurah Adi CK untuk menyusun aransemen musik yang harmonis guna memperkuat pesan emosional lagu tersebut.
“Nanem Karma Luwih tercipta saat saya terbangun dari tidur sesaat akan mengikuti sertifikasi Ahli Pembangun Integritas di LSP KPK Jakarta. Tiba-tiba muncul ide di sela-sela persiapan sertifikasi,” ungkap Agung Wirasutha.
Filosofi Karma dan Nilai Integritas
Menurut penuturan Agung, lagu ini berakar dari kegelisahannya mencermati dinamika kehidupan modern, di mana manusia kerap melupakan konsekuensi dari setiap tindakan. Ia menekankan bahwa konsep karma tidak boleh dipandang secara sempit hanya sebagai bentuk kutukan atau vonis hukuman atas kesalahan masa lalu.
Lebih dari itu, ‘Nanem Karma Luwih’ (menanam perbuatan yang utama atau baik) dimaknai sebagai pengingat sadar bahwa segala sesuatu yang diproduksi oleh manusia—mulai dari pikiran, perkataan, hingga perbuatan konkret—pasti akan membuahkan hasil yang setimpal dan kembali kepada pelakunya.
“Yang kita tanam melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, pada akhirnya akan kembali kepada diri kita dalam bentuk akibatnya. Manusia diajak lebih sadar dalam menjalani kehidupan, bukan hanya memikirkan apa yang ingin diperoleh, tetapi juga apa yang telah disemai,” tegasnya.
Dengan hadirnya aransemen apik dari Ngurah Adi CK, karya ini diharapkan mampu menjangkau berbagai kalangan, khususnya generasi muda, agar senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran, etika, dan tanggung jawab moral dalam setiap langkah kehidupan.
Comments (0)