Pasar Saham Asia Anjlok Imbas Lonjakan Kasus Virus Corona
TOKYO – Pasar saham di Asia mengalami aksi jual besar-besaran pada Senin (10/2/2020) menyusul laporan China tentang lonjakan jumlah kasus baru virus corona
TOKYO – Pasar saham di Asia mengalami aksi jual besar-besaran pada Senin (10/2/2020) menyusul laporan China tentang lonjakan jumlah kasus baru virus corona. Seorang pria terpantau memandangi layar monitor yang menampilkan anjloknya indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, menggambarkan suasana kekhawatiran yang menyelimuti pelaku pasar.
Data resmi komisi kesehatan nasional China pada Senin menunjukkan terdapat penambahan 3.062 kasus baru, sehingga total kasus yang terkonfirmasi menjadi 40.171 kasus, dengan korban jiwa mencapai 908 orang. Lonjakan kasus ini terutama didorong oleh revisi metode diagnosis di Provinsi Hubei, yang mulai mengikutsertakan hasil CT scan sebagai alat uji, bukan hanya tes asam nukleat. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa penyebaran virus lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya.
Kronologi Aksi Jual di Bursa Asia
- Lonjakan Kasus di Akhir Pekan: Otoritas China pada Sabtu malam mengumumkan metode baru penghitungan kasus yang langsung menambah ribuan konfirmasi. Investor khawatir dampak karantina massal akan memperlambat perekonomian China secara signifikan.
- Pembukaan Pasar Tokyo: Indeks Nikkei 225 dibuka turun 0,8% dan terus melemah seiring sesi perdagangan. Saham-saham eksportir dan sektor pariwisata memimpin penurunan karena eksposur ke China.
- Pasar China Daratan dan Hong Kong: Shanghai Composite sempat menguat tipis di awal sesi setelah Bank Rakyat China menginjeksi likuiditas, namun berbalik ke zona merah dengan penurunan 0,4%. Sementara Hang Seng Index di Hong Kong turut merosot 0,6%.
- Pasar Seoul dan Sydney: KOSPI Korea Selatan anjlok 0,5% dipimpin saham-saham teknologi, sedangkan ASX 200 Australia turun 0,3% akibat tekanan pada sektor energi dan pertambangan.
- Penutupan Sesi Pagi: Hingga tengah hari, seluruh indeks utama Asia berada di wilayah negatif. Investor melepas aset berisiko dan beralih ke safe haven seperti yen Jepang dan obligasi pemerintah.
Dampak pada Sektor dan Sentimen Global
Sektor-sektor yang paling terpapar China menjadi korban utama aksi jual. Saham-saham maskapai penerbangan, perhotelan, ritel mewah, dan otomotif mencatat pelemahan tajam. Di Tokyo, saham Japan Airlines merosot 2,1%, sementara Fast Retailing, pemilik Uniqlo yang memiliki banyak gerai di China, turun 1,8%. Di Hong Kong, Geely Automobile anjlok 2,3% karena ketidakpastian permintaan.
“Revisi angka ini membuat pasar sadar bahwa penyebaran virus mungkin lebih besar dan pemulihan ekonomi bisa lebih lama dari ekspektasi semula. Adanya penundaan produksi dan gangguan rantai pasok akan terus membebani kinerja perusahaan,” ujar Yuki Tanaka, analis senior dari Mizuho Securities.
Kekhawatiran investor juga dipicu oleh berlanjutnya lockdown di puluhan kota di China yang menghambat aktivitas manufaktur dan perdagangan. Banyak pabrik terpaksa memperpanjang libur Tahun Baru Imlek hingga batas waktu yang belum ditentukan. Akibatnya, indeks keyakinan konsumen dan prospek pendapatan perusahaan-perusahaan besar pun dipangkas oleh para analis.
Langkah Stabilisasi dan Harapan Jangka Pendek
Di tengah tekanan, bank sentral China (PBOC) mengambil langkah cepat dengan mengucurkan likuiditas melalui operasi pasar terbuka, menginjeksi sekitar 900 miliar yuan (sekitar 129 miliar dolar AS) ke sistem keuangan. Langkah ini untuk memastikan perbankan memiliki cukup dana untuk menyalurkan kredit dan menopang bisnis yang terkena dampak wabah. Gubernur PBOC, Yi Gang, menyatakan komitmen untuk menjaga stabilitas pasar dan mendorong pemulihan ekonomi.
Pasar saham Jepang juga sedikit tertopang oleh pelemahan yen yang biasanya menguntungkan eksportir. Namun, sentimen negatif tetap mendominasi. “Investor global sedang menimbang dampak dari penutupan ekonomi parsial di China terhadap rantai pasok dunia. Ini bukan hanya soal epidemi, tapi risiko resesi manufaktur global,” tambah Tanaka.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tetap memantau perkembangan virus dan belum menyatakan sebagai pandemi, tetapi menyoroti tantangan besar bagi sistem kesehatan di banyak negara. Kekhawatiran meluas ke Eropa dan Amerika, meskipun pasar di sana belum sepenuhnya terpengaruh.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, analis memperkirakan volatilitas pasar akan berlanjut setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2020. Data ekonomi China yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan menjadi penentu arah selanjutnya bagi bursa regional maupun global.
[SOCIAL_TWEET]: Pasar saham Asia kompak anjlok setelah China laporkan lonjakan kasus virus corona. Nikkei 225 koreksi 0,7%, Hang Seng turun 0,6%. Investor khawatir dampak ekonomi meluas. #sahamAnjlok #coronavirus #ekoNoMi[SOCIAL_TG]: 📉 Pasar Saham Asia Memerah! Lonjakan kasus corona membuat investor panik. Nikkei, Hang Seng, KOSPI turun. Simak detailnya.
Comments (0)