Analis Perkirakan IHSG Sideways di Kisaran 5.800-6.000
BARU SAJA – Pasar saham domestik diproyeksikan bergerak dalam rentang sempit sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bertahan di level 5.800 hingga 6.000 setelah ditutup...
BARU SAJA – Pasar saham domestik diproyeksikan bergerak dalam rentang sempit sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bertahan di level 5.800 hingga 6.000 setelah ditutup menguat 0,20 persen ke 5.924,36 pada Jumat (10/7).
Sejumlah katalis global dan domestik diperkirakan menahan laju indeks. Dari sisi eksternal, memanasnya konflik Amerika Serikat dengan Iran menjadi sorotan utama. Ketegangan di Timur Tengah itu dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak mentah dunia, memicu volatilitas harga, dan berimbas pada ekspektasi inflasi global.
Fokus Pasar: The Fed, Data AS, dan China
Selain geopolitik, investor mencermati dimulainya musim laporan keuangan kuartal II 2026 bank-bank raksasa AS. Testimoni Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di depan Kongres pada 14–15 Juli juga dinanti. Pidato ini akan memberikan sinyal arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah ketidakpastian inflasi.
Pekan ini juga sarat data ekonomi AS: inflasi konsumen (CPI), indeks sentimen Michigan, penjualan ritel, dan data perumahan. Dari China, publikasi produk domestik bruto (PDB) kuartal II 2026, neraca perdagangan, produksi industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, hingga indeks harga rumah menjadi perhatian. Pasar akan mengukur apakah stimulus Beijing mampu mendorong pemulihan domestik.
Sentimen Domestik: Lelang SBSN dan Data BI
Dari dalam negeri, pemerintah menjadwalkan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 14 Juli dengan target indikatif Rp10 triliun. Lelang ini untuk menutupi sebagian pembiayaan APBN 2026 dan akan menguji selera investor asing terhadap utang Indonesia. Bank Indonesia juga akan merilis Statistik Utang Luar Negeri Mei 2026 pada 13 Juli, memberi gambaran ketahanan eksternal.
Rekomendasi Saham
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham ADRO, ADMR, BRMS, INCO, ARCI, dan SRTG. Emiten komoditas seperti ADRO, INCO, dan BRMS dinilai menarik karena harga komoditas yang stabil. ADMR dan SRTG memiliki fundamental kuat di sektor infrastruktur, sedangkan ARCI menawarkan valuasi atraktif.
Sementara MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas meskipun masih sideways di bawah moving average 20 hari. “Posisi indeks saat ini berada di wave b dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam, mengindikasikan potensi rebound teknis sebelum koreksi lebih dalam,” tulisnya. Level 5.800 menjadi support kunci, sedangkan resistance di 6.000.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, pasar saham Indonesia diperkirakan belum akan keluar dari mode konsolidasi. Investor disarankan selektif dan terus memantau rilis data penting sebagai pemicu pergerakan jangka pendek.
Baca juga:
Comments (0)