PayLater di Kalangan Mahasiswa: Kemudahan Finansial atau Jebakan Utang?
BARU SAJA — Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater kini menjadi pisau bermata dua bagi mahasiswa Indonesia. Di satu sisi, kemudahan ini membuka akses kebutuhan mendesak; di sisi lain, ancama...
BARU SAJA — Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater kini menjadi pisau bermata dua bagi mahasiswa Indonesia. Di satu sisi, kemudahan ini membuka akses kebutuhan mendesak; di sisi lain, ancaman jebakan utang mengintai mereka yang belum matang merencanakan keuangan.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lonjakan tajam pembiayaan PayLater. Per awal 2025, nilai outstanding mencapai Rp22,57 triliun, melonjak lebih dari 46% dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 24,44 juta rekening kini aktif menggunakan fasilitas ini, menandakan penetrasi masif ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa.
Kemudahan di Tengah Keterbatasan Mahasiswa
Bagi mahasiswa yang mayoritas masih bergantung pada kiriman uang saku orang tua atau pendapatan paruh waktu, PayLater kerap menjadi penyelamat. Buku teks kuliah, laptop untuk tugas akhir, atau perlengkapan akademik yang harus segera dibeli bisa diakses tanpa harus menguras kantong bulanan. Cukup dengan beberapa ketukan di aplikasi, barang tiba dalam hitungan hari, pembayaran bisa ditunda atau dicicil.
Lebih dari sekadar alat konsumsi, para pengamat menilai PayLater juga bisa menjadi sarana edukasi keuangan. Mahasiswa yang menggunakannya secara bertanggung jawab berlatih menyusun prioritas pengeluaran, mengelola arus kas, serta menghormati tenggat waktu pembayaran. Dengan kata lain, PayLater berpotensi membentuk disiplin finansial sejak dini, asal tidak disalahgunakan.
Risiko yang Tak Kunjung Peringatkan
Namun, kenyamanan instan ini menyimpan perangkap serius. Godaan untuk membeli barang di luar kebutuhan esensial—seperti tren fesyen terkini, gawai mahal, atau hiburan—sangat tinggi. Tanpa penghasilan tetap, mahasiswa rawan terjebak siklus utang. Tunggakan pembayaran nyatanya bukan sekadar aib administratif; bunga dan denda keterlambatan bisa membengkakkan tagihan secara eksponensial.
Survei lapangan menunjukkan, tidak sedikit mahasiswa yang mengaku kalap menggunakan PayLater hingga akhirnya kesulitan melunasi. “Awalnya hanya untuk beli voucher internet, eh tiba-tiba tagihan sudah sejuta sendiri,” ujar seorang mahasiswa di Jakarta yang enggan disebutkan namanya. Minimnya literasi keuangan membuat mereka tak menyadari bahwa PayLater adalah utang berbunga yang harus dilunasi, bukan uang gratis.
Pentingnya Literasi Finansial Sejak Dini
Pakar ekonomi mengingatkan bahwa inklusi keuangan harus diiringi literasi yang memadai. Kemudahan registrasi PayLater, yang sering hanya bermodalkan KTP, harus dibarengi pemahaman tentang manajemen utang. Kampus dipandang perlu menggiatkan edukasi keuangan, sementara platform penyedia layanan diminta lebih transparan soal suku bunga dan konsekuensi gagal bayar.
OJK sendiri terus mendorong penyedia layanan untuk memperketat verifikasi, terutama terhadap segmen mahasiswa yang belum memiliki sumber pendapatan jelas. Tanpa pengawasan, PayLater berisiko menjadi krisis keuangan mikro di generasi mendatang.
Fenomena ini adalah cerminan nyata: teknologi keuangan menawarkan solusi, tetapi hanya mereka yang bijak yang dapat memanfaatkannya tanpa terjerat. Bagi mahasiswa, pilihannya jelas—apakah PayLater menjadi tangga kemudahan atau jurang jebakan, sepenuhnya bergantung pada kecakapan diri mengendalikan keinginan sesaat.
Baca juga:
Comments (0)